
Dengan sedikit ragu ku langkahkan kaki menemui ibunya Awan. Arka mengikuti langkahku dari belakang. Aku memberikan senyumku pada ibu Awan. Dia langsung berdiri saat aku sudah berada di depannya. Aku membuka pintu dan mempersilahkannya masuk dan duduk di ruang tamu namun dia menolaknya dengan senyum.
"Di sini aja ya, cantik," kata Ibu Awan dan aku tidak ingin memaksanya untuk masuk ke dalam.
Aku kemudian mempersilahkan ibu Awan untuk duduk. Arka ke dalam kemudian keluar dengan dua gelas lemon tea hangat.
"Aku tinggal ya, Kas." pamit Arka setelah meletakkan minumannya di meja.
"Kamu calon suami Kasih?" tanya ibu Awan kepadanya.
"Iya Tante," jawab Arka sambil tersenyum.
"Baguslah, bisa minta waktumu sebentar? saya juga harus bicara denganmu," kata Bu Awan dan membuat Arka tetap tinggal.
Setelah suasana yang hening, sampai ibu Awan menjelaskan tujuan kedatangannya. Beliau bercerita pada kami tentang bisnisnya yang sedikit goyang, semua ini karena menurutnya Awan tidak bisa fokus pada pekerjaan dan hanya sibuk mengurusku. Karena hal itu, berdampak juga pada ayahnya yang jadi sering terkena serangan jantung dan sering keluar masuk rumah sakit.
"Maaf Bu, semua ini tidak berhubungan dengan Kasih. Tinggal bagaimana Awan mengatur hidupnya aja," kata Arka membela diri.
"Iya, tapi kamu yang salah, kamu tahu Kasih itu pacarnya Awan, kenapa kamu mau saja dijodohkan dengan Kasih?" balas ibu Awan dengan nada penuh tekanan pada Arka.
"Maaf Bu, semua ini mutlak keputusan saya. Saya bisa saja menolak perjodohan ini tapi karena beberapa pertimbangan, akhirnya saya menyetujuinya," jawabku bukan untuk membela Arka tapi lebih kepada menegaskan keadaan sebenarnya.
Ibu Awan kemudian menceritakan bagaimana jeleknya nilai-nilai Awan saat SMA. Awalnya Awan sudah tidak ada niat untuk kuliah dan harusnya tidak lolos test saat masuk universitas namun karena keluarga mereka merupakan penyandang dana terbesar di universitas itu, sudah pasti sangat mudah bagi Awan untuk masuk ke sana.
Kemudian Awan kembali bertemu denganku dan sejak saat itu semangat Awan terpacu untuk bersungguh-sungguh kuliah dan mau belajar memimpin perusahaan keluarga mereka. Tujuannya dari awal hanyalah supaya bisa menjadi suami yang membanggakan untukku, yang bisa mencukupi semua kebutuhanku dan bisa membahagiakan aku. Memang Awan mengurungkan niat untuk memacariku dari awal karena Awan ingin menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menjadi calon suami terbaik untuk Kasih.
Setelah menjalani hubungan teman rasa pacar sekian lama, saat usia kami dianggap cukup untuk memulai rumah tangga, Awan kemudian menyatakan cintanya padaku sesegera mungkin menikahiku. Namun sayangnya, bapak menolak dengan alasan perjodohan yang sudah diatur oleh pihak keluargaku. Sebenarnya Awan tidak pernah tersinggung dengan keputusan itu karena bapak juga menolaknya dengan baik dan sopan serta pada saat itu aku juga sepertinya mau berjuang untuk hubungan kami.
Namun Awan mulai tidak karuan saat tahu orang yang dijodohkan denganku adalah Arka, seseorang yang dikenalnya dan sangat dipercayainya. Apalagi saat tahu kalau keluarga mereka juga adalah pesaing bisnis.
Awan mulai tidak fokus dengan pekerjaannya, setiap malam selalu pulang dalam keadaan mabuk, dia seperti kehilangan arah. Namun dia selalu berusaha untuk mendapatkan aku kembali karena dia tahu, dalam perjodohan ini tidak ada cinta dariku untuk Arka.
"Atas dasar apa kamu menerimanya?" tanya ibu Awan.
"Saya hanya ingin membahagiakan orang tua saya," jawabku dan tiba-tiba saja air mataku mengalir teringat bapak.
__ADS_1
Dengan berlinangan air mata aku lalu menceritakan bagaimana bapak yang walaupun dengan berat hati mulai setuju untuk tidak meneruskan perjodohan ini. Namun setelah itu bapak sering sakit parah sampai akhirnya ajal menjemputnya. Aku hanya ingin memenuhi keinginan terakhir ayah. Aku juga merasa semua akan baik-baik saja karena Arka juga sangat baik padaku.
"Kamu anak baik, Kasih. Mommy hanya mau memastikan kalau keputusanmu itu tidak salah. Mengenai Awan, biar jadi urusan mommy," kata ibu Awan sambil memelukku.
