
Aku mulai stalking dan mengamatinya. Sepertinya itu memang dia. Aku terus membandingkannya dengan foto yang ada di ponselku. Hanya nama Tandri yang tertera dan foto kelulusan sekitar dua tahun yang lalu. Dia juga menjual pakaian distro secara online dan di sana tertera nomer ponsel yang bisa dihubungi. Aku segera memasukkan nomer itu ke dalam daftar kontakku. Tapi sebelumnya aku hari menanyakan dulu pada Fiona, apa dia mengenal Tandri ini secara baik atau hanya sekedar teman yang secara kebetulan benar-benar kenal di dunia maya. Tapi nomer ponsel Fiona berada di luar jangkauan padahal semalam tidak ada masalah sama sekali.
"Gimana?" tanya Rayi dengan wajah penasaran.
"Kak Fiona nggak bisa dihubungi," kataku sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa nggak hubungi Tandri aja langsung?" desak Rayi tidak sabar.
"Terkesan terlalu mendadak, kita juga harus ngulik dulu dari sisi lain," jawabku tenang walaupun sebenarnya kepalaku terasa penuh.
"Bocah gendeng iki, ada cara cepat sukanya berbelit-belit," kata Rayi sambil menoyor kepalaku.
"Bukan gitu, Ra. Terus kalau ketemu mau bilang apa?" tanyaku mulai gusar dengan Rayi yang terkesan kurang berhati-hati.
"Piye to Kasino, yang bilang aja mau ngucapin terima kasih udah bantuin. Gitu aja kok repot," jawab Rayi sudah dengan tampang ruwetnya.
"Ya udah nanti ajalah, tuh si Erna nyariin. Penting kayaknya," kataku saat melihat Erna nongol di depan pintu.
__ADS_1
Sebenarnya bukan masalah aku berbelit-belit hanya saja aku penasaran ada hubungan apa antara Kak Fiona dengan Tandri. Walaupun setelah aku stalking lebih dalam, tidak ada mereka saling komen atau terlihat berinteraksi. Aku kemudian menelepon Bu Gendis untuk menanyakan keadaan Aditya yang masih belum sadarkan diri namun sudah melewati masa kritis. Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk memberitahu Bu Gendis tentang pendonor yang baik hati itu. Walaupun aku sendiri sudah tidak sabar, tapi aku harus bisa menahan diri. Mungkin harus aku ikuti saja saran Rayi untuk menghubungi Tandri secara langsung. Ide itu muncul, aku berpura-pura kalau aku menemukan datanya di marketplace Facebook dan berniat mencari tahu tentang kaos distro yang dijualnya karena aku ingin mengembangkan butik ke arah itu. kemudian, aku memberanikan diri untuk memencet nomer Tandri dan tersambung.
"Halo," suara yang agak berat terdengar di telingaku.
"Ini Tandri yang jual kaos distro di marketplace Facebook ya?" tanyaku sambil menahan napas.
"Iya, hanya saja sudah hampir empat bulan ini saya nggak jualan," jawabnya dengan nada sedikit lesu.
"Oh, sayang sekali, padahal saya ingin mengajak kerjasama. Atau mungkin kalau kamu nggak keberatan, bisa kita ketemu di butik saya?" tanyaku sambil deg-degan menanti jawaban dari Tandri.
"Kebetulan saya butuh kerjaan, lokasi butiknya di mana ya?" tanyanya sangat santun.
Aku kemudian mengirimkan lokasi butik dan sejak saat itu aku terus deg-degan tentang apa yang akan aku lakukan berikutnya.
...****************...
Aku baru selesai mandi dan ada panggilan dari Fiona. Aku bergegas mengangkatnya dan tanpa basa basi, aku menceritakan tentang Tandri yang sudah mendonor darah untuk Aditya dan aku menanyakan perihal hubungan Fiona dengannya di dunia Maya dan aku sangat kaget saat Fiona mengatakan bahwa Tandri adalah adik kandung dari Aditya. Aku menjauhi Arka supaya bisa menyimak dengan seksama cerita dari Fiona. Dan yang jelas Fiona juga heran kalau kami tidak tahu menahu mengenai Tandri. Bahkan Tandri dan kedua orangtuanya pernah menemui Aditya dan Fiona serta hadir di acara pernikahan mereka. Aditya juga pernah mengalami kecelakaan dan ayah Tandri yang mendonorkan darah untuk Aditya. Setelah Aditya sembuh, mereka lalu bertemu dan terkuaklah kalau mereka adalah keluarga. Awalnya Aditya menolak dan menantang untuk melakukan tes DNA dan hasilnya positif kalau Aditya adalah anak dari bapak itu. Kepalaku semakin pusing menampung informasi yang sangat mencengangkan ini. Atau mungkin sebenarnya keluarga Pak Surya sudah mengetahui hal ini namun mereka memilih tidak memberitahukan siapapun. Aku merasa lelah sendiri, sejak menikah dengan Arka kenapa rasanya kisah hidupku berbelit-belit seperti ini.
__ADS_1
...****************...
"Distro itu punya teman saya, bisa dibilang saya cuma reseller kak," kata Tandri saat sudah berada di ruanganku di butik.
"Oh,terus kenapa berhenti?" tanyaku.
"Teman saya pindah ke kota lain, Bu." jawabnya lagi sambil tertunduk.
Dia ternyata tidak mengenaliku, mungkin karena saat itu kami hanya bertemu sekilas. Dia juga terlihat lebih banyak tertunduk dan tidak berani menatap mataku saat kami berbicara. Aku kemudian menawarkannya untuk ikut bekerja menjadi reseller di butikku atau bahkan menjadi sales marketing untuk penjualan online. Awalnya dia menolak karena segmen butikku lebih cenderung untuk perempuan dan dia merasa kurang pas untuk berkarya di sini tapi aku terus berusaha meyakinkannya.
"Terima kasih, tapi atas kejadian yang dialami Kak Adit, saya merasa punya tanggungjawab di situ, jadi ibu tidak perlu bersusah payah untuk membalas budi," kata Tandri yang sempat membuatku gagap.
"Jujur saja, sebenarnya apa hubunganmu dengan Mas Aditya?" aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ingin aku gali dari pertemuan ini.
"Itu, hanya bapak yang bisa menjawabnya," katanya saat ini tegas dan menatap langsung ke mataku.
"Bisa saya ketemu bapak?" tanyaku kepalang basah.
__ADS_1
Dia terlihat berpikir keras dan seperti enggan untuk memenuhi permintaanku. Ini kesempatan dan aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Bila perlu aku akan membuntutinya kalau dia menolak permintaanku. Aku harus tahu, ada apa sebenarnya dengan Aditya