
"Hai, Sophie, lama ya nunggunya?" tanya Arka sambil mengulurkan tangan.
Anehnya, Arka hanya menyapa dan peduli pada Sophie seolah Chloe tidak ada di sana. Sophie kemudian menjabat tangan Arka lanjut berjabat tangan denganku sedangkan Chloe hanya duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tamu yang sangat aneh, sangat tidak menghormati tuan rumah. Lalu untuk apa dia ke sini? Bahkan saat Sophie sibuk mempresentasikan proposal kerjasama, Chloe malah sibuk dengan ponsel dan nail art yang memang bagus, tapi untuk apa punya kuku bagus kalau kelakuannya seperti itu. Dia bahkan tidak peduli walau tidak diajak berinteraksi sama sekali.
Tiba-tiba Chloe meletakkan ponsel yang sedari tadi menyita perhatiannya. Dengan sombongnya dia melihat ke arah Sophie sambil menghela nafas.
"Kapan sih selesainya? Masak gitu aja nggak bisa?" protesnya ke Sophie.
"Emangnya kamu mampu? Semua ini berantakan gara-gara siapa? Siapa juga yang menyuruh kamu ikut ke sini?" kata Sophie tidak kalah galak.
Sophie lalu meminta maaf dan demi kenyamanan, Arka mengusulkan untuk pindah ke ruang meeting dan usulan diterima oleh Sophie. Arka mengajakku untuk ikut dan aku menolak, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di luar kantor supaya tidak jenuh menunggu namun baru saja akan melangkah ke pintu langkahku terhenti.
"Enak yang jadi nyonya besar, udah nggak mikir cicilan KPR, nggak mikir besok makan apa, mau apa-apa tinggal bilang, nggak perlu bangun pagi-pagi, macet-macet kejar-kejaran supaya nggak telat, nyaman banget hidupmu," kata-kata Chloe jelas menyindirku.
"Maaf, kamu ada masalah apa ya?" tanyaku dengan nada sinis.
Kenapa tadi dia diam saja dan sekarang setelah semua pergi, dia mulai mencari masalah denganku. Sepertinya dari awal dia memang sudah mengincar ku. Aku membalikkan badan dan memandang ke arahnya yang lagi-lagi sibuk dengan kukunya. Rasanya pingin ku potong saja kukunya atau ku garukan ke wajahnya sendiri. Selalu saja otak psikopat ku berjalan dengan baik dan lancar. Kalau ku turuti, bisa-bisa terjadi tindak kriminal.
"Seharusnya aku yang tanya, kamu punya masalah apa sama aku? Dulu Awan, sekarang Arka. Semua kamu rebut dariku," kata Chloe yang membuatku geli.
Aku diamkan saja dia dan aku lebih memilih untuk berlalu pergi. Dari dulu juga aku malas untuk menanggapi ocehan Chloe yang sama sekali nggak penting dan tidak bermanfaat sama sekali. Tidak baik untuk kepribadian dan tidak ada faedahnya untuk perekonomian negara. Lihatlah, gara-gara Chloe pikiranku jadi melantur ke mana-mana. Tiba-tiba Chloe menarik rambutku dari belakang dan membuat langkahku terhenti karena aku hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Kamu sudah gila ya?" kataku dengan suara sedikit tertahan supaya aku tidak berteriak karena banyak mata yang saat itu tertuju pada kami.
"Berani-beraninya kamu mengabaikanku seperti itu. Kamu pikir kamu siapa?" kata Chloe.
"Kamu pikir kamu siapa berani kasar ke istriku?" kata Arka sambil menyingkirkan tangan Chloe dariku.
__ADS_1
Arka sangat marah karena merasa dipermalukan di tempatnya sendiri. Dia memanggil security untuk membawa Chloe pergi dari tempat ini. Sophie terus memohon maaf tapi Arka menolak bahkan membatalkan untuk menandatangani kontrak kerjasama di antara mereka.
"Pak Arka, tolong. Chloe nggak ada sangkut pautnya dengan kerjasama ini," Sophie masih memohon.
"Saya sudah berusaha membuka kesempatan, tapi maaf sepertinya kita memang tidak cocok untuk kerjasama. Mungkin terdengar tidak profesional tapi saya harus nyaman dengan siapapun yang bekerjasama dengan saya," kata Arka sangat tegas dan berwibawa.
"Bagaimana kalau next kita bicarakan lagi dan saya tidak akan mengajak Chloe lagi," kata Sophie masih berusaha.
"Maaf Sophie, itu sudah jadi keputusan saya," kata Arka tetap teguh menolak.
Arka lalu menggandengku dan membawaku pergi dari sini. Aku merasa tidak enak pada Sophie, kasihan. Pasti Sophie sudah berusaha keras untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan Arka. Ini juga tidak adil bagi Sophie, hanya karena tingkah norak Chloe, dia yang terkena imbasnya.
"Apa nggak sebaiknya dipisahkan antara urusan Chloe dan Sophie?" aku berusaha memberi masukan pada Arka saat kamu sudah berada di mobil.
