
"Kalian kenapa di sini? Mas Adit kan datang, dik." kata Bu Gendis begitu tiba tepat di depan kami.
"Keluargaku sekarang bukan hanya kalian ma, Rinto sama Rayi menikah dan Kasih juga kangen sama ibunya," jawab Arka sambil mengulurkan tangan menyalami Bu Gendis dan aku mengikutinya.
"Tapi acaranya kan sudah selesai, Yu Welas aja sudah pulang," kata Bu Gendis menegaskan.
"Tapi kenapa mama malah ke sini?" tanya Arka dengan nada tegas.
Bu Gendis diam tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Dia kemudian masuk ke dalam rumah disusul oleh sopir yang tergopoh-gopoh membawakan barang bawaannya. Aku bergegas menyusul Bu Gendis masuk ke rumah untuk membuatkan minuman dan menyiapkan makan siang. Arka menyusulku dan membantuku memasak di dapur, karena dia tahu pasti kemampuanku memasak. Rasanya ingin mengasihani diriku sendiri yang sangat terbatas kemampuan memasak ku. Namun aku tetap ingin berusaha memberikan yang terbaik.
Selesai masak dan membersihkan dapur, aku ke kamar Bu Gendis untuk memanggilnya makan namun tidak ada jawaban. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu yang sedikit terbuka dan tampak Bu Gendis melamun di meja rias.
"Ma," aku memanggilnya selembut mungkin berharap tidak mengagetkannya namun dijawab dengan helaan napas yang panjang.
Bu Gendis ke sini untuk membujuk Arka supaya mau mengalah dan tidak memperebutkan masalah harta Pak Surya karena Aditya datang untuk mengambil apa yang menurutnya adalah haknya. Saat ini Pak Surya dan Aditya sedang bertengkar hebat karena masalah ini. Semua ini karena Aditya merasa diremehkan oleh pihak keluarga istrinya yang menganggap Aditya hanya menumpang hidup dengan mereka. Untuk membuktikan bahwa dia juga mampu menghidupi keluarganya dengan cara meminta perusahaan dari orangtuanya.
"Ini salah mama karena terlalu memanjakan Adit, semua ini karena mama menyayanginya dan kasihan padanya yang sedari lahir tidak merasakan kasih sayang seorang ibu," kata Bu Gendis dengan pandangan menerawang.
"Mama sudah berusaha melakukan yang terbaik," kataku mencoba menghiburnya.
"Tapi mama tidak pernah bisa membuat Adit dan Arka saling menyayangi dan rukun. Semua salah mama yang lebih meminta Arka untuk selalu mengalah pada Adit," kata Bu Gendis yang mulai menghapus air mata yang mulai menitik dari sudut matanya.
"Arka nggak apa-apa kok ma. Kita makan dulu aja. nanti baru kita bicarakan lagi," kata Arka yang muncul di depan pintu dengan senyumnya.
__ADS_1
...****************...
Kami tiba di rumah saat hari hampir senja. Bu Gendis masuk ke rumah induk sedangkan aku dan Arka langsung ke paviliun. Rasanya badanku sangat gerah dan lengket, aku segera mandi supaya badan terasa segar dan nyaman. Selesai mandi, aku merapikan semua barang bawaan dan membersihkan tempat tidur. Arka terlihat tertidur di sofa padahal dia belum mandi, belum juga mengganti baju. Aku menyelimutinya karena tidak ingin membangunkannya. Rinduku pada Mbok Welas menuntun langkahku ke rumah induk. Heran, jam segini Mbok Welas tidak berada di depan TV. Aku segera masuk ke dalam untuk mencarinya.
"Siapa kamu?" suara sedikit berat cukup mengagetkanku membuatku refleks membalikkan badanku.
"Aku Kasih," jawabku sedikit tergagap.
Di depanku berdiri seorang pria dengan tatapan yang sebenarnya cukup meneduhkan. Kulitnya sawo matang badannya terlihat tegap walaupun menurutku tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 165cm. Lama dia menatapku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dan itu tindakan itu sukses membuatku risih.
"Oh, mau ngapain?" tanyanya tegas.
"Kamu Mas Adit?" aku malah balik bertanya
"Pertanyaanku belum kamu jawab lho," tegasnya tanpa melepaskan pandangannya dariku.
