MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 76


__ADS_3

Kami tiba di rumah jam 10 pagi. Pasti Mbok Welas sedang menonton TV. Pola hidup Mbok Welas sangat teratur semacam rutin yang terjadwal. Setiap hari bangun jam setengah empat lalu mandi, mencuci pakaian, menyetrika dan membuat sarapan sampai jam tujuh. Mbok Welas kemudian sarapan dan mencuci peralatan masak serta peralatan makan. Setelah itu Mbok Welas menjemur cucian dan membersihkan seisi rumah. Pokoknya jam sebelum jam sepuluh semua harus beres karena acara FTV dan infotainment di televisi sudah dimulai.


"Weladalaahhh Dik Arka sama nduk Kasih sudah pulang," sambut Mbok Welas namun pandangannya tidak lepas dari TV.


"Mbok,aku capek," kata Arka sambil meletakkan kepala di pangkuan Mbok Welas.


"Minta pangku istrimu, kok malah ke sini," kata Mbok Welas tapi membiarkan Arka tidur di pangkuannya.


"Istriku juga capek, Mbok. Kasian!" kata Arka dengan nada sangat manja.


"Mbok juga capek dik, kamu nggak kasian?" balas Mbok Welas.


"Ya udah, aku istirahat di dalam saja," kata Arka kemudian berlalu pergi.


Aku yang merasa lelah dan malas tengkurap di samping Mbok Welas. Seperti biasa, aku kemudian mengambil buku dan pensil lalu membuat sketsa baju. Entah sudah berapa yang aku buat, hanya untuk mengisi kekosongan. Arka kemudian kembali lagi dengan celana kolor dan kaos oblong andalannya. Aku lalu meminta izin Arka untuk bekerja, tapi Arka keberatan karena kalau aku sibuk bekerja, waktuku untuknya akan berkurang. Padahal dia juga sering tidak punya waktu untukku. Ingin ku protes padanya tapi sepertinya aku harus jadi istri yang baik dan menurut sama suami.


"Bagus tuh yank, aku modalin kamu buka butik ya," kata Arka yang melihat sketsa desain baju yang membuat hatiku berbunga-bunga, itu adalah salah satu impianku.


"Tapi aku nggak bisa bikin pola, nggak bisa jahit juga," kata


"Nanti aku daftarin kursus, aku cariin guru yang terbaik," kata Arka sambil meletakkan kepalanya di punggungku.


"Eh, kalau bikin pola sama jahit, jadi tukang jahit dong, tailor bukan desainer," protesku.


"Ya dasarnya kan memang itu, dulu aku mau buka resto juga belajar masak padahal aku kan bagian ngelap meja," kata Arka dan disambut mbok Welas dengan tertawa.

__ADS_1


Iya juga, itu ide yang bagus jadi aku punya kegiatan, tidak sekedar duduk menemani Mbok Welas menonton FTV, Sinetron dan Infotainment. Memang aku pernah bermimpi punya butik yang semua dari hasil karyaku dan hanya produksi satu untuk satu model jadi itu benar-benar limited edition dan terkesan sangat eksklusif. Bagai mimpi yang akan menjadi nyata. Tapi, ... ... ...


"Nggak jadi deh mas," tolakku pesimis


"Lho, kenapa?" tanya mas Arka


"Takut nanti nggak laku, gimana jualnya coba?" aku mulai putus asa.


"Yang penting kamu kursus aja dulu, kan yang mau dijual juga belum ada," kata Arka yang tetap menyemangati ku.


...****************...


Sudah hampir seminggu dan hari ini Arka menghampiriku dengan senyum sumringah. Dia memberiku kabar kalau ada istri temannya yang menerima jasa kursus menjahit dan itu secara private pula. Kita sebut saja dia Mbak Maura. Mbak Maura bahkan mau mendatangi rumah anak didiknya. Aku pun setuju karena kalau harus ke lokasi kursus, kasian Mas Arka karena pasti dia akan menjadi sibuk karena harus mengantar dan menjemputku walaupun sebenarnya aku bisa mengandalkan ojek online tapi pasti Mas Arka akan keberatan. Mas Arka lalu menelpon Mbak Maura untuk mengatur jadwal kursus dan dengan nego alot, akhirnya aku mendapat jadwal seminggu tiga kali, Senin, Rabu dan Jum'at.


