
Aku dan Rayi saling pandang. Setelah aku sudah lupa tentang penelpon gelap itu, tiba-tiba dia menghubungiku dengan nomer lain dan dengan tanpa rasa bersalah dia meneleponku menanyakan kenapa aku memblokirnya. Apa dia tidak merasa bersalah karena telah menggangguku?
"Semoga acaramu nanti malam berjalan lancar ya," katanya dengan nada santai.
"Siapa kamu?" tanyaku dengan nada ketus dan sangat tidak bersahabat.
"Jika takdir merestui, akulah masa depanmu," katanya penuh percaya diri.
"Maksudnya?" tanyaku dengan nada tegas.
"Baik-baik ya Kasih, aku berharap kamu bahagia selalu," katanya sambil mengakhiri panggilan.
Aku mencoba menghubunginya lagi namun seperti sebelumnya, nomernya sudah tidak aktif. Rayi berusaha menebak-nebak identitas penelpon gelap itu. Mulai dari seorang kenalan lama, seseorang yang berniat menjahili atau sekedar prank, sampai seseorang yang disuruh Awan untuk mengetes kesetiaanku.
"Oh, mungkin saja Bara," kata Rayi berandai-andai lagi.
"Impossible, suaranya Bara lho cempreng. Aku hafal kalau Bara," kataku sambil mengacak-acak rambut.
"Mosok? tapi iya juga sih. Kalau ketawa aja melengking kayak demit. Tapi suara itu seperti pernah ku dengar," kata Rayi sambil terus berpikir.
Siapa gerangan dirinya? Selama ini selain dengan Awan, aku tidak pernah terlalu dekat dengan lelaki manapun. Yang lainnya benar-benar hanya teman biasa, selebihnya adalah teman-teman di tempat kerja.
Ponselku berdering lagi dan dengan cepat kami melihat identitas penelponnya dan ternyata itu Awan. Awan mengabariku bahwa sebentar lagi dia akan datang menjemputku dan memintaku bersiap-siap supaya dia tidak lama menunggu. Dia juga bilang akan menemaniku untuk membeli baju baru untuk kami berdua supaya tampil serasi.
...****************...
__ADS_1
Aku memakai dress selutut dengan warna merah maroon dan riasan wajah yang minimalis serta rambut yang ikal tergerai cantik sedangkan Awan memakai kemeja dengan warna yang senada dengan dressku. Orang tuanya sudah menunggu kami di meja bundar bersama empat orang lainnya. Kukira kamu hanya akan makan berempat, tapi nyatanya ada orang lain yang juga ikut serta di acara malam ini. Aku berusaha santai walau di kepalaku memikirkan berbagai usaha konyol untuk kabur.
Selain kedua orang tuanya, Om dan tentenya Awan serta ada juga Chloe dan Sophie. Untuk apa mereka ada di sini? Bukankah ini acara keluarga? Lalu untuk apa mereka berdua ikut serta. Chloe juga tampak tidak suka dengan kehadiranku.
Acara makan diisi dengan percakapan tentang keseharian dan bisnis mereka. Aku merasa seperti rakyat jelata yang diundang ke pesta istana yang sama sekali tidak tahu dengan apa yang mereka bahas.
"Jadi kamu punya usaha apa?" tanya Chloe tiba-tiba ke arahku.
"Aku hanya karyawan di sebuah pabrik garmen," kataku yakin dan bangga.
"Dia manajer di situ," tambah Awan yang membuatku semakin bangga.
"Walaupun manajer kalau bukan usaha sendiri someday juga bisa dipecat dan nggak punya apa-apa," kata Chloe terkesan merendahkanku.
Aku menundukkan kepalaku dan Awan sedikit melotot ke arah Chloe. Apa maksud Chloe berkata seperti itu? Apa dia ingin menegaskan bahwa aku nggak level dengan mereka? Apa di mata Chloe aku sekerdil itu? seperti pelanduk diantara sekelompok gajah.
"Aku tinggal di perumahan dan masih KPR, sudah jalan 3 tahun ini, kalau mobil aku nggak punya karena saat ini aku hanya butuh sepeda motor," kataku dengan tatapan menantang ke arah Chloe. Memangnya kenapa kalau milikku tidak sementerang milik mereka? Lagi pula kenapa dari tadi kata-kata Chloe seolah ingin menjatuhkan ku?
"Are you sure?" tanya Chloe sambil memincingkan mata seolah-olah semua yang aku miliki tidak ada artinya.
