
"Kasih, ngomong dong, jangan diam aja kamu," kata suara perempuan itu sangat kasar. Tanpa banyak kata langsung ku akhiri saja panggilannya. Sepertinya aku mengenal siapa yang menelpon. Mau apa dia cari perkara, telepon tanpa basa basi langsung sok arogan berteriak dan tidak sopan sama sekali.
"Siapa, Kas?" tanya Rayi sambil mengambil ponsel dari tanganku.
"Nada-nadanya sih Chloe," jawabku mencibir.
Aku lalu menceritakan pada Rayi apa yang aku alami tadi. Rayi sebel sekaligus tertawa di waktu bersamaan. Sebenarnya aku juga penasaran, kalau itu memang Chloe, untuk apa lagi dia menggangguku? Harusnya sudah jelas kalau saat ini aku sudah tidak lagi bersama Awan dan aku adalah calon istri Arka. Harusnya dia senang dan bisa mengejar Awan semaunya karena sudah tidak ada lagi yang menghalangi. Itu pun kalau Awan mau menerima Chloe menjadi pasangannya.
Telepon terus berdering, tapi aku abaikan. Aku sudah capek dan untuk apa kami bertengkar untuk seseorang yang jelas bukan milikku lagi. Namun, Rayi mengambil ponselku dan menjawab telepon itu, ku biarkan saja, biar dilabrak sama Rayi.
"Kasih, ngomong kamu!" katanya sangat kasar.
"Kamu Chloe ya?" tanya Rayi dengan nada yang tegas menindas.
"Eh, dengar ya. Kamu tuh bisa nggak tidak menggangguku? Dasar perempuan murahan, nggak punya akhlak!" katanya dengan emosi yang meledak-ledak.
"Hello, siapa yang ganggu siapa nih?" tanya Rayi tidak kalah emosi.
"Arka itu gebetanku, pujaan hatiku! Dulu Awan kamu rebut, setelah aku move on dan menemukan Arka, kamu ambil juga. Lagian apa sih yang mereka lihat dari kamu?" tanya Chloe sepertinya dia tidak tahu kalau Rayi yang menjawab teleponnya.
"Eh, baru gebetan aja belagu. Saya ini calon istrinya, nggak pantes kamu labrak," jawab Rayi sambil tertawa sangat keras.
"Kamu pasti pakai pelet," kata Chloe masih tidak terima.
"Kamu kan ngakunya perempuan berkelas, kok percaya gituan sih? Aneh-aneh saja," kata Rayi kemudian mengakhiri panggilan.
Rayi lalu mengembalikan ponsel kepadaku. Kenapa sih Rayi? Kan lumayan aku bisa dapat hiburan seperti nonton sinetron, tema perebutan pasangan hidup.
"Kok udahan?" tanyaku pada Rayi.
__ADS_1
"Kurang seru, aku berharap bisa live," jawab Rayi sambil tertawa.
Aku jadi penasaran, sejauh apa hubungan Chloe dengan Arka sampai dia bisa naksir dengan Arka? Kalau hanya sekedar urusan bisnis yang baru membahas tender pasti pertemuan mereka belum begitu intens.
"Bisa-bisanya dia mau sama Arka," kataku sambil tertawa geli.
"Kamu aja yang dibutakan cinta, semua perempuan waras pasti bertekuk lutut dengan pesona seorang Arka, sekali lihat terpesona, lihat terus lama-lama jatuh cinta," kata Rayi sangat hiperbola.
"Iya sih, Arka mempesona, tapi nggak harus jadi gila seperti kalian juga," kataku sedikit tersipu namun berusaha ku sembunyikan dari Rayi.
"Kamu yang gila, nggak mudeng lelaki terbaik," kata Rayi sambil menoyor kepalaku.
Ponselku berdering lagi dan kembali itu dari Chloe. Ternyata dia memang pantang berputus asa. Ku abaikan saja, begitu juga Rayi yang sepertinya sudah tidak ingin berdebat lebih lanjut dengan Chloe. Tiba-tiba terdengar suara keributan dan itu berasal dari depan rumahku. Aku dan Rayi mengintip dari balik jendela dan ternyata itu Chloe yang menggedor pintu sambil meneriaki namaku. Aku menahan Rayi yang sudah tidak sabar untuk berhadapan dengan Chloe karena perlahan warga berdatangan ke rumah karena merasa terganggu dengan ulah Chloe. Dengan mengumpulkan sepenuh kekuatan dan tenaga, ku ayunkan langkah kakiku dengan gagah berani untuk menemui Chloe.
"Mau apa?" tanyaku saat sudah berada tepat di belakangnya.
