
Saat sampai di pekarangan rumah, tampak Rayi sedang berlari sambil mengomel dan menenteng baju serta mengejar seorang anak kecil yang sedang telanjang dan tertawa cekikikan. Anak itu mengurangi laju larinya saat sudah hampir menabrak Arka. Dia kemudian berlari ke arah Rayi dan bersembunyi di balik kaki Rayi. Rayi lalu jongkok dan sigap memakaikan baju dan celana pada anak itu sambil mulutnya tidak berhenti mengomel. Selesai memakai baju, anak itu dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah.
"Si Ade susah banget diatur," kata Rayi sambil menggelengkan kepala.
Aku dan Arka tertawa melihat Rayi yang sepertinya sangat pusing menghadapi tingkah anaknya. Rayi kemudian mengulurkan tangan ke arah Aahva namun Aahva malah berpaling sambil menangis karena merasa tidak nyaman dengan Rayi. Walaupun Rayi mencoba merayu Aahva dengan berbagai cara, dengan bertepuk tangan, membuat wajah lucu bahkan bernyanyi dan berjoget, tetap saja Aahva menolaknya. Semakin Rayi bersemangat, semakin Aahva kenceng nangisnya.
"Aahva nggak mau sama model emak-emak galak kayak kamu," kataku sambil membawa Aahva masuk ke dalam rumah.
Ibu yang mendengar tangis Aahva bergegas mendekati kami dan menggendong Aahva lalu mengajaknya ke luar rumah untuk melihat kambing dan sapi. Tangis Aahva berubah menjadi tawa riang dan terdengar ocehannya menirukan suara kambing maupun sapi. Aku dan Arka membawa barang bawaan kami masuk ke dalam rumah dengan dibantu oleh Rayi. Aku kemudian membawakan segelas air putih untuk Arka dan kami duduk di sofa. Ade yang dari tadi bermain bergegas menempel pada Rayi saat kami mendekat.
"Dia ini pemalu dan pendiam seperti aku," kata Rayi yang membuat aku dan Arka saling pandang dan tertawa bersamaan.
"Iya, pasti kamu juga suka lari-larian sambil telanjang seperti tadi kan?" kata Arka sambil menahan tawa.
"Kalau yang jelek-jelek gitu sih turunannya Rinto," jawab Rayi tanpa rasa bersalah.
"Omongan kok diawur kayak nggarap ujian matematika," tiba-tiba Rinto datang.
Ade menyambut kedatangan Rinto dengan girang. Seperti sudah tidak bertemu sekian abad lamanya. Rayi tampak menghembuskan napas lega sambil mengatakan kalau Rinto itu adalah pawangnya Ade karena Ade hanya menurut sama Rinto. Rinto kemudian mengajak Arka dan Ade untuk menyusul Aahva di kandang. Dan tinggallah aku dan Rayi berduaan. Dari Rayi, baru aku tahu kalau Arka ternyata sudah janjian dengan Rinto. Kabarnya Arka ingin membeli sebidang sawah di ujung desa dan Rinto yang akan menjadi perantara mereka. Aneh, hal sepenting ini tidak diberitahukan Arka padaku. Lama-lama ada sedikit kesal karena Arka seolah terlalu banyak rahasia.
__ADS_1
"Mungkin dia mau kasih kejutan, aku sing keceplosan," kata Rayi dengan tampang menyesal.
"Mosok?!" kataku sambil berlalu pergi dari depan Rayi.
Rayi menyusulku dan meminta maaf karena 'keceplosan'. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk memasak sambil membicarakan mengenai perkembangan butik dan pesanan seragam yang semakin banyak. Aku sangat bersyukur karena semua berjalan sangat lancar. Rayi berniat untuk menambah karyawan yang akan membantunya di bagian administrasi dan aku menyetujuinya. Tidak mungkin kalau semua pekerjaan aku bebankan ke Rayi. Selain itu pesanan desain dari Khayla juga seolah tidak ada hentinya. Rayi mengusulkan agar aku kembali tinggal di kota tapi aku menolaknya. Aku terlanjur nyaman tinggal di villa yang sejuk dan tenang. Aku juga sudah sangat percaya pada Rayi yang selama ini sudah mengelola butik dengan sangat baik. Walaupun Rayi tampak slengekan, tapi dia sangat amanah dan bertanggungjawab. Kami selesai masak saat semua sudah kembali ke rumah dan kami langsung menikmati makan siang ini. Rasanya sangat menyenangkan karena bisa berkumpul bersama seperti ini.