"Of Course, ada masalah?" kataku dengan nada tegas. Kalau dia mau ajak ribut aku siap menghadapinya. Dia pikir dia siapa bisa seenaknya memandang remeh padaku. Aku tidak pernah takut selama aku tidak salah dan tidak merugikan siapapun.
"Chloe, can you stop? Kamu sudah bikin Kasih merasa tidak nyaman," kata ayah Awan.
Memang dari tadi hanya Chloe yang nyinyir cari perkara. Mungkin dia merasa tersaingi, karena selama ini dia sesumbar ke mana-mana dan mengaku kalau dia adalah pacarnya Awan namun faktanya malam ini Awan membawaku ke sini bukan hanya sebagai pacar, tapi juga sebagai calon istrinya. Kita lihat saja, sampai di mana Chloe mencoba mengorek-ngorek kekuranganku dan berusaha meninggikan dirinya dengan menginjak-injak harga diriku.
__ADS_1
"Tapi Om, apa Om yakin dengan pilihan Awan? Dia terlalu biasa, nothing special," kata Chloe memulai lagi.
"Maaf sebelumnya kalau lancang. Memang saya hanya karyawan pabrik, tapi untuk bisa mencapai titik ini, semua atas usaha dan kemampuan saya sendiri, termasuk harta benda yang saya miliki, walaupun menurut anda biasa saja, itu resmi milik saya, hasil keringat saya sendiri, tanpa meminta pada siapapun termasuk mengandalkan orang tua saya," kataku dengan anggun tentunya saat emosi sudah naik ke ubun-ubun. Ku atur napasku supaya emosiku tidak meledak dan justru akhirnya mempermalukan diriku sendiri.
Aku mencoba berdiri untuk pergi dari tempat ini namun tangan tantenya merangkul bahuku sambil tersenyum.
"Perempuan mandiri yang punya tekad kuat sepertimu yang layak menjadi menantu di keluarga kami," kata beliau dan diiringi tepuk tangan oleh yang lainnya kecuali Chloe. Mana mau dia tepuk tangan dan mengakui kekalahannya.
Lega rasanya ternyata keluarga Awan menerimaku dengan baik. Sebenarnya tadi Chloe dan Sophie tidak diundang, mereka kebetulan bertemu dengan keluarga Awan dan diajak bergabung bersama. Namun siapa sangka kalau Chloe punya niat jahat untuk menjelekkan aku di depan mereka.
"Orang tuamu di mana, nak? tanya ibunya Awan dengan tatapan ramah.
"Setelah pensiun, mereka memilih tinggal di desa dan mengerjakan sawah dan kebun durian dan rambutan," kataku tanpa malu dengan kondisi orang tuaku yang dianggap nothing special oleh Chloe.
Dia belum tau saja kalau orang tuaku disebut 'juragan' di desa karena sawah dan kebunnya berhektar-hektar. Belum lagi gudang beras milik bapak yang bisa mencukupi kebutuhan satu kecamatan, tapi untuk apa menyombongkan semuanya. Kalau semua ditotal, asetnya tidak kalah dengan milik mereka, hanya saja kami tidak terbiasa hidup bergelimang kemewahan. Kami terbiasa hidup sederhana.
Memang di awal masa pensiun bapak, kami sempat berada di titik terendah karena semua harta milik bapak dikuasai oleh pamannya sehingga aku harus bersusah payah untuk mencari uang demi membiayai kuliah dan kehidupan sehari-hari. Namun, dua tahun terakhir ada seorang teman lama ayah yang membantunya membawa kasus ini ke pengadilan dan semua hak ayah kembali menjadi miliknya.
"Mikirin apa, sayang?" tanya Awan setengah berbisik sambil memegang lembut jemariku.
"Tiba-tiba kangen bapak ibu," kataku beralasan.
"Mungkin dalam waktu dekat Awan akan menemuimu orang tuamu untuk melamar" kata ibunya.
Tidak ada kata yang mampu aku ucapkan. Aku merasa semua berjalan terlalu cepat. Baru saja aku menikmati pacaran seperti yang aku inginkan. Bukan tidak mungkin jika Minggu depan mereka melamar, bulan depan aku sudah menikah.
__ADS_1
"Iya," jawabku dengan senyum tipis.
Aduh, aku harus bagaimana, kenapa Awan tidak memberitahuku tentang rencana lamaran ini? Aku harus memberi kabar ke ibu.