Aku hanya diam, malas mendebatnya. Chloe selalu membuat keributan dan menarik perhatian orang dan menurutku ini sangat memalukan. Entah dari mana dia mendapatkan nomor ponselku dan juga alamat rumahku. Apa dia menyewa detektif atau bagaimana ya?
"Kamu tuh memang perempuan nggak punya perasaan ya, kamu tahu nggak siapa keluarganya Arka?" tanya Chloe tapi aku memilih untuk diam.
Jelas saja aku mengenal orang tua Arka, aku tahu dari mana mereka berasal, aku tahu apa bisnis yang sedang mereka jalankan. Dan yang pasti keluarganya dan keluargaku saling kenal dan saling tahu. Kedua belah pihak sudah setuju dengan pernikahan kami.
"Asal kamu tahu ya, keluarga Arka itu saingan bisnis terbesar dari keluarga Awan," kata Chloe seolah dia tahu segalanya.
"Maaf ya Miss Chloe, saya tidak peduli dan apapun itu tentang Awan itu bukan urusan saya." kataku sambil mendorongnya supaya minggir dan aku bisa masuk ke rumahku.
Namun dengan kasar, Chloe menarikku dan membuatku terjatuh. Aku hilang kesabaran, ini rumahku lalu kenapa dia bertindak sesukanya terhadapku? Aku lalu berdiri, menepuk tangan sang lutut untuk membersihkan debu yang menempel saat aku jatuh.
"Mohon maaf, saya tidak menerima anda sebagai tamu. Silahkan anda pergi!" kataku sambil menunjukkan ke arah jalan keluar namun Chloe malah menatapku dengan tatapan menghina.
__ADS_1
Aku berhitung, jika dihitungan ketiga dia tetap di sini, aku tidak akan segan untuk menjambak rambutnya.
satu...dua...tiga..namun belum sempat aku beraksi, sandal jepit sudah melayang dan tepat menampar pipi Chloe. Uuhhh... rasanya pasti perih dan panas. Terima Kasih Rayi, kamu datang tepat waktu sehingga aku masih terlihat anggun dan tidak bar-bar. Bersamaan dengan itu Pak RT datang karena ada aduan dari warga yang merasa terganggu dengan kehadiran Chloe.
"Maaf mbak, ini sudah malam, mohon jaga ketenangan dan ketentraman," kata Pak RT.
"Ini biang onarnya Te, usir saja,bertamu kok nggak ada tata Krama, nggak tahu sopan santun. Saya terganggu ni Te," kata Rayi mulai dengan mulut kompornya, aku tinggal menunggu ledakkan berikutnya.
"Iya ni Pak RT, datang nggak ketok pintu baik-baik, nggak ngucapin salam baik-baik, langsung teriak aja. Padahal tadi Mbak Kasih nggak di rumah," Kata Bu Retno tetangga yang terkenal paling jutek.
"Udah gitu di njorokin Mbak Kasih sampai jatuh, tamu kok jahat," tambah Bu Susi.
Beberapa tetangga yang lain turut mengutarakan keresahan mereka dengan kedatangan Chloe. Asyik juga mendengarkan paduan suara warga. Kalau sampai Chloe bertahan di sini berarti dia benar-benar tidak punya malu.
"Rumahmu akhir-akhir ini sering ribut, ini ada apa lagi?" tanya Pak RT sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Orang ini, zaman saya masih sama Awan mantan saya kemarin, dia naksir sama Awan, cari gara-gara lah dia," kataku pada Pak RT berusaha menjelaskan.
"Nah kan Mbak Kasih sudah bubar sama Awan. harusnya nggak ada masalah dong?" kata Pak RT dengan sungguh sangat benar dan tepat
"Harusnya nggak masalah, tapi jadi masalah lagi Te, dia ternyata sekarang naksir sama Arka," kataku memperjelas masalah baru.
"Arka tunanganmu yang baik banget itu?" kata Pak RT sambil memanggul manggut.
"Dia ini suka iri sama Kasih Te, kali aja kalau Kasih pacaran sama pak RT, dia jadi ngincer Pak RT juga," tambah Rayi yang disambut tawa membahana oleh warga.
Chloe akhirnya menunduk dan berjalan sangat cepat ke arah mobilnya dan pergi. Kerumunan warga pun bubar setelah aku meminta maaf atas apa yang baru saja terjadi.
Baru saja aku merebahkan badan di atas tempat tidur. Ponselku berdering lagi dan betapa perasaanku menjadi bercampur aduk tidak karuan. Itu panggilan dari Awan.
__ADS_1