"Ada di kamarnya." jawabnya sambil memunggungi ku dan melangkah pergi.
Kenapa Aditya menyambutku dingin dan terkesan arogan seperti itu? Tanpa basa-basi dan seolah aku bukanlah siapa-siapa di rumah ini. Tapi ke mana anak dan istrinya? Ah, sudahlah aku harus bergegas ke kamar Mbok Welas tapi kamar itu terlihat beda dan berisi mainan anak-anak yang berserakan. Lama aku celingukan seperti kucing yang mencari ikan di atas meja makan aku membuka kamar yang lain dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Mbok Welas di sana. Ternyata Mbok Welas pindah ke kamar yang paling pojok yang biasa ditempati oleh Lovely. Aku menemuinya dan melihatnya termenung menatap ke luar jendela dan terukir senyum bahagia di bibirnya saat melihat kedatanganku.
"Mbok ikut kalian tinggal di paviliun ya," pinta mbok Welas.
"Lho?? Paviliun kan kamarnya cuma dua, yang satu udah untuk ruang jahit," jawabku bingung dengan permintaan Mbok Welas.
__ADS_1
Mbok Welas lalu bercerita, baru beberapa hari berada di sini, Aditya mulai mengatur semuanya termasuk kegiatan Mbok Welas, Aditya bahkan dengan tegas melarang Mbok Welas menonton TV dengan alasan anak-anaknya nanti terpengaruh untuk berada di depan TV sepanjang hari. Mbok Welas juga beralasan kalau selama ini dia bekerja untuk Arka bukan untuk melayani Aditya. Aku berjanji untuk membahasnya dengan Aditya, mengenai ruang jahit, mungkin bisa kami atur untuk berada di ruang tengah dan semua sofa diletakkan di teras rumah. Dan tatapan Mbok Welas yang penuh harapan mendorongku untuk bergegas pulang dan menceritakan semua pada Arka.
Arka sedang sibuk memasak saat aku sampai. Dia menyambutku dengan senyum dan mengatakan kalau masakannya sebentar lagi sudah matang dan memintaku untuk menunggu. Aku menceritakan semua keluhan Mbok Welas dan Arka hanya tersenyum tipis mendengarkannya. Aku heran dengan reaksinya yang tidak seperti biasanya. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan aku pun membukakan pintu dan ternyata Mbok Welas yang datang.
"Dik, dipanggil mama diajak makan," kata Mbok Welas.
"Arka sudah masak sendiri mbok, mbok Welas ikut makan di sini aja," kata Arka malah menarik Mbok Welas masuk ke rumah.
"Tapi ini mama yang minta," kata Mbok Welas berusaha agar Arka memenuhi ajakannya
"Malas banget berbagi oksigen sama Mas Adit," kata Arka yang membuatku merasa heran.
"Ya, kan Kasih juga harus dikenalin sama Adit. Kamu juga harus bertemu sama ipar dan ponakanmu kan? Ayo to, ngger. Ojo gawe masalah," kata Mbok Welas dan wajah sedikit khawatir.
Aku lalu membisikkan pada Mbok Welas kalau aku akan mencoba merayu Arka. Mbok Welas setuju kembali ke rumah induk dengan wajah yang kusut. Tidak seperti biasanya Mbok Welas seperti tertekan begitu.
"Mas tuh selalu sukses menggiring sesuatu yang harusnya simpel menjadi ribet," kataku memulai argumen.
"Kalau ada yang ribet kenapa harus simpel?" jawab Arka sambil mempermainkan poniku.
"Kasihan Mbok Welas, mas." kataku berusaha membujuknya.
"Nanti bisa diatur, kita makan dulu aja ya, kamu nggak kasian sama aku yang sudah bersusah payah masakin buat kamu sementara kamu ngerumpi sama Mbok Welas?" kata Arka yang membuatku sulit untuk menolaknya yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kok udah pergi? Kan belum meluk aku?" kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku yang membuat Arka kembali dan memelukku.
Separah apa hubungan Arka dengan Aditya sampai aku seperti menghadapi Arka yang tidak bisa ku kenali sama sekali? Ya bahkan seolah tidak peduli dengan nasib Mbok Welas dan mengabaikan permintaan Bu Gendis?