
Akhirnya kami sampai juga di rumah ketika hari menjelang senja. Rayi masih heboh dengan Genji Takiyanya. Berjuta pujian dilontarkan untuk pria yang bahkan namanyapun tidak dia ketahui. Penasaran mulai muncul di benakku.
"Dari postur tubuhnya, sepertinya aku pernah melihatnya," kataku sambil berpikir keras.
"Sudah terpesona ya?" tanya Rayi menggodaku
"Kan tadi cuma kelihatan dari jauh, tampak belakang pula," jawabku sambil menoyor kepala Rayi.
Aku lalu pamit tidur, walaupun belum jam tujuh malam, ngantuk itu sudah menyapaku dan Rayi pun pulang ke rumahnya. Mataku terpejam namun pikiranku mulai melayang ke mana-mana. Entahlah, dua hari ini rasanya hidupku ku jalani dengan sia-sia dan berantakan. Terlalu sibuk dengan kekhawatiranku sendiri tentang Awan dan rasanya sangat melelahkan. Mungkin ada benarnya kenapa saat SMA bapak melarangku untuk berpacaran, lihatlah aku saat ini yang katanya memasuki usia dewasa, namun semuanya serasa menjadi ruwet gara-gara cinta. Apa mungkin aku terlalu terburu-buru menerima Awan menjadi kekasihku? Harusnya aku boleh meminta waktu untuk melihat dan menimbang sebelum memutuskan.
...****************...
Hari berlalu dengan cepat, aku mulai bisa mengatur hubunganku dengan Awan. Kami sepakat untuk tidak terlalu sering bersama jika kami ada urusan yang tidak mungkin untuk mengajak pasangan seperti untuk urusan bisnis atau jika aku butuh waktu bersama teman-temanku. Kami menjalani hari-hari seperti sebelumnya saat masih berteman namun dengan status berpacaran. Dan ini terasa lebih mudah bagiku untuk menjalaninya dan membuatku jauh lebih bahagia.
Hari ini Sabtu dan malam ini aku dan keluarga Awan akan makan malam bersama di salah satu restoran yang terbilang mewah di kota ini. Yang kabarnya bahkan es teh saja berharga tiga kali lipat dibanding es teh di warteg.
Rayi tidak berhenti mengomel dari pagi dan memaksaku untuk melakukan perawatan supaya malam ini aku bisa tampil glowing maksimal dan akhirnya ku turuti saran dari Rayi, ya sekalian me time.
"Sepeda motor mana?" tanyaku saat melihat Rayi datang sambil berjalan kaki.
"Bocah gendeng, kalau naik motor kan jadi sia-sia perawatan kita. Keluar dari salon udah kempling eh, malah terpapar sinar matahari, debu dan polusi. Big no way ya," kata Rayi sambil berkacak pinggang.
"Terus?" tanyaku pada Rayi sambil menghela napas dengan kasar.
"Order taksi online," jawabnya dengan enteng sambil duduk di teras rumah.
"Astaga, harusnya kamu bilang dari tadi, jadi udah order jauh-jauh hari kita nggak kelamaan nunggu, Rayi!!" kataku gemas. Ingin rasanya kutarik-tarik rambutnya.
__ADS_1
"Halah, nggak usah mengeluh, nunggu sebentar tok," katanya santai sambil memainkan medsos dari ponselnya. Rasanya ingin kukucek-kucek si Rayi seperti cucian.
Lumayan lama kami menunggu, hampir setengah jam sampai taksi online kami datang. Aku lebih banyak diam memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. Rayi tidak berhenti menjelaskan tata cara table manner yang dia kuasai karena merupakan lulusan SMK jurusan perhotelan. Namun penjelasan Rayi membuatku semakin gugup mengenai berapa banyak sendok, garpu dan pisau yang akan aku hadapi malam ini.
"Kenapa mereka nggak makan makanan rumahan aja. Atau kalau nggak ya citarasa Nusantara, tumbuh kan jiwa cinta Indonesia gitu," kataku bergumam lebih kepada diriku sendiri
"Jadi, kamu berharap kalian makan sate ayam Ponorogo di ujung gang gitu?" kata Rayi setengah berteriak dan membuatku dan bahkan pak Sopir kaget. Aku lalu mencubit pinggang Rayi berharap diam sambil meminta maaf kepada pak sopir itu. Rayi malah tertawa terbahak-bahak melihat kepanikanku.