"Kamu jaga dia baik-baik, kalau kamu tidak sanggup membahagiakan Kasih, bilang ke saya," lanjutnya pada Arka.
Ibu Awan lalu pergi setelah sopirnya datang menjemput. Aku hanya mampu menatapnya tanpa tahu harus berkata apa. Ku kira dia akan marah besar seperti Awan yang emosian, ternyata dia sangat berbesar hati dan sangat lemah lembut.
"Kamu yakin kalau aku bisa menjagamu dengan baik kan?" tanya Arka saat ibu Awan sudah benar-benar pergi.
"Iya, aku tahu kamu orang baik," jawabku.
Agak lama Arka terdiam dan kemudian meminta minum segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Baik-baik ya Kas, kamu harus bahagia," kata Arka sambil menepuk lembut puncak kepalaku.
Aku menghela napas, entah kapan kisahku dan Awan akan usai. Sejujurnya aku sudah merasa cukup lelah dengan semua ini. Apalagi saat aku tahu hidup Awan menjadi berantakan karena aku.
"Tadi siapa Kas?" tanya Rayi yang sudah muncul di depanku.
"Bocah gendeng iki, bukan yang itu. Ibu-ibu yang tadi," kata Rayi sedikit gemes.
"Oh, mommy nya Awan," jawabku sambil menghembuskan napas.
Aku lalu menceritakan pada Rayi apa yang baru saja terjadi. Rayi yang biasanya berkomentar hanya diam, sepertinya dia tahu bahwa ini masalah yang berat. Sulit mencari solusi yang tepat untuk semua masalah ini. Dia juga merasa kasihan dengan ibu Awan.
"Tadi seharian kamu ke mana?" tanya Rayi mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Jalan sama Arka sama mamanya untuk persiapan pernikahan," jawabku.
"Mana belanjaannya?" tanya Rayi sambil matanya menyapu ke dalam rumah.
"Masih di rumah Arka. Aku ada seragam buat kamu. Masih bahan sih, nanti masukin aja di tempat Bu RT. Hasil jahitannya bagus kok." kataku dan disambut senyuman oleh Rayi.
...****************...
__ADS_1
Pak RT tampak sedang mencuci sepeda motornya dengan ekspresi datar dan terdengar suara Bu RT mengomel dari dalam rumah. Pak RT seolah mengabaikan suara hati seorang istri dan hanya menganggap itu hanya suara radio yang dinyalakan hanya untuk menghilangkan suasana sepi.
"Te, kalau masuk aman nggak?" tanya Rayi setelah Pak RT menyambut hangat kedatangan kami.
"Memangnya kenapa?" tanya Pak RT bingung dengan pertanyaan Rayi.
"Kekasihmu baru mengomel, kami kan hanya warga sipil, takut kena imbasnya Te," kata Rayi setengah berbisik pada Pak RT.
"Ooo..kekasihku itu baru latihan screaming, mau jadi vokalis heavy metal. Lha kamu mau ngapain dulu?" tanya Pak RT.
"Mau masukin jahitan," jawab Rayi sambil menunjukkan bungkusan berisi kain.
"Oh kalau mau ngasih kerjaan, aman. Nanti heavy metal bisa otomatis ganti nyinden yang menenangkan," kata Pak RT.
Aku dan Rayi kemudian masuk menemui Bu RT. Benar saja, seperti biasa Bu RT menyambut kami dengan tenang dan memasang senyum manisnya. Rayi lalu menyerahkan kain bahan beserta model yang didownloadnya dari internet.
"Dipakai kapan?" tanya Bu RT
"Sekitar sebulan lagi," jawab Rayi.
"Gampang lah itu, minggu depan juga sudah kelar ini," kata Bu RT
"Jadinya Mbak Kasih nikah sama Mas Arka?" tanya Pak RT yang entah sejak kapan sudah nimbrung.
"Iihhhh....Mas Arka itu putih, ganteng, anaknya baik lagi. Kalau saya masih perawan, saya mau sama dia," sela Bu RT
"Tukaran aja mbak, Mas Arka biar buat kekasihku, kamu sama saya. Saya yang penting istri bahagia, saya nggak papa. Ikhlas!," timpal Pak RT lagi yang disambut tawa oleh semua.
"Rugi di saya dong, Te." kataku mengimbangi. candaan ini.
"Sekalian saya mau ngurusin surat-surat Te. Kan KTP saya warga sini," kataku.
"Udah, pasrahin saja sama saya. Mbak Kasih tau beres gitu aja," kata Pak RT sambil menunjuk simbol OK dengan jarinya.
"Aduh, sebentar lagi di pingit dong," kata Bu RT menggodaku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum, waktu memang sangat cepat berlalu, rasanya semua seperti terjadi tiba-tiba. Sebentar lagi sudah dipingit dan kemudian menikah.