MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 69


__ADS_3

Arka berbaring di kamar seolah tidak peduli dengan kehadiranku. Berbantal tangan dan mata tertutup serta telinga ditutupi earphone. Begini cara Arka ngambek? Tidak mau peduli dan menutup diri dari sekeliling, tutup mata tutup telinga. Bagaimana semua bisa dibicarakan? Jujur aku juga bingung, baru kali ini Arka bersikap seperti ini. Biasanya dia selalu terkesan bisa mengerti aku dan tenang dalam menghadapi semua situasi. Aku lalu duduk di ujung tempat tidur berharap dia sadar dengan kehadiranku tapi sepertinya nihil.


"Mas dengar atau tidak, aku mau minta maaf kalau aku ada salah. Tapi aku sungguh-sungguh ingin menjalani semua denganmu," kataku sambil menunduk.


"Aku nggak suka kamu menutup-nutupi perasaanmu. Seolah kamu sudah nggak peduli sama Awan. Tapi wajahmu cerah saat kamu bercerita tentang dia. Munafik!" kata Arka dengan mata masih tertutup dan earphone masih ditelinga.


"Menurutku, ada yang harus diungkapkan dan ada yang harus ku simpan sendiri," kataku berusaha membela diri.


"Tapi saat aku mencumbu kamu, pasti bayangan Awan yang hadir saat matamu terpejam," kata Arka yang seolah menamparku.


"Kalau mas mau cemburu silahkan, tapi jangan bikin cerita yang tidak ada faktanya," kataku mulai protes.


"Yang tahu cuma kamu, sulit untuk membuktikan perasaan seseorang," kata Arka yang sudah duduk di sampingku.


"Mas aja diam-diam menemui Awan saat aku tertidur," kataku mencoba mengimbangi pembicaraannya.


"Tapi aku pergi untuk memperjuangkan mu yank, berharap dia nggak gangguin kita lagi. Dan kamu berpura-pura mesra di depannya, supaya aku yakin kalau kalian sudah selesai? Oh, dan kejadian di kebun strawberry itu pasti kamu menikmatinya ya? Dan saat kamu tahu aku ada di sana, lalu kamu playing victim?" tuduh Arka.


Aku nggak menyangka Arka berprasangka buruk padaku sampai sejauh itu. Padahal dia sendiri yang memintaku untuk tidak membenci Awan tapi sekarang dia malah punya pikiran konyol seperti itu. Aku mulai tidak bisa berpikir, kepalaku rasanya terlalu penuh, semua seperti roller coaster yang mengimbangi ambingkan keadaan. Aku lalu berdiri dan siap meninggalkan Arka sendirian.


"Terus aja kamu seperti itu, kamu pergi meninggalkan setiap masalah yang harusnya kamu hadapi. Kamu gantung semua tanpa solusi," kata-kata Arka yang sukses menghentikan langkahku.

__ADS_1


"Mas maunya apa? Aku harus gimana?" tanyaku mulai serba salah.


"Aku cuma kamu mau jujur, kalau kamu masih mencintai Awan, bilang aja terus terang," kata Arka mendesakku.


"Iya mas, aku masih mencintai Awan, aku masih sangat mencintainya. Aku rindu ingin bermanja di pelukannya. Tapi aku harus berusaha menjaga harga diriku sebagai istri orang. Aku harus meninggalkan semuanya karena aku mau jalani semua dengan kamu. Aku mau berusaha hidup sama kamu, jadi istri yang baik untukmu, aku hanya perlu kesempatan dan waktu yang tepat, mas!" teriakku sambil berlinangan air mata


Aku terduduk bersimpuh di lantai, lelah dan sudah tidak kuat kaki ini menahan tubuh yang penuh beban masalah. Terdengar langkah kaki berlarian menuju ke kamar kami. Bu Gendis kemudian masuk dan merangkulku dan membiarkanku menangis di pelukannya.


"Dik, kamu apain Kasih?" tanya Bu Gendis sambil melotot ke arah Arka.


"Maafin aku Kas, kalau nggak gini, kamu ngga didesak gini, kamu nggak akan pernah mau terus terang sama aku," kata Arka.


Arka kemudian duduk di depanku, melepaskan pelukan Bu Gendis dan memelukku sangat erat. Dia mengatakan kalau dia pura-pura ngambek supaya aku bisa terbuka padanya. Dia hanya ingin aku jujur padanya. Sesekali terasa dia mencium puncak kepalaku dan terus berusaha menenangkan ku.


