
Aku berusaha memundurkan wajahku dan menutup erat mataku, tanganku ke letakkan di dada berusaha menutup diri. Aku tidak menyangka Arka akan bertindak seperti ini. Mungkin dia tersinggung dengan pembicaraan kami tadi dan untuk membantah kata-kata ku, dia berusaha membuktikannya sekarang. Ingin aku minta maaf dan berteriak tapi rasanya suaraku tertahan di tenggorokanku. Arka kemudian meniup mukaku dan tertawa sambil mundur menjauhiku.
"Mukamu lucu, takut ya kamu diapa-apain?" kata Arka yang sudah duduk dan menjaga jarak dariku.
Aku tertunduk sangat malu dan berusaha menata posisi dudukku. Dalam hati menyalahkan Rayi, padahal aku sendiri yang salah karena mudah dikompori oleh Rayi. Seketika aku blank tidak tahu harus bicara apa atau tindakan apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
"Aku sudah bilang ke Awan kalau aku akan menjagamu, nggak mungkin aku macem-macem, kamu itu ibarat permata yang harus aku jaga baik-baik, jangan sampai lecet, retak apalagi pecah," kata Arka sambil memakai lagi jaketnya.
aku masih malu, tidak berani menjawab satu kata pun, seperti terjebak di permainan sendiri.
"Siapa sih yang ajarin kamu?" Arka bertanya masih tersenyum geli.
"Rayi," jawabku spontan.
"Oh, kalau itu pemikiran Rayi sudah betul. Kalau kamu nggak mungkin," kata Arka dengan santai
"Enak aja seolah-olah aku yang jahat, Kasih yang jadi korbannya" kata Rayi keluar dari persembunyiannya.
"Aku tahulah Kasih itu nggak pernah punya pikiran aneh seperti itu, dia itu percaya orang apa adanya, lurus," kata Arka yang sempat kaget dengan kemunculan Rayi yang sangat tiba-tiba.
Dalam hati ada setuju pertanyaan, aku akan menikah dengan Arka, tapi kenapa dia masih membawa janjinya pada Awan untuk selalu menjagaku. Sebenarnya dia menikah demi siapa? Dia sangat peduli padaku, tapi apa ada cinta di hatinya untukku? Apakah bisa rumah tangga berjalan tanpa cinta? Cintaku masih dibawa pergi oleh Awan, dan cintanya Arka entah untuk siapa.
Arka kemudian memberitahu tujuannya datang ke sini. Karena kami sudah memilih baju pengantin, sekarang dia ingin mengajakku memesan cincin pernikahan. Dia punya teman yang memang khusus menerima pesanan cincin.
"Beli langsung jadi aja, Ka," kataku menolak karena untuk pesanan khusus pasti lebih mahal dan prosesnya lumayan lama.
"Ya pesan aja, biar ukurannya pas dan aku berharap buatku ini sekali dalam seumur hidup," kata Arka yang membuatku berpikir lagi.
Ini sangat aneh, Arka berharap kami menikah sekali seumur hidup tapi dia sendiri masih membawa-bawa nama Awan dalam kisah kami.
Akhirnya mulut Rayi juga yang memaksaku untuk menyetujui permintaan Arka. Namun Rayi menolak saat diajak untuk ikut dan karena aku juga masih merasa lelah akhirnya aku putuskan untuk berangkat besok saja.
__ADS_1
...****************...
Arka memperkenalkan aku dengan Malvin, pria berdarah Tionghoa yang memiliki toko emas ini. Malvin memberikanku katalog dan memintaku untuk memilih. Aku mulai bingung dengan banyak model yang ada di katalog karena menurutku semuanya terlalu bagus. Ada banyak yang terlihat sangat mewah padahal aku ingin yang sederhana tapi manis. Ada satu model dengan permata kecil di tengahnya, namun itu harganya bikin kepalaku mendadak pusing. Aku sampai takut menghitung berapa nol yang tercantum di situ.
"Kamu ingin cincin yang bagaimana, kamu gambarkan aja biar dibikinin," kata Arka sambil menatapku tersenyum.
"Aku bingung, Ka," kataku sambil terus membolak-balik katalognya.
"Pasti kamu punya kan impian pingin pernikahan seperti apa, cincin yang gimana? Ya, walau pernikahan kita bukan impian kamu," kata Arka yang sedikit membuatku sedih.
