
Sudah hampir tiga bulan ini aku diam di rumah sejak opname. Dan sampai saat ini aku belum juga tahu misteri hilangnya suamiku dan apa yang dia lakukan di rumah sakit itu. Sejak pulang dari rumah sakit hingga saat ini kami sama sekali tidak membahas masalah itu walaupun sebenarnya seribu tanya masih memenuhi otakku. Aku sudah tidak berani pergi ke mana-mana. Untuk urusan pekerjaan aku serahkan semua pada Rayi. Aku juga mempunyai seorang mahasiswa magang yang membantuku di bagian desain. Ella namanya, gadis centil yang sangat bersemangat dan punya ide-ide yang cemerlang yang mampu membuat butikku memperluas pasar menyentuh segmen ABG. Aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri untuk fokus menjaga kehamilanku. Aahva sering menempel denganku namun dibawah pengawasan Mbok Welas karena aku tidak diizinkan untuk mengangkat beban berat sehingga aku tidak boleh menggendongnya. Tapi Aahva anak yang baik dan penurut sehingga aku tidak mengalami banyak kesulitan semuanya berjalan normal tanpa kendala apapun.
Hingga tiba di suatu sore saat Ella datang ke rumah untuk menunjukkan karyanya dan kebetulan Arka ada di rumah. Mata Ella tidak lepas dari Arka dengan tatapan yang menurutku sangat tajam. Mungkin dia terpesona dengan ketampanan Arka namun wajahnya menunjukkan seperti dia berusaha mengingat sesuatu. Aku yang sedikit risih mulai menegurnya.
"Itu suami ibu? Sepertinya aku pernah melihatnya tapi di mana ya?" kata Ella sambil tampak berusaha mengingat-ingat.
"Jangan pura-pura, kamu terpesona ya?" aku berusaha menggodanya walaupun dalam hati aku tidak suka Arka dilihatin seperti itu.
"Ganteng sih Bu, tapi saya nggak suka suami orang. Hanya saja wajahnya terlihat sangat familiar," kata Ella.
Lama kelamaan kata-kata Ella mengusik pikiranku. Apa mungkin Arka kembali menyanyi di cafe seperti yang pernah dia lakukan dulu dan Ella adalah pengunjung cafe itu? Apa mungkin akhir-akhir ini Arka sering pergi karena kembali ke kegiatan lamanya itu? Mungkin dia mulai bosan dengan rutinitas hariannya dan sedikit stress dengan begitu banyak perusahaan yang harus dikelolanya tapi seharusnya tidak seperti ini caranya. Aku juga tidak masalah andai Arka izin baik-baik padaku. Atau mungkin Arka tidak enak hati karena di saat aku harus membatasi aktivitasku dia malah mencari hiburan sendiri. Aku menghela napas panjang sampai tiba-tiba Ella mengagetkanku.
"Ada apa La?" tanyaku sedikit melotot.
__ADS_1
"Iya, aku sering melihat suami ibu di rumah sakit, sama ibu-ibu gitu, mungkin mertua Bu Kasih," kata Ella bersungguh-sungguh.
"Nggak mungkin dong, La. Mertua ibu kan di desa. Lagian ngapain kamu sering ke rumah sakit? Kamu sakit?" tanyaku menyelidiki.
"Mamaku kan perawat, kadang aku ngirim bekal makanan untuk mama," kata Ella yang membuat aku semakin mengernyit dahi.
Aku kemudian mengambil ponselku dan menunjukkan foto Bu Gendis pada Ella dan rasanya seperti ditampar saat Ella menggelengkan kepala menandakan bahwa bukan Bu Gendis yang bersama Arka. Menurutnya wanita itu sedikit langsing dan berkulit putih bersih. Dia memakai baju yang rapi dan sering memakai celana panjang dan terkesan sedikit formal namun santai. Kepalaku langsung berputar memikirkan siapa wanita yang aku kenali dan ciri-cirinya mendekati deskripsi Ella. Rasanya sangat tidak asing dengan semua yang digambarkan oleh Ella. Dengan jantung berdegup kencang dengan dugaan yang muncul di kepalaku, aku lanjut membuka akun Facebookku dan menunjukkan foto mommy Awan yang dijawab dengan anggukan yang sangat yakin oleh Ella. Seketika mataku membelalak seakan tidak percaya.
"Mommy Awan apa kabar ya mas?" aku memberanikan membuka mulut saat kami bersantai sebelum tidur.
"Baik, kenapa yank?" jawab Arka seolah tidak terjadi sesuatu.
"Kok mas tau kabar beliau?" tanyaku berusaha mendesak Arka untuk mengakui kebenarannya
__ADS_1
"Kan aku sering ketemu, kenapa? Kamu keberatan?" tanya Arka lagi dengan senyum yang sebenarnya meluluhkan hatiku tapi aku harus tegas.
"Di rumah sakit?" desakku lagi dan Arka hanya diam masih dengan senyumnya yang sekarang sedikit menyebalkan. "Ngapain mas di rumah sakit sama dia? Dan aku tahu itu dari orang lain pula, pasti ada yang mas sembunyikan dariku kan?" lanjut ku penuh emosi.
"Lho? Kamu nggak pernah tanya," jawaban Arka yang seketika membuatku kehilangan kata-kata.
Apa-apaan itu? Apa yang mau aku tanyakan pada sesuatu yang tidak aku ketahui? Topik utamanya saja tidak aku ketahui? Kenapa Arka tidak punya inisiatif sama sekali untuk bercerita tanpa aku harus bertanya? Semua ini seketika membuatku merasa sedikit gila. Sambil mengatur napas, air mataku mulai mengalir membasahi pipi dan hanya ekspresi heran yang ada di wajah Arka.
"Lho, kamu kenapa nangis yank? Kamu keberatan kalau aku dekat sama mommy?" kata-kata itu nyatanya semakin membakar emosiku.
"Mas pikir aja sendiri," jawabku menyudahi pembicaraan kami.
Aku kemudian tidur memunggunginya, apa yang ada di pikiran Arka? Sebenarnya aku tidak keberatan sama sekali kalau dia dekat dengan mommy Awan tapi kenapa selama ini aku tidak tahu sama sekali tentang itu. Lalu apa motif kedekatan mereka? Urusan bisnis kah? Atau untuk urusan lain? Atau malah ada asmara terlarang di antara mereka? Pikiranku semakin kusut, kenapa opsi terakhir yang selalu terngiang di kepalaku? Apa Arka sudah gila main api dengan mommy? Atau Arka ingin membalas dengan karena selama ini aku pernah hanya setengah hati mencintainya, jenuh kah Arka di saat aku sudah bisa melupakan Awan dan sudah nyaman hanya dengannya? Tapi kenapa harus dengan mommy Awan? Apa mommy kesepian karena akhir-akhir ini daddy Awan sering anfal? Kalaupun iya, kenapa dia tidak bersama Awan saja, anak kandungnya? Kenapa harus bersama Arka? Pertanyaan-pertanyaan yang kadang logis kadang tidak berseliweran di kepalaku dan membuat dadaku terasa sangat sesak. Aku menahan semua kesedihan dan amarah. Biasanya Arka akan memelukku dari belakang tapi nyatanya kali ini dia malah pergi tanpa kata.
__ADS_1