MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 64


__ADS_3

Arka lumayan lama di bawah. Aku sedikit tenang karena tidak ada suara keributan namun rasa penasaran memenuhi kepalaku. Perlahan aku turun dari kasur lalu berjalan pelan dan sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara berharap bisa seperti ninja Konoha yang sedang memata-matai.


Sangat aneh, suasana di ruang tengah benar-benar hening. Ada suara orang berbicara dan itu terdengar dari luar villa. Aku mencoba mengintip dari jendela dan hanya ada Pak Santo berbincang asyik dengan seorang bapak yang lainnya.


"Maaf, Pak Santo. Mas Arka ke mana?" aku keluar dan mencari informasi.


"Anu Mbak Kasih, pergi sama temannya tadi. Saya dipeseni buat jagain Mbak Kasih. Mbak Kasih butuh apa?" kata Pak Santo sambil membenahi sarungnya.


"Saya butuh suami saya pak," kataku sedikit berputus asa.


"Aduh, piye ya. Anu Mbak, saya nggak tahu Mas Arka ke mana. Mbok coba ditelpon nanti saya anterin nyusul," kata Pak Santo memberi ide.


Hah, beginilah aku yang selalu mengabaikan ponselku. Aku lalu kembali ke kamar untuk mengambil ponsel yang ternyata mati karena kehabisan baterai. Terpaksa aku menunggu dalam kecemasan selama beberapa menit untuk mengisinya.


Tiba-tiba pintu kamar digedor dengan keras disertai suara panik dari Pak Santo memanggil namaku. Aku bergegas membuka pintu dan melihat wajah panik Pak Santo yang kesulitan berbicara.


"Anu Mbak, Mas e itu, Anu..aduh kok jadi susah." Pak Santo masih berusaha menjelaskan.


"Ada apa Pak?" tanyaku mulai tidak sabar


"Anu, apa, itu lho Mas e abis dipukuli orang," kata PaK Santo akhirnya bisa menjelaskan.


"Sekarang Mas Arka mana?" tanyaku berteriak karena panik


"Anu, Mbak di ruang tamu," kata Pak Santo


Segera aku berlari menuju ruang tamu. Dan Arka Duduk bersandar di sofa di temani Sophie. Tangannya memegang pelipis. Aku sedikit lega karena Arka tidak sampai berdarah. Dia juga masih dalam keadaan sadar. Aku yang cemas lalu duduk bersimpuh di bawah.

__ADS_1


"Mas kenapa?" tanyaku sambil memegang kedua tangannya namun dia tetap diam.


"Tadi cek cok sama Awan, terus ditendang," kata Sophie yang juga terlihat panik


"Hah? Ditendang?! Kok bisa?" tanyaku mulai panik dan khawatir.


"Aku tadi telat menghindar, jadi kena," kata Arka sambil mengelus rahangnya.


"Iya, kena muka, terus Arka sampai jatuh" kata Sophie menambahkan.


"Tadi pas kena, apa yang kamu rasain?" tanyaku dengan mata yang sudah berembun


"Lucu yank, kayak di film-film. Sebelum black out, tiba-tiba semua kayak adegan slow motion gitu. Kemudian hening, tanpa suara, lalu NGINGGG, terus aku jatuh, semua jadi gelap tapi itu cuma sebentar," kata Arka sambil tersenyum dan memainkan rambutku.


"Nggak sebentar, Pak. lumayan lama, sekitar sepuluh menitan," kata Sophie.


Aku lalu membujuk Arka supaya dia mau beristirahat di kamar dan untunglah di menurut. Aku lalu memintanya untuk beristirahat dan tidur lalu aku menemui Sophie di ruang tamu. Dia sudah menunggu sangat lama. Tapi aku bisa apa, karena dia melakukan itu atas kemauannya sendiri. Dengan dua cangkir kopi panas yang menemani obrolan kami, aku jadi tahu kalau Sophie sangat berbeda dengan Chloe. Dia sangat sopan dan baik, cara bicaranya juga menunjukkan kalau di berpendidikan tinggi.