"Dalam perusahaan mereka, Sophie dan Chloe punya andil yang sama. Jadi kalau kita kerjasama dengan Sophie, Chloe pasti ikut walaupun akhirnya yang kerja hanya Sophie," kata Arka yang membuatku otakku menjadi ruwet karena belum paham dengan dunia mereka.
"Bayangin Kasih, dengan bajunya yang sedikit terbuka, dia malah duduk di pangkuanku, merayu aku dan tiba-tiba dia mencium pipiku, aku ternoda, aku kotor," kata Arka dengan berpura-pura terisak.
"Mas, bisa nggak biasa aja?" kataku sambil tertawa melihat tingkah lucu Arka.
"Tapi, Chloe beneran melakukan itu. Gila dia itu." kata Arka sambil sedikit bergidik.
Memang benar Chloe gila, tapi aku nggak menyangka dia senekat itu. Ya, memang dia terkesan mengejar lelaki yang dia inginkan bahkan melakukan segala cara walaupun nyatanya selalu gagal, tapi otakku masih belum bisa membayangkan dia sampai melakukan tindakan tidak terpuji seperti itu. Dia pikir, kalau Arka tergoda oleh dirinya kemudian semua kerjasama bisa berjalan lancar atau bagaimana? Dan semudah itu dia menawarkan diri pada lelaki lain padahal dia mengaku sangat menginginkan Awan. Aneh saja jika itu dilakukan dari seseorang dari keluarga yang kaya dan terhormat.
Ternyata Arka membawaku kembali ke apartemennya, dia ingin berganti baju terlebih dahulu. Ternyata di apartemen ini ada seorang ART yang dua atau tiga hari sekali datang untuk bersih-bersih dan mencuci semua pakaian Arka. Namanya Mbok Welas, seorang wanita paruh baya yang sangat lucu dan ceria. Saat kami tiba di sana, kebetulan Mbok Welas baru saja selesai mengepel dan akan membersihkan karpet namun vacuum cleaner nya ternyata rusak. Hebatnya, ternyata Arka bisa memperbaikinya.
"Aturan, bersihin karpet dulu baru di pel. Ginikan bisa kotor lagi," kata Arka menggurui.
__ADS_1
"Debunya nggak jatuh, nanti masuk mesin semua. Sekalian si mbok mau nonton FTV. Udah si mbok atur jamnya," kata Mbok Welas sambil tertawa.
"Suka-suka si mboklah, yang penting si mbok happy," kata Arka sambil menggandengku menuju ke kamar.
"Lho..lho..lhoo..ini to istrinya? Ealah, pantesan Dik Arka ngebet, uayune ngadi-adi kayak pemain FTV kesukaan si mbok," kata Mbok Welas yang sepertinya baru saja menyadari kehadiranku.
"Iya dong mbok, masak gandeng istri orang lain?" kata Arka yang terus menarikku ke kamar dan aku hanya sedikit menunduk dan tersenyum pada Mbok Welas.
Mbok Welas sudah lama bekerja dengan keluarga Pak Surya sejak Arka masih kecil. Awalnya dia hanya bertugas merawat dan menjaga Arka. Babysitter lah. Dia sudah seperti bagian dari keluarga mereka, awalnya Arka sudah memberikan pesangon untuknya karena sepertinya Arka sudah tidak membutuhkan tenaganya lagi, namun semua uang itu malah dikembalikan dan berharap masih bisa bekerja dengan keluarga Pak Surya dan di sinilah dia berakhir.
Arka selesai berganti pakaian, dengan kaos oblong dan celana taktikal pendek. Aku membuka gorden dan memandang keluar jendela menatap pemandangan gedung yang tinggi dan hiruk-pikuk kota ini. Pasti indah saat malam hari dengan lampu yang menghiasi.
"Boleh aku peluk?" tanya Arka yang sudah berdiri di belakangku.
"Lain kali nggak perlu nggak perlu izin, ini tidak mungkin bisa ku hindari, lama-lama aku akan terbiasa," kataku pasrah.
Aku harus memenuhi komitmen ku untuk sungguh-sungguh membangun rumah tangga ini. Istri mana yang terus menerus menolak bermesraan dengan suaminya sendiri? Mungkin awalnya akan sedikit canggung tapi seiring berjalan waktu, semua akan baik-baik saja. Arka melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Mau pose ala-ala Titanic nggak?" kata Arka yang membuatku tersenyum.
"Ngapain?" kataku sambil menggelengkan kepala dan Arka malah tertawa serta mempererat pelukannya.
"Minggu depan kita pindah ya, mulai hidup baru. Boleh ya ngajak Mbok Welas. Biar dia yang beresin rumah, dia juga yang masak," kata Arka.
"Aku kan bisa ngerjain itu semua," kataku walau sebenarnya aku nggak keberatan kalau Mbok Welas ikut dengan kami.
"Jangan, nanti tiap hari kamu masaknya oseng kangkung," kata Arka sambil tertawa dan aku menyambut tawanya.
__ADS_1
Ya, mungkin di tempat baru aku bisa lebih membuka diriku lagi pada Arka. Mulai hidup baru sebagai Nyonya Arka Aryasetya.