MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 132


__ADS_3

Dengan jantung yang berdegup kencang aku berjalan memasuki ruang meeting dan semua mata tertuju padaku. Aku kemudian duduk di samping Pak Surya yang terus menerus berdehem karena tenggorokannya kering. Mungkin karena kelelahan sehingga berpengaruh pada kesehatan beliau. Di seberang meja, tampak Rinto menganggukkan kepala sambil tersenyum padaku. Lega rasanya melihat dia ada di sana. Mungkin Pak Surya yang mengundangnya untuk ikut rapat kali ini.


"Mungkin kalian sudah kenal dengan Kasih dan kedepannya seluruh perusahaan saya akan diurus oleh Kasih dan dibantu oleh Rinto," hanya itu yang diucapkan Pak Surya beliau langsung berdiri meninggalkan ruang meeting.


Dan itu membuatku kebingungan, apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Apa aku harus memperkenalkan diri padahal mereka sudah mengenalku? Sedangkan aku tidak memiliki rencana kerja apapun yang akan aku paparkan. Aku bahkan tidak tahu menahu tentang visi dan misi perusahaan ini. Apa saja yang melingkupi sasaran atau target pasar dan hal lain yang mendukung perusahaan ini.


"Karena kami belum paham mengenai seluk beluk perusahaan ini, mungkin bisa dimulai dari aset dan apa saja yang menjadi target-target dari perusahaan ini, besok tolong diagendakan untuk meeting per divisi ya," tiba-tiba Rinto yang berada di ujung meja membuka suara dan menyelamatkan keplonga-plongoanku.


Untung saja Pak Surya meminta Rinto untuk membantuku. Kalau tidak entah apa yang harus aku lakukan. Rinto tampak sangat berwibawa dan terlihat menguasai rapat kali ini. Mungkin karena sudah terbiasa dan lebih menguasai bisnis ini. Rapat sudah selesai dan aku bergegas ke ruangan Pak Surya. Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan kepada beliau. Tapi sepertinya beliau malah melamun, pandangannya tampak jauh dan entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin tidak mudah baginya untuk mengatasi semua ini. Aku hanya duduk terdiam di depan Pak Surya tanpa berani banyak bergerak apalagi berkata-kata. Semua yang ingin ku sampaikan pada Pak Surya mendadak hilang dari otakku dan keheningan pecah saat terdengar ketukan di pintu. Kami berdua serentak mengarahkan pandangan ke pintu. Rinto melangkah masuk dan diikuti oleh seseorang yang aku ketahui bernama Aslan. Dia adalah tangan kanan Arka yang mengurus semua urusan di perusahaan ini.


"Maaf Pak Surya, saya harus mengajak Aslan ke sini untuk bertemu dengan Kasih," kata Rinto


"Ya silahkan saja, lakukan apa yang menurut kalian terbaik," kata Pak Surya dengan senyum seperti dipaksakan.

__ADS_1


Pak Surya kemudian pamit pulang karena beliau ingin segera beristirahat dan lagi-lagi aku merasa ditinggalkan dalam kebingungan. Rasanya seperti kepalaku mau meledak dan hanya mampu memandang Rinto dengan tatapan minta tolong yang tersirat tapi aku juga tidak pasti apakah Rinto bisa menangkap arti kebingunganku ini. Aku seperti kehilangan arah, setelah sekian lama tidak bekerja aku sendiri bingung harus memulai dari mana. Ke mana biduk perusahaan ini seharusnya aku lakukan. Memang kepergian Arka tidaklah mendadak. Aku sudah menyiapkan hati dengan penuh keikhlasan walaupun mungkin tidak sesuai dengan keinginanku namun untuk memasuki babak baru kisah hidupku ini sangat membuat aku terombang-ambing seolah tidak tahu lagi ke arah mana yang akan aku tuju. Aku terlalu menikmati peranku menjadi istri dan ibu dan pikiranku sudah cukuplah dengan butik yang berkembang menjadi konveksi besar untuk melanjutkan hidupku dan anak-anakku saat Arka sudah tutup usia tanpa memperhitungkan warisan Pak Surya yang kelak akan dilanjutkan ke Aahva dan Bening.


"Mulai besok mohon Bu Kasih datang awal supaya kami bisa menjelaskan tentang perusahaan secara detail," kata-kata Aslan memecahkan lamunanku.


"Oh iya, baiklah. Saya izin pulang dulu sampai jumpa besok ya." kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.


Aku kemudian menenteng tas yang hany berisi ponsel kemudian berlalu pergi. Ya ampun, baru mulai perkenalan awal saja kepalaku rasanya sudah penuh bagaimana besok kalau diisi dengan hal-hal penting lainnya.


"Intinya, sebisa mungkin jangan sampai perusahaan ini jatuh ke tangan Mas Adit, hanya itu pesan Pak Surya," kata Rinto sebelum kami memulai meeting.


"Ya udah,kamu aja yang atur semuanya To,aku nggak paham apapun," jawabku setengah merengek.


"Nggak bisa dong, aku ini cuma diminta membantu dan kalau kamu sudah bisa, pasti aku lepas. Terus usaha Arka yang sudah jalan dan selama ini aku tangani gimana?" kata-kata Rinto membuat aku patah semangat lagi.

__ADS_1


"Nggak punya uang pusing, kebanyakan harta jadi stress," kataku sambil mengacak-acak rambutku.


Aku memilih untuk pulang saja terlebih dahulu. Sebenarnya penghasilan dari perusahaan ku saja sudah cukup untuk menghidupiku dan kedua anakku tapi entahlah atas nama tanggungjawab aku harus mampu menangani semua ini. Pantas saja Arka terlihat sangat sibuk, bagaimana tidak kalau pekerjaannya sebanyak ini padahal dia sendiri sudah dibantu oleh Rinto tapi perusahaan Pak Surya yang sangat besar ini cukup menguras tenaga dan pikiran sedangkan Arka tidak pernah membahas pekerjaannya di rumah jadi aku benar-benar kosong dan tidak tahu harus apa dan aku harus memulai dari mana. Rasanya kepalaku penuh sesak dengan bermacam hal.Rasanya aku perlu istirahat sejak dan mungkin bisa berdiskusi dengan Rayi, satu-satunya orang yang sangat bisa aku andalkan di saat seperti ini. Aku segera mengambil ponselku dan mengirim pesan untuknya


[Ra, kalau nggak repot telpon aku ya] ketikku


Tidak lama berselang Rayi meneleponku dan berjanji untuk menemaniku malam ini di rumahku. Lumayan lega juga walaupun solusi belum aku temui tapi setidaknya aku masih punya harapan. Dengan gontai aku melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil kantor yang akan mengantarku pulang.


Aku terlelap di sepanjang perjalanan yang hanya menempuh waktu lebih kurang lima belas menit ini dan terbangun saat sayup-sayup terdengar suara sopir yang mengatakan bahwa kami tiba di rumah. Aku masih duduk sejenak mengumpulkan sisa nyawaku yang masih tertinggal di alam mimpi dan berusaha dan kemudian berjalan setengah malas-malasan menuju pintu yang sangat tidak terbiasa terbuka seperti itu.


"Selamat siang menjelang sore, Kasih," suara tidak asing yang menyapaku begitu aku menampakkan diri di ruang tamu.


Untuk apa dia ke sini?

__ADS_1


__ADS_2