Akhirnya kami tiba di sebuah salon kecantikan yang menurut Rayi terbaik di kota ini. Rayi memilih paket creambath, facial dan lulur untukku.
"Ra, nggak perlu luluran," kataku menolaknya
"Malam ini kamu harus cantik seperti Cinderella harus perfect dari ujung rambut sampai ujung kaki," kata Rayi.
"Pakai sepatu kaca juga?" kataku menggodanya sambil tersenyum.
"Kamu nggak ikut perawatan?" tanyaku heran karena tidak ada kesepakatan dari awal kalau aku ditinggal di sini.
"Ketemu Mas Arya, dia mau deal seragam lagi," katanya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah berhasil memesan ojek online.
"Mas Arya siapa?" tanyaku karena nama itu terdengar asing di telingaku.
"Mas Arya, si Genji Takiya," kata Rayi sambil mengembangkan senyumnya.
"Orang sudah pindah ke Korsel, dia masih aja main sama Genji Takiya di Jepang," protesku mengiring langkah Rayi yang berjalan menuju pintu.
"Aku orangnya setia, " kata Rayi sambil melambaikan tangan dan berlalu pergi.
__ADS_1
Aku mulai dengan creambath kebetulan kepala lagi berat dan terasa pusing, creambath memang udah paling pas! Selain perawatan rambut, aku mendapatkan pijatan di area kepala, leher, bahu, bahkan sampai punggung. Sambil creambath, aku juga sekalian manicure dan pedicure. Jadi makin terawat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian aku lulur dan massage menggunakan krim lulur dengana aroma bunga. Setelah lelah berkegiatan, paling enak memang massage! Pijat adalah perawatan tubuh di salon yang paling aku gemari. Bisa bikin tubuh jadi lebih rileks, ringan, bebas pegal-pegal, dan melancarkan aliran darah Setelah selesai perawatan, kulit rasanya makin mulus dan lembut. Aku kemudian lanjut facial, untuk mengangkat dan membersihkan komedo di wajah. Meski prosesnya menyakitkan, tapi aku merasa cocok dengan perawatan ini karena sesudahnya kulit jadi lebih halus dan bersih.
Aku sudah selesai dan merasa jadi wanita paling wangi dan paling cantik sedunia. Luar biasa nyaman. Baru saja aku akan mengeluarkan ponsel dari tasku untuk menghubungi Rayi, ternyata dia sudah duduk manis di depan dan sudah melunasi semua tagihan.
"Berapa?" tanyaku ke Rayi
"Udah nggak perlu, anggap saja hadiah dariku," kata Rayi dengan wajah congkak.
Aku heran, tidak seperti biasanya Rayi sebaik ini. Tapi aku tahu Rayi, suatu saat dia pasti akan keceplosan. Bukannya merendahkan Rayi, aku tahu kondisi keuangannya. Kalaupun dia dapat bonus atau uang tambahan dia selalu bercerita padaku.
Kami memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Tidak ada acara keluyuran supaya aku tetap cantik sampai nanti malam dan itu menurut pendapat Rayi. Hari ini seluruh hidup dan tingkah lakuku diatur olehnya.
...****************...
Aku dan Rayi memasak untuk makan siang ini. Seperti drakula, aku tidak boleh terkena panas, mungkin bisa meleleh. Walaupun kurang masuk akal, namun tetap kutaati saja semua peraturan Rayi. Dia juga membuat kudapan salad buah extra mayo untukku, biar sehat katanya.
"Ra, nggak ada yang instan, perawatan rutin lebih berarti, acaranya juga cuma satu malam," kataku mulai protes dan risih dengan berbagai macam aturan yang Rayi buat.
"Ya kan biar kamu mempesona," katanya meyakinkanku.
"Mereka tuh sudah tahu wujud asli ku lho, Ra." aku mulai mengeluarkan kata-kata memberontak.
"Kalau kamu tampil maksimal, berarti kamu menghargai mereka, gitu lho Kas," lagi-lagi Rayi ngotot supaya aku menurut padanya
Belum sempat aku mendebatnya, ponselku berdering dan ada panggilan dari nomer yang tidak ku kenal. Rayi dengan cepat mengambil ponselku dan mengangkatnya dengan mode loudspeaker.
"Kas, kok nomerku kamu blokir?" suara penelpon gelap itu membuat aku dan Rayi langsung hening.
__ADS_1