Hari ini juga kami pergi membeli semua keperluan untuk kursus menjahit mulai dari koran bekas untuk pola, mesin jahit terbaik, meteran, serta alat jahit yang lain. Arka tampak sangat bersemangat dan memintaku untuk mempersembahkan karya pertamaku untuknya.


"Ya nggak apa-apa, aku mau kok dibikinin daster, yang ada talinya di pinggang," kata Arka dan membuatku tertawa.


"Kamu pakai dasterku aja kalau gitu," balasku sambil mencubit gemes pinggangnya.


"Kekecilan, yank" kata Arka lagi seolah-olah semua ini bukan candaan.


Dengan bantuan Mbok Welas, kami menata ruang menjahit untukku. Terlihat sangat luas dan menyenangkan. Sejak saat ini, ruangan ini kuberi nama Ruang Jahit dan selanjutnya akan menjadi 'kantor'ku. Mbok Welas yang bisa menggunakan mesin jahit kemudian mencobanya. Mumpung masih garansi katanya, jadi kalau ada yang rusak bisa langsung ketahuan. Ini malah Mbok Welas yang kelewat bersemangat. Mbok Welas kemudian ke kamarnya dan kembali dengan satu koper yang katanya berisi pakaian akan diperbaiki.


"Nanti jadi tukang jahit dulu, dibikinin papan di depan, biar keren tulisannya ARKAS TAILOR," usulan Arka yang langsung ku tolak

__ADS_1


"Kok ARKAS? Kan yang jahit aku," kataku sambil mencolek hidung Arka.


"ARKAS. AR-ka KAS-sih," kata Arka menjelaskan dengan bangganya.


"Kok jadi nama mas yang di depan?" aku masih melakukan penolakan.


"Kalau kamu duluan jadinya KASAR dong, nggak enak," kata Arka sambil menunjuk ke pelipisku.


Ku iyakan saja dulu untuk sementara. Kalau ku pikir-pikir ini termasuk lucu juga, bagaimana mungkin kami sudah berdebat sedangkan aku kursus saja belum. Memang selalu jadi sesuatu yang konyol kalau bersama Arka.


Ku tinggalkan Arka dan Mbok Welas di ruang jahit itu. Rasanya sangat gerah, aku butuh mandi dan sekalian keramas untuk menyegarkan badan dan berganti pakaian yang sudah berbau asem. Keluar dari kamar mandi, Arka sudah berada di kamar. Untung saja aku sudah memakai handuk kimono, kalau tidak aku pasti bingung tidak jelas. Aku lalu duduk di meja rias dan Arka mendekatiku dan membantuku mengeringkan rambut.


"Kamu wangi yank, seneng punya istri wangi," kata Arka sambil mencium rambutku.


"Nggak nikah ajah sama sa.. .." ku hentikan kata-kataku.


Ingin ku ucapkan sabun GIV tapi itu mengingatkanku pada candaan ku dengan Awan setiap kali dia memuji karena aku wangi. Mungkin kalau ada kontes nyanyi yang penuh penghayatan dan aku membawakan lagu mantan terindah, pasti akulah pemenangnya. Tapi sudahlah, mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu, aku di sini, engkau di sana, meski hatiku memilihmu. Dan lirik itu terus terngiang dan berputar di kepalaku. Aku harus sadar, aku dan Awan sudah usai benar-benar usai dan aku tidak siap kalau dihujat 95% kaum hawa kalau aku sampai menyia-nyiakan Arka. Komen netizen itu mengerikan apalagi sejenis Rayi. Aku sampai bergidik sendiri seperti melihat hantu saja.


"Kok bengong yank," kata Arka yang ternyata sudah selesai mengeringkan rambutku.


"Nggak, kalau rambutku treat seperti itu bawaannya ngantuk. Mas mantan banci salon ya?" tanyaku berusaha menutupi pikir-pikir nggak jelas ku tadi.


"Banci salon minta bayaran dong," kata Arka sambil tersenyum.


"Nggak punya duit, nggak punya saku nih." jawabku membalas senyumnya.

__ADS_1


"Mumpung kamu udah cantik dan wangi, kamu nggak pingin punya anak dariku?" kata Arka santai seperti minta diambilkan sebotol air mineral.


Aku hanya diam membatu saat tangan Arka mulai menyentuh pundakku. Kalau ditolak tidak ada alasan yang tepat, tapi kalau ku terima, kok aku seperti menghadapi sidang skripsi dengan penguji dua orang dosen killer. Kenapa di saat seperti ini? Aku harus jawab apa?


__ADS_2