
Aku terus berusaha menghubungi Arka namun ponselnya masih tidak aktif. Kekacauan mulai memenuhi otakku. Berkali-kali aku mengacak-acak rambutku namun pikiranku rasanya semakin kusut. Aku memberanikan diri untuk menelepon Bu Gendis tapi nyatanya mereka juga tidak tahu di mana Arka berada. Tidak lama kemudian Rayi datang dan berpamitan untuk berangkat ke butik namun melihat keadaanku yang kacau-balau Rayi memutuskan untuk berangkat sendiri dan memintaku untuk tetap tenang dan menunggu di rumah.
Setelah Rayi pergi, aku membuka laci dan mendapati kalau pasport Arka masih tersimpan rapi di sana. Ini berarti Arka tidak melakukan perjalanan ke luar negeri, aku lalu menitipkan Aahva pada Mbok Welas dan aku berangkat ke setiap cabang usaha bisnis Arka yang sering dia kunjungi tapi sudah hampir seharian tidak ada tanda-tanda keberadaan Arka. Kepalaku rasanya sangat pusing dan saat aku ke kamar kecil untuk buang air, aku baru sadar kalau aku mengalami flek lagi. Aku memutuskan untuk ke rumah sakit dan menemui dokter obsgyn langgananku. Dan ternyata aku terlalu banyak aktivitas dan mengakibatkan aku flek lagi. Aku kemudian menghubungi Rayi dan minta dijemput di rumah sakit.
"Bocah gendeng, bisa-bisanya kamu seegois ini dan mengabaikan bayimu," kata-kata itu yang keluar dari mulut Rayi saat pertama menemuiku.
"Aku lapar," hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
"Yawis, ayo golek mangan sek," kata Rayi sambil menghela napas panjang.
Nyatanya aku tidak berselera untuk makan namun aku berusaha memaksakan diri demi untuk anak yang ada di dalam rahimku. Arka, dimana kamu? Apa kamu sudah makan? Kok tiba-tiba kamu menghilang entah ke mana. Selesai makan aku mengajak Rayi untuk mampir ke butik Keysha. Ada bisnis yang harus dibicarakan walaupun nyatanya hari sudah menjelang sore. Ini masalah tender besar karena berhubungan dengan batik yayasan pendidikan terkenal jadi tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Selesai meeting dengan klien, aku kemudian berusaha menghubungi Arka lagi namun hasilnya masih nihil. Entah karena terlalu lelah atau aku sedikit lapar, pandanganku menjadi berkunang-kunang dan seketika semua terasa gelap.
...****************...
__ADS_1
"Hai yank, kamu baik-baik aja?" suara yang aku rindukan terdengar di telingaku.
"Mas, kamu ke mana aja? Seharian aku nyariin kamu," kataku dengan nada terisak.
"Aku nggak ke mana-mana. Kamu istirahat dulu aja ya," kata Arka sambil membelai lembut rambutku.
Tapi wajah Arka tampak pucat, apa mungkin dia kelelahan atau entahlah. Aku mendapati selang infus menempel di tanganku, dan aku berusaha untuk tidur. Aku berada di rumah sakit dan spontan tanganku ku letakkan di perutku. Aku baru sadar kalau Rayi juga berada ada di sini. Menurutnya aku terlalu aktif sehingga bukan lagi flek tapi aku mengalami pendarahan dan harus menjalani bedrest total dan kalau aku masih saja tidak mau menuruti saran dokter, aku bisa saja membahayakan diriku sendiri dan janin yang ada dalam kandunganku. Pikiranku menuju ke Aahva yang sudah ku tinggal seharian. Sejenak air mataku menetes. Kenapa aku bisa hilang akal, padahal Arka menghilang belum ada sehari.
"HP ku rusak yank," jawaban yang keluar dari mulut Arka kurang bisa meyakinkanku.
Bagaimana mungkin dia bisa mengabaikan ponselnya yang rusak padahal itu adalah hal yang penting untuknya. Terkesan alasan yang terlalu dibuat-buat karena tidak ada satupun yang tahu keberadaan Arka. Entah mengapa aku mendiamkannya seolah dia melakukan kesalahan besar, ngambek? manja? lebay? Terserah apa penilaian orang, aku berbuat nekad sampai membahayakan kehamilanku semua karena Arka.
"Kamu nggak ke desa, Ka?" tiba-tiba suara Rayi memecah keheningan.
__ADS_1
"Rencananya lusa baru nyusul Rinto, tapi Rinto berangkat kan?" tanya Arka dan membuatku terpancing untuk menyimak.
"Iya, sama orang kantor," kata Rayi.
Suasana hening kembali, aku mengambil ponselku yang tergeletak di nakas dan menghubungi Mbok Welas untuk menanyakan keadaan Aahva dan syukurlah seharian ini Aahva bersikap baik dan tidak rewel sama sekali. Mbok Welas malah mengomeliku karena kecerobohanku yang sangat membahayakan. Aku hanya mampu menghela napas dan berharap semua akan baik-baik saja.
"Siapa yang mengabari mu tentang keadaan Kasih? Seharian kan kamu menghilang," kata Rayi yang membuatku aku ikut bertanya.
"Tadi aku lihat kamu panik di IGD, lalu aku mencari info di customer service," jawab Arka.
"Terus mas ngapain di rumah sakit ini?" tanyaku sedikit galak.
Arka seperti orang yang tertangkap basah dan sulit mengungkapkan kebenaran. Dia hanya diam sambil menggembungkan sedikit pipinya, hal yang biasanya dia lakukan untuk mengatasi kepanikan. Sepertinya ada yang disembunyikan Arka dariku dan kalau itu benar adanya, pantaskah aku marah padanya?
__ADS_1