Sophie meminta maaf karena sudah membawa Awan ke sini. Awalnya Awan ingin ikut dengan alasan ingin mencari udara segar. Akhir-akhir ini Awan tampak sangat suntuk sehingga berimbas pada pekerjaannya sehingga Sophie setuju saja saat Awan ngotot ingin ikut. Sophie juga sudah tahu apa yang terjadi di kebun strawberry. Awalnya Awan mengajak Sophie ke sini untuk meminta maaf padaku namun Awan menjadi emosi saat Arka mengatakan bahwa aku tidak ingin menemuinya. Arka yang punya ide untuk mengajak Awan menyelesaikan semuanya di luar rumah karena tidak ingin terjadi keributan di dalam rumah sehingga menggangguku. Arka memang tahu sifat Awan yang sangat tempramental. Masalah memuncak saat Arka dengan baik-baik meminta pada Awan untuk menjauhiku sampai saat aku sendiri yang memutuskan kapan aku siap untuk menemuinya. Namun, Awan marah karena merasa kalau Arka tidak punya hak untuk melarang-larang dia. Namun Arka tetap pada pendirian kalau dia adalah suamiku dan dia yang bertanggungjawab penuh atas diriku.


"Bisa kamu pertemukan aku dengan Awan?" tanyaku yang membuat Sophie terkejut.


"Jangan Kas, nanti Pak Arka bisa marah," tolak Sophie cemas.


"Nanti biar aku jelasin ke dia," kataku meyakinkan Sophie.


Sophie lalu membawaku ke villa tempat mereka menginap. Terlihat Awan duduk dengan rambut acak-acakan dan Chloe sedang berusaha menghiburnya. Awan langsung berdiri dan menyambutku saat melihat kedatanganku. Sekilas ku lirik Chloe yang tampak tidak suka dengan kehadiranku.

__ADS_1


"Aku tahu pasti kamu mau menemuiku, Arka aja yang menghalang-halangi. Sok jagoan dia," kata Awan yang seketika membuat kupingku panas.


"Aku ke sini cuma mau bilang ke kamu. Berhenti menemuiku dengan alasan apapun dan jangan pernah lagi kamu menyentuh Arka. Kamu yang sok jagoan." kataku dengan intonasi yang tegas.


"Kamu pikir kamu siapa berani bicara begitu?" Chloe mulai ikut campur.


"Kamu yang nggak berhak bersuara di sini," aku membentak sambil menunjuk ke arah Chloe dan dia langsung tertunduk dan bungkam.


"Kasih, aku hanya ingin bersamamu," kata Awan dengan nada memelas.


"Kamu sadar nggak kalau semua yang kamu lakukan itu justru membuat aku semakin menjauh darimu dan membuat aku semakin dekat dengan Arka? Kamu salah tentang cinta, kita nggak akan pernah tahu dan bahkan tidak sadar saat cinta sudah tumbuh di hati," kataku yang sudah seperti skrip sinetron.


Aku lalu membalikkan badan dan menuju ke pintu. Awan menyusulku dan terus berusaha memanggilku. Saat aku melangkahkan kaki, terlihat Arka menungguku dengan senyumnya. Seperti anak yang melihat bapaknya yang baru pulang dari bepergian jauh, aku kemudian berlari dan memeluk Arka.


"Sudah selesai urusannya, yank?" tanya Arka lembut dengan tangan memeluk dan menepuk punggungku.


"Iya, aku mau pulang sama kamu," rengek ku manja padanya


"Kamu yakin? Beneran udah selesai? Tuh, Awan masih nungguin kamu," kata Arka sambil memonyongkan bibirnya menunjuk ke arah Awan.


"Udah, aku bener-bener udah nggak mau lagi berurusan sama dia, katanya kita mau honeymoon." kataku dengan nada protes.


"Ya udah ndan, kami pergi dulu ya," kata Arka yang kemudian menggandeng tanganku.


Aku tahu inilah yang terbaik. Semakin ke sini semakin aku tahu sikap buruk Awan yang temperamental, suka main tangan dan sering memaksakan kehendak. Sedikit bersyukur karena aku tidak melanjutkan hubungan dengannya.


Sesampai di rumah, aku membersihkan diri dan memakai baju tidur yang nyaman. Arka sudah lelap , pasti dia sangat lelah menghadapi hari ini. Perlahan ku kecup keningnya walaupun sedikit deg-degan karena khawatir dia terbangun.

__ADS_1


Ponsel Arka di atas nakas bergetar, siapa sih malam-malam telepon seperti tidak ada esok. Mataku terbelalak melihat nama yang muncul 'Komandan" dan aku tahu itu Awan. Mau apa lagi dia? Aku memberanikan diri untuk mengangkat telepon namun aku hanya diam, terdengar napas berat Awan yang memanggil Arka dengan kasar.


__ADS_2