MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 96


__ADS_3

Awan tampak mengabaikanku dan mengajak Chloe dan Sophie untuk pergi dari butik ini. Aku menghela nafas lega karena tidak perlu bersusah payah menghindarinya. Tapi ada yang mengganjal di hati melihat Awan bersikap dingin padaku. Rasanya sedih diabaikan seperti itu padahal dulu dia sangat mencintaiku. Aku merasa sangat bodoh mempunyai pikiran seperti itu, hei Kasih sadarlah, sekarang kamu sudah punya kehidupan sendiri dan Awan juga akan memulai hidup baru bersama Chloe. Jangan bodoh, Awan itu seperti spion yang jika terus menerus aku fokus padanya, aku bisa celaka sendiri karena mengabaikan apa yang ada di depanku. Pikiran ku kacau dan bercampur aduk, perang batinku dimulai antara nalar dan perasaan dan membuatku menghela napas panjang.


"Hebat ya kamu, bisa-bisanya mantanmu sekeren itu dan suamimu seperti Arka," kata Keysha sambil terus menatap Awan sambil mulutnya sedikit menganga.


"Hebat apa? Biasa aja," kataku.


"Kok bisa sih Kas, sorry to say ya Kas, penampakanmu aja seperti ini. Nggak mewah-mewah banget gitu lho," kata Keysha sambil terkekeh.


"Cowok tuh suka yang natural and mature." jawabku asal sambil mengibaskan rambut si depan Keysha.


Aku kemudian pamit dan menelepon Arka untuk menjemputku. Sesekali bolehlah manja minta jemput, nggak terus menerus memanfaatkan transportasi online. Arka berjanji menjemputku dan memintaku untuk menunggu di cafe seberang butik. Aku memesan cappucino kesukaanku sambil membuka sosial media dan memposting beberapa hasil desainku dengan caption 'made by order' aku mulai percaya diri setelah melihat hasil dari Lovely. Entah mengapa aku jadi senyum-senyum sendiri berharap akan banyak peminat dan pesanan yang akan masuk.


"Sayang?" suara tidak asing dan sudah lama tidak masuk ke telingaku.


"Sebaiknya kamu pergi saja daripada tunanganmu melabrak dan membuat malu," kataku sambil berusaha tetap fokus pada ponsel, tapi kalau mau jujur, aku tidak berani menatap matanya.


"Chloe? itu keinginan daddy. Aku tidak seperti kamu dan Arka yang mau hidupnya diatur padahal batin tersiksa," sindir Awan yang memicu emosiku seketika.

__ADS_1


Awan lalu bercerita bagaimana Chloe mengambil hati daddy nya serta merawat beliau saat sakit. Mommy nya yang khawatir melihat Awan terus menerus terlihat sedih sejak berpisah dariku mulai khawatir dan memaksanya untuk move on dengan menjodohkan dia dengan Chloe tapi sampai saat ini Awan tidak pernah memberi jawaban sama sekali. Pantas saja tanggal pertunangannya belum ditentukan. Sekali lagi Awan menanyakan tentang perasaanku padanya. Aku yang konsisten diam sejak awal dan berpura-pura sibuk dengan ponsel agak tersentak mendengar pertanyaan itu.


"Aku sama Arka baik-baik aja dan kami bahagia," kataku tegas.


"Aku tidak bertanya mengenai kehidupanmu bersama Arka, aku menanyakan perasaanmu padaku," tegas Awan sambil terus menatap mataku sangat dalam


"Aku mulai mencintai Arka dan merasa nyaman hidup dengannya," kataku lagi sambil berusaha tegar menatap wajah yang menanti jawabanku.


"Kamu masih mencintaiku, sayang" kata Awan dengan senyum kemenangan tersungging di bibirnya.


Ya ini memang langkah paling benar, aku harus mantap meninggalkan Awan. Walaupun jauh di lubuk hatiku masih ada cinta untuknya. Namun, demi Arka yang juga mencintaiku dengan tulus, aku berjanji pada diriku sendiri supaya sebisa mungkin aku jangan pernah terlibat lagi dengan Awan untuk urusan apapun, selain sudah tidak pantas, ngeri juga membayangkan kalau harus berurusan dengan Chloe.