Kepalaku terasa pusing, mungkin karena pengaruh datang bulan dan habis menangis seharian. Aku masih menyimpan jamu kunyit asam di kulkas. Sebaiknya aku minum dulu biar bisa mengurangi kram perut.


"Mama sudah pernah bilang, Kasih itu mencintai pria lain, tapi papa terus mendesak," terdengar suara mama setengah berbisik di meja makan.


"Papa cuma nggak mau aja Arka seperti Aditya, menikah dengan orang nggak jelas. Kan kita juga nggak maksa, Kasih sendiri yang memutuskan setuju dengan pernikahan ini" kata Pak Surya membantah istrinya.


"Nggak jelas gimana, istrinya cuma orang luar. Wajar dong, papa sama Adit kan sering ke luar negeri," lanjut Bu Gendis.

__ADS_1


Kalau tadi siang Arka yang menguping pembicaraanku dengan ibu, kali ini giliran aku yang menguping pembicaraan mereka bertiga. Bukannya mau balas dendam hanya saja ini kan kesempatan dan bukannya berniat lancang tapi penasaran karena mereka membahas tentangku.


Aditya adalah kakak Arka yang sekarang di luar negeri, tepatnya di Malaysia. Istrinya Fiona, peranakan Melayu-Cina yang tidak tahu sama sekali dengan adat dan budaya Jawa dan yang membuat Pak Surya tidak senang hati hanyalah karena sejak mereka menikah, mereka belum pernah sekalipun pulang, bahkan mereka juga menikah di Malaysia tanpa kehadiran Pak Surya dan Bu Gendis bahkan seperti apa kedua cucunya saat ini pun mereka tidak tahu. Mereka hanya berhubungan lewat ponsel,dan Pak Surya bahkan menolak untuk berkomunikasi dengan Mas Adit dan keluarga kecilnya. Persis seperti bapak yang menolak menghubungiku saat kami ada masalah. Ego dan gengsi orang tua.


Kenapa aku yang terpilih jadi menantu keluarga ini? Karena aku berasal dari desa yang sama, dan bapak adalah sahabat Pak Surya. Aku juga kerja di kota tempat di mana bisnis Pak Surya dijalankan. Walaupun akhirnya kami memilih untuk tinggal di sini. Tapi menurut Pak Surya itu tidak ada masalah sama sekali karena kami masih berada di lingkup keluarga mereka.


"Papa kan sudah bilang, adik jangan terlalu mendesak Kasih, pelan-pelan kamu harus sabar merebut hatinya," kata Pak Surya pada Arka.


"Papa sama Mama nggak paham inti masalahnya. Udahlah, Arka yakin, Arka bisa menyelesaikan semua ini," kata Arka mantap.


"Mama nggak mau perkara kamu nggak sabar, akhirnya kalian pisah. Jujur, mama seneng sama Kasih, " kata Bu Gendis


"Nggak akan pisah ma, hingga maut memisahkan," kata Arka lagi dan kedua orangtuanya diam.


Suasana menjadi hening, sepertinya mereka sudah selesai. Aku bergegas kembali ke kamar dan pura-pura tidur. Benar dugaanku, tidak berapa lama kemudian, terdengar suara Arka masuk ke kamar dan diiringi suara pintu dikunci.


"Yank," suara Arka memanggilku tepat di telingaku namun aku tetap berpura-pura tidur.


"Maafin aku tadi siang ya. Aku hanya ingin memastikan isi hatimu. Nggak apa-apa kalau cintamu masih untuk Awan. Aku cuma nggak mau kamu merasa beban dan nggak bahagia dengan pernikahan ini," kata Arka kemudian mengecup pipiku.


"Oh iya aku tahu, kamu tadi menguping pembicaraan kami di meja makan, kamu mau ambil jamu kan? Itu udah aku bawain, aku taro di nakas," kata Arka yang membuatku seperti maling yang tertangkap basah.

__ADS_1


"Cepat diminum jamunya, abis minum jamu kamu langsung tidur beneran, jangan pura-pura kayak gini, kurang tidur nggak baik untuk kesehatan," lanjut Arka yang membuat mulutku ternganga.


Malunya minta ampun deh, ini aku terusin pura-pura tidur atau lanjut tidur beneran aja ya? Padahal aku ingin sekali minum jamu atau aku buka sekalian karena sudah terlanjur ketahuan?


__ADS_2