"Aku inginnya cincin yang sederhana, ada ukiran inisial namaku dan suamiku di situ, dan ukirannya itu di bagian luar, nggak di dalam," kataku berusaha menjelaskan.
"Pakai berapa diamond?" tanya Arka
"Nggak perlu pakai," jawabku singkat.
Arka lalu menjelaskan keinginanku pada Malvin dan Malvin menggambarkan persis seperti yang aku inginkan.
"K-A ajalah," kata Arka mengoreksi.
"Kebalik dong boss," kata Malvin mencoba memberi masukkan.
"Kalau aku ladies first, Jadi inisial K.A, Kereta Api," jawab Arka sambil tersenyum.
"Serius dong," desak Malvin.
"Iya serius, K.A. Aku ingin mendahulukan perempuanku," jawab Arka.
"Ya, masuk kategori romantislah," jawab Malvin.
Aku biarkan Malvin dan Arka mengobral dan aku melihat-lihat perhiasan yang lain. Lama aku tersenyum melihat sorot gelang yang indah. modelnya seperti rantai kecil dan ada huruf 'K' dan lonceng kecil yang mungkin berbunyi saat digerakkan. Tapi aku mundur saat melihat harganya, karyawan pabrik sepertiku butuh waktu untuk bisa memilikinya. Hampir seharga 2 buah sepeda motor. Aku dengan jiwa kere ku yang meronta-ronta hanya mampu terpesona lalu menggeleng kan kepala saat tau harganya.
__ADS_1
"Masih ada yang kamu mau?" tanya Arka yang sudah berada di sampingku.
"Ngisi waktu aja sambil nunggu kalian selesai ngobrol. Sudah?" jawabku menutupi kekatrokanku yang dijawab dengan anggukan kecil oleh Arka.
"Pergi yuk, kamu mau digandeng nggak? Tanganku nganggur nih," kata Arka sambil menunjukkan tangan telapak tangan kanannya.
"Apa sih? Nggak usah ah," kataku sambil menepis tangannya.
"Ya takutnya kalau nggak digandeng kamu hilang," kata Arka yang kemudian berjalan mendahuluiku.
"Nggak mungkin hilang, kayak anak kecil aja pakai acara hilang," kataku sambil berjalan kurang lebih satu langkah di belakangnya.
"Nanti kamu ingin ku gandeng tapi aku nggak peka malah dikatai Gay?" kata Arka lagi sambil tertawa lepas.
"Ih, kamu dendam ya?" kataku masih merasa bersalah sekaligus malu dengan kejadian itu.
Arka mengajakku berkeliling melihat permata dan berlian yang ada di pameran. Aku hanya mampu menelan air liur melihat harganya yang menurutku fantastis dan di luar nalar. Astaga, berarti bisa saja cincin yang kami pesan tadi berharga mahal juga. Kalaupun iya, tidak mungkin aku membatalkannya karena Arka pasti menolak karena tidak enak hati dengan Malvin.
"Ka, cincinnya pasti mahal ya?" kataku berbisik pada Arka.
"Nggak penting, yang penting kamu suka, sesuai dengan keinginanmu," kata Arka sambil berjalan dengan kedua tangan di kantong hoodienya aku harus setengah berlari untuk mengikuti langkah Arka yang cenderung lebih cepat.
"Arka, kamu ngerjain aku ya?" kataku saat Arka semakin mempercepat langkahnya dan dia malah tertawa. Aduh Arka iseng dan jahil banget. Demi apa coba membuatku bersusah payah seperti ini.
"Ya kan tadi aku sudah bilang, kalau nggak digandeng bisa hilang. Kamu itu nggak bisa mengimbangi langkahku," katanya saat berhenti dan tertawa melihatku yang sudah mulai cemberut.
Perlahan aku berjalan mendekatinya dan menunjukkan wajah asliku tanpa berusaha jaim lagi.
"Ya kan kita bisa jalan santai, ngapain kamu buru-buru? Sakit perut?" kataku mengomelinya dan membuat tawanya semakin lepas.
"Kasih? Ngapain di sini?" tiba-tiba suara perempuan yang paling ku benci mampir di telingaku.
__ADS_1
Mengapa saat-saat seperti ini pun aku harus bertemu dengan Chloe yang pasti akan menrendahkanku.