Karena kamarku dipakai oleh Rinto dan Rayi, kami memutuskan untuk menginap di rumah keluarga Arka. Aahva yang sudah tidur di gendonganku saat kami menuju ke rumah.
"Yank, besok kita jalan-jalan ya. Aahva pasti seneng," kata Arka saat aku sudah sukses menidurkan Aahva.
"Iya, kita ke ujung desa ya," ajak Arka sambil rebahan di samping Aahva.
"Udah, ikut aja," kata Arka lagi.
Suasana berubah hening, hanya terdengar dengkuran halus yang menandakan kalau Arka sudah tertidur. Mungkin benar, Arka ingin memberi kejutan padaku, pasti besok dia ingin menunjukkan padaku petak sawah yang akan dibelinya. Tapi dasar Rayi si mulut tangki tandon air malah membocorkan semuanya padaku. Kasian Arka malah gagal memberi kejutan untukku. Sebaiknya besok aku berpura-pura saja tidak tahu dengan semua rencana Arka. Saat semua sudah tertidur, aku lalu menata semua barang bawaan kami. Rencananya kami akan di sini sekitar seminggu. Pasti ibu sangat senang karena bisa berlama-lama dengan Aahva. Aku juga berencana ziarah ke makam bapak. Banyak yang ingin aku ceritakan ke bapak tentang hidup yang ku lalui bersama Arka. Setidak-tidaknya aku harus berterima kasih pada bapak karena sudah mencarikan jodoh yang baik untukku. Setelah selesai, aku membuat desain baju untuk dengan konsep busui friendly. Mungkin ada beberapa wanita karier yang membutuhkan baju yang nyaman dipakai saat pumpi**ng ASI. Aku juga membuat apron ASI yang sangat pas dipakai dengan desain baju tersebut. Setelah itu aku juga membuat desain baju hamil yang bisa dipakai dari kandungan masih berusia muda sampai hamil tua. Semua ini berdasarkan pengalamanku ketika aku hamil dan menyusui dan lumayan kesulitan mencari pakaian saat berpergian. Selama dua masa itu, hanya daster yang menjadi andalanku. Tiba-tiba ponselku bergetar dan itu dari Keysha. Walaupun butikku sudah berdiri sendiri, tapi aku dan Keysha masih saling menjalin kerjasama. Aku menjawab panggilan Keysha dengan mode loudspeaker supaya aku tetap bisa leluasa menggambar sambil mengobrol dengan Keysha.
"Hei, di mana you?" tanya Keysha, bisa kubayangkan kepulan asap vape yang dihembuskan keluar dari mulutnya.
"Di desa," jawabku sambil terus menggambar.
__ADS_1
"Ngapain?" tanya Keysha lagi.
"Kangen ibu, kangen rumah, kangen semua," jawabku sambil masih fokus dengan pekerjaanku.
"Buatin desain baju pesta dong, yang temanya kotak-kotak kayak ciri khas Skotlandia gitu," pinta Keysha.
Aku kemudian menolak Keysha secara halus karena aku benar-benar tidak tahu menahu mengenai tradisi Skotlandia. Baju kotak-kotak seperti apa yang dimaksud. Sebenarnya kalau aku memang mau dan tertarik, bisa saja aku mencari informasi di internet. Tapi Keysha tetap saja memohon padaku dan mengatakan kalau itu pesanan dari pelanggan tetapnya. Dan yang membuatku sedikit tercengang, pelanggan yang dimaksud itu adalah Chloe.
"Iya, kan tunangannya keturunan Skotlandia, jadi dia pinginnya ala-ala skotlan gitu," jelas Keysha.
"Tunangan?" tanyaku heran.
"Iya, tunangannya kan si Awan mantanmu," lanjut Keysha.
"Tunangan apa kredit motor ya? Kok lama banget nggak nikah-nikah," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
"Nggak tahu ah, ini ada yang datang lanjut nanti ya Kas," kata Keysha sambil mengakhiri panggilan.
"Kamu masih nyari-nyari kabar Awan yank?" tiba-tiba suara Arka mengagetkanku. Aduh, kenapa Arka jadi salah paham begini?
__ADS_1