Aku bertemu dengan Arka di depan pintu cafe dan beralasan aku bosan menunggu di dalam sendirian. Kami menaiki mobil dan melaju pulang. Selama perjalanan, aku tidak memberitahukan pada Arka mengenai pertemuanku dengan Awan. Anggap saja itu tidak terjadi, dia sudah bukan lagi bagian dari hidupku. Arka juga tidak perlu tahu kalau itu bisa menyakiti perasaannya. Aku yakin suatu saat rasa cintaku pada Arka akan semakin besar dan semua cintaku bisa kuberikan utuh untuknya.


Aku kemudian membahas mengenai hasil karyaku dan menunjukkan pada Arka foto yang dikirimkan oleh Lovely dan membahas usahaku yang sudah memposting beberapa desain ku di medsos. Dan ternyata sudah ada yang DM untuk menanyakan cara memesan. Aku semakin bersemangat untuk menjalankan bisnisku. Arka tersenyum bahagia melihat tingkahku yang kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan boneka idamannya. Sesekali Arka mengusap kepalaku dan kadang mengacak-acak rambutku. Kami larut dalam candaan dan aku merasa sangat senang.


...****************...

__ADS_1


Aku baru selesai mandi setelah memasak untuk makan malam kami. Aku meminta Arka mengajariku memasak karena aku tahu, akan lebih baik jika aku yang melayani suamiku. Selesai makan malam, kami menghabiskan waktu di ruang tengah sambil menonton film kartun di televisi.


"Mungkin bisa saja karena aku, tapi orangtuamu sekian lama menikah baru memiliki anak," kata Arka merasa bersalah karena diam-diam menemui dokter.


"Nggak apa-apa kok mas, aku juga sempat berpikir ke arah situ," aku berusaha memahami keputusan Arka.


Menurut Arka sebaiknya sesegera mungkin kami memiliki anak. Zaman semakin canggih pasti ada cara terbaik untuk bisa segera memiliki momongan. Aku juga berpikiran sama, usia ibu juga sudah tidak muda lagi, amit-amit jangan sampai ibu sudah tiada baru kami bisa memberi cucu. Seperti aku yang tidak pernah tahu seperti apa kakek atau nenekku. Aku salut juga dengan keinginan Arka sampai mencari dokter untuk program kehamilan. Tapi anehnya, dokter yang dipilih Arka ternyata di dekat rumah kami, bukan di kota ini. Karena Arka lebih nyaman berada di sana, di kota kecil yang tidak terlalu padat dan jauh lebih tenang. Tapi akan lebih baik karena kami tidak akan bertemu dengan Awan sewaktu-waktu seperti tadi apalagi sepertinya Chloe dan Awan akan menjadi pelanggan Keysha. Mengenai bisnisku dengan Keysha bisa kami selesaikan secara online.


"Kalau bisa kita nggak perlu ke sini lagi mas, kita stay di sana terus," kataku sambil membelai rambut Arka yang berbaring di pangkuanku


"Kenapa?" tanya Arka yang audah menutup mata.


"Biar nggak kecapekan mas, biar sukses promilnya," kataku beralasan.


Saat Arka sudah tidur, aku lalu menyiapkan semua barang yang harus kami bawa supaya besok bisa pulang pagi-pagi sekali. Selain aku khawatir bertemu lagi dengan Awan dan Chloe, aku juga sudah tidak sabar rasanya untuk melihat gaun hasil rancanganku. Aku juga harus menemui Mbak Maura untuk menawarinya kerjasama untuk membantu membuat pola dan menjahit. Pasti ada beberapa kenalan Mbak Maura yang bisa juga ditawari kerjasama serupa.


Packing sudah selesai, lumayan lelah juga karena seharian aku sibuk wira-wiri. Aku kemudian menggosok gigi dan mencuci muka sebelum akhirnya tidur di dada Arka dan siap untuk melewati besok yang akan sangat luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2