MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 61


__ADS_3

"Ya apa?" tanya Mbok Welas saat aku meminta penjelasan.


"Yang tadi, pas aku bilang nggak ada siapa-siapa di rumah," kataku sedikit cemas.


Mbok Welas malah tertawa mendengar penuturannya. Mbok Welas akhirnya membuka cerita bahwa semua itu atas permintaan dan permainan Arka. Saat aku keluar kamar, Arka bergegas menemui Mbok Welas dan mengajak Mbok Welas yang baru saja selesai memasak untuk bersembunyi dari ku, sehingga seolah tidak ada siapapun di rumah padahal mereka berdua membuntuti ku.


"Mbok tahu kamu sayang dan peduli sama Dik Arka tapi kamu belum mencintