
"Piye toh Kas? Mau jenguk orang sakit malah pingsan," kata Rinto saat aku mulai sadar
"To, setelah ku ingat-ingat ternyata dari kemarin aku belum makan. Lapar!" kataku sambil berbisik ke Rinto. Rinto malah tertawa terbahak-bahak lalu keluar dari kamar.
"Kamu nggak papa?" tanya Arka dengan wajah panik.
"Iya, aku nggak papa. Ini juga udah mulai baikan," kataku sambil berusaha duduk. Mata Arka terus menatapku tidak percaya.
"Abis ini pasti dia baik-baik aja, mau makan sendiri atau disuapin?" kata Rinto sambil membawa sepiring nasi dan semangkok sup ayam.
Rinto malah menyerahkan makanan itu kepada Arka. Dengan cekatan Arka menyuapiku namun aku menolak.
"Aku makan sendiri saja," kataku lalu mengambil sendok dari tangan Arka.
"Kamu lapar? Dari kemarin nggak makan?" tanya Arka sambil menatapku heran.
Aku hanya mampu menganggukkan kepala. Sup ayamnya sangat enak, ingin aku segera menghabiskannya tapi aku malu, berusaha terlihat sopan dan anggun. Baru habis separuh piring, Bu Gendis masuk dengan membawa segelas susu hangat dan memberikannya padaku. Beliau lalu duduk di sampingku dan mengambil sendok dari tanganku kemudian menyuapiku. Aku akhirnya nurut dan sampai makanan dan susunya habis.
Rinto pamit karena harus mengurusi ternak dan berjanji akan menjemputku begitu sudah selesai. Bu Gendis meminta Arka untuk pindah ke kamar kakaknya supaya aku bisa beristirahat di sini. Awalnya aku merasa tidak enak namun karena keramahan Bu Gendis membuat aku nyaman.
"Niatnya mau jenguk Arka, malah kayak gini," kataku malu
"Nggak papa, mama maklum kamu capek semua, capek badan, capek pikiran, Iyo to?" kata Bu Gendis sambil tersenyum.
Mataku mulai terasa berat dan rasanya aku tidak kuat untuk membukanya. Tanpa terasa aku tertidur lelap.
...****************...
Saat aku terbangun, aku merasa sakit kepala, berkeringat, menggigil, badanku terasa lemas, otot terasa nyeri dan suhu badanku panas. Pada saat bersamaan Rinto datang untuk menjemputku. Aku merasa sangat tidak berdaya
"Kas, gantian kamu yang demam?" kata Rinto sambil menyentuh keningku.
__ADS_1
"Aku ambilin obat ya," kata Arka sambil berlalu pergi.
Arka kembali dengan obat dan segelas air hangat dan membantuku untuk meminumnya. Aku berbaring lagi dan memejamkan mata. Kenapa aku bisa ambruk sih? Di rumah Arka lagi.
"To, pulang yuk," kataku dengan mata masih terpejam.
"Di sini aja, nanti biar Rinto izin ke ibumu," kata Arka sambil mengompres dahiku dengan handuk hangat.
"Aku maunya sama ibu," kataku beralasan.
Bagaimanapun aku harus pulang, jangan sampai aku menginap di sini. Apa kata dunia? Dulu ribut sama bapaknya gara-gara menolak perjodohan. Sekarang bapaknya baru meninggal sudah kecentilan nyamperin calon suami pakai acara menginap. Betapa tidak tahu dirinya aku. Aku berusaha bangun namun karena badan sangat lemas, akhirnya aku terjatuh. Arka membopongku dan membaringkan ku kembali ke tempat tidur.
"Kamu tunggu di sini dulu sebentar. Nanti aku antar pulang, ya" kata Arka sangat lembut seperti merayu anak kecil supaya menurut
Arka keluar sebentar beberapa menit kemudian dia sudah mengganti pakaian dan tanpa aba-aba dia membopongku walaupun aku menolaknya dan berusaha jalan sendiri namun Arka nekat dan membawaku masuk ke mobil.
"Kita ke puskesmas dulu," katanya setelah duduk dibelakang kemudi.
