
Hatiku berdebar kencang saat menunggu hasilnya. Aku mengucek mata berkali-kali dan memastikan kalau aku bisa melihat dengan benar. Detak jantungku rasanya berirama dangdut koplo, penuh euforia dan kebahagiaan. Akhirnya garis dua itu muncul. Aku segera berlari ke ruang kerja Arka di lantai atas sambil menunjukkan testpack padanya. Arka kemudian memeluk dan memberondong ciuman di pipiku sampai dia kehabisan napas. Aku lalu menelepon ibu untuk memberitahunya kabar gembira ini. Aku kemudian memberitahu ibu kalau aku akan pulang ke desa karena aku kangen tapi ibu melarangku demi menjaga kandunganku. Arka memintaku untuk menuruti kata-kata ibu. Ibu berjanji akan sering ke villa untuk menemui ku saat aku kangen. Arka kemudian menghubungi Pak Surya dan Bu Gendis dan banyak wejangan yang diberikan pada kami. Bu Welas paling menangis terharu saat kami memberitahu kalau aku sudah hamil. Bu Welas menyuruh kami ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut dan diberikan vitamin penambah darah yang sangat penting untuk ibu hamil. Bu Welas juga memberi daftar belanjaan seperti susu khusus ibu hamil dan juga daftar makanan bergizi untukku. Semua perhatian tertuju padaku dan kebahagiaan luar biasa aku rasakan.
...****************...
[Ra, dua garis] ketikku sambil diiringi emoticon tersenyum
"Mosok?!" nyaring suara Rayi yang langsung menelepon begitu chatku mengindikasikan double bluethick.
__ADS_1
"Kok kamu kayak nggak percaya gitu sih Ra?" tanyaku dengan nada ketus.
"Ah,sak karepmu Kas! Aku sudah bayangin suatu saat aku kerja terus kamu di rumah jagain anak-anak kita," kata Rayi untung saja dia tidak di depanku, kalau dia ada di sini pasti sudah ku jambak dia.
"Aku nggak ada cita-cita buka penitipan anak," jawabku dan diiringi tawa renyah kami berdua.
Lama kami berbincang tentang kehamilan kami masing-masing. Rayi juga bercerita betapa mualnya saat mengkonsumsi suplemen penambah darah namun harus tetap diminum yang menurut Rayi sebaiknya diminum malam sebelum tidur supaya tidak terlalu terasa mual. Banyak masukan atau saran yang diberikan Rayi karena menurutnya dia lebih berpengalaman daripadaku. Ku turuti saja kata-kata Rayi yang menurutku sesuai dan cukup masuk akal.
__ADS_1
...****************...
Pada proses kehamilan trimester ketiga, aku memasuki bulan-bulan mendekati persalinan. Rahimku membesar mendorong diafragma pernapasan, sehingga aku mulai merasakan sesak napas. Pergelangan kaki, tangan, kaki, dan wajah mungkin membengkak karena tubuhnya menahan lebih banyak cairan dan sirkulasi darahnya melambat. Aku buang air kecil lebih sering karena ada tekanan pada kandung kemih, serta sering sakit di daerah pinggul dan panggul. Pusarku terlihat menonjol dan aku mulai kesulitan tidur.
Saat di USG dokter mengatakan bahwa bayiku laki-laki dan Arka sangat bahagia dan membayangkan bisa bermain bola atau mabar game online dengan anaknya.
Pada suatu pagi, bayiku terasa aktif bergerak. Aku mulai mengalami kontraksi yang bisa menjadi tanda persalinan nyata. Arka lalu membawaku ke rumah sakit. Arka diizinkan untuk berada di ruang bersalin untuk menemaniku. Dokter memeriksa rutin pembukaan dengan pemeriksaan ****** saat mendekati persalinan dan terjadi kontraksi yang teratur serta keluarnya cairan bening, berwarna merah muda atau sedikit berdarah dari ******, menurut dokter, serviksku membesar dari 6 cm sampai menjadi 10 cm. Kontraksi menjadi lebih kuat dan aku merasakan ketuban pecah dan mengalami peningkatan tekanan di punggung. Dokter telah memeriksa semua persiapan dengan baik, Aku memasuki proses melahirkan. Arka di sampingku menggenggam tangannya. Dokter memintaku untuk mengejan dalam proses melahirkan. Saat mengejan, aku berusaha tetap tenang. Setelah bayi berhasil dilahirkan, aku terus mengalami kontraksi ringan. Aku diminta untuk mengejan sekali lagi untuk mengeluarkan plasenta. Arka menangis tiada henti sambil memelukku. Dia terlihat lemas namun rona bahagia terpancar dari wajahnya. Arka meminta maaf kepadaku karena di merasa telah membuatku menderita, dengan susah payah saat hamil sembilan bulan lebih dan merasakan kesakitan yang luar biasa saat melahirkan anaknya.
__ADS_1
Dokter menepuk pundak Arka dan memberi ucapan selamat pada kami berdua, dan seorang dokter anak meletakkan bayinya di atas dadaku. Pemandangan yang sangat indah. Aku mempertaruhkan nyawaku hanya untuk melahirkan nyawa baru di dunia ini, dan itu adalah anakku yang sepakat kami beri nama Aahva Zeno Aryasatya. Awalnya aku protes pada Arka mengingat saat sekolah nanti Aahva pasti akan mendapat nomer absen satu. Tapi Arka malah ketawa karena selama ini dia juga selalu mendapatkan nomer absen pertama.
Ibu, Bu Gendis dan Pak Surya menjengukku di rumah sakit. Mereka sangat bahagia atas kehadiran cucunya, apalagi ibu, ini adalah cucu pertamanya. Ibu terus memintaku minum air putih yang banyak dan mengkonsumsi makanan bergizi agar ASI ku keluar dengan banyak. Ibu berjanji akan memasakkan sayur bening daun katuk untuk memperlancar ASIku. Aku juga menelepon Rayi untuk memberitahunya kabar gembira ini tapi belum selesai bicara. Rayi malah ribut berebutan ponsel dengan Ade, anaknya yang sudah berusia sembilan bulan lebih yang rewel usai imunisasi dan sudah mulai belajar berjalan. Aku mengakhiri panggilan karena ini sudah saatnya meng-ASI-hi Aahva. Menurut dokter anak, bayi harus diberi ASI setiap dua jam sekali. Aku sangat bahagia dan itu mempengaruhi ASIku yang terasa banjir dan Aahva minum sampai terbatuk-batuk. Bayi mungil yang hidup di rahimku selama sembilan bulan lebih dan kini dia hidup dari ASIku. Aku ingin Aahva memanggilku dengan sebutan ibu dan Arka ingin dipanggil dengan sebutan ayah. Semoga denga kehadiran Aahva, bisa menambah kebahagiaan keluarga kecilku.