"Bude, Arka tadi ke mana?" tanyaku karena setelah dia keluar, dia tidak kembali lagi.
"Waduh, bude yang nggak memperhatikan, nduk," katanya sambil berjalan menuju pintu.
Aku hanya memonyongkan bibirku. Masak iya Arka pulang tanpa pamit? Rinto juga tiba-tiba menghilang, aku juga belum bertemu Ibu lagi. Aku memilih untuk tidur lagi, berharap besok semua akan baik-baik saja.
...****************...
Suara ibu yang membangunkanku menggema di dalam rumah, aku menguap sangat lebar. Ku kucek mataku dan ku usap wajahku berulang-ulang. Dengan malas aku melangkah menuju jendela dan membukanya membiarkan panas matahari masuk ke dalam kamarku. Ternyata sudah hampir jam sepuluh, pantas saja ibu mengomel terus. Badanku terasa jauh lebih baik sekarang.
"Kamu kalau di kota bangun paginya gimana, nduk?" tanya ibu saat aku sudah menampakkan diri di depannya.
"Kan ada Rayi," jawabku enteng sambil berulang kali menguap.
__ADS_1
"Kamu itu perempuan nduk, sebentar lagi menikah. Masak kalau nggak dibangunin nggak bisa bangun pagi?" kata ibu mulai dengan kata pembuka belum masuk ke inti acara intetogasi
"Bisa bangun pagi, tergantung situasi," aku mulai dengan jawab yang sedikit logis
"Terus kamu udah bisa masak apa aja?" tanya ibu sambil duduk di sampingku.
"Oseng-oseng," jawabku mulai asal.
"Lha selama ini kamu makannya gimana?" interogasi masih berlanjut.
"Kan ada Rayi, kalau nggak ya jajan. Banyak warung yang jualan," jawabku mulai membuat ibu menghilangkan napas panjang dan mengelus dada.
"Kamu kok tergantung Rayi, nanti kalau sudah menikah gimana?" tanya ibu dengan nada mulai meninggi.
" Gimana kalau Rayi ku ajak?" jawabanku semakin ngawur dan membuat ibu semakin meninggi.
"Bocah Gendeng, enak aja!" tiba-tiba Rayi muncul di depan kami.
Aku lalu berlari memeluk Rayi. Dia protes karena aku tidak mengabarinya mengenai bapak. Dia baru kemarin dapat kabar dari Rinto dan bergegas kembali ke desa. Dia juga sangat khawatir saat Rinto mengabarinya kalau aku sempat pingsan dan sakit. Aku lalu mengajak Rayi untuk duduk karena banyak yang ingin aku ceritakan.
"Mandi dulu, Kas!" kata ibu dengan galaknya. Rayi malah tertawa melihatku dimarah seperti anak kecil. Dengan bersungut-sungut aku mandi juga.
Sudah ada Pak Surya dan Bu Gendis bersama ibu dan Rayi saat aku kembali ke ruang tamu. Sepertinya ada yang serius yang mereka bicarakan. Aku yang tidak tahu apa-apa berusaha mendekat dan bergabung sambil menyimak dan mencoba memahami.
"Kita tunggu adik sebentar ya," kata Bu Gendis sambil dan memintaku duduk di antara dia dan ibu.
Aku hanya memandang Rayi dan memberi isyarat meminta penjelasan padanya, Namun dia melambaikan tangan menandakan kalau dia belum tau apa-apa. Tidak lama kemudian Arka datang bersama Pakde Marto dan Rinto lalu bergabung dengan kami. Di susul Bude Rini yang datang tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Karena sudah kumpul semua, kita langsung saja nggih. Sesuai wasiat Damar sebelum meninggal, dia minta kalau bisa pernikahan Arka dan Kasih dipercepat saja," kata Pakde Marto membuka acara.
Aku terkejut, bahkan kuburan bapak saja belum kering, mengapa mereka malah membahas mengenai pernikahan. Tidak bisakah mereka menunda dulu paling tidak satu sampai dua minggu ke depan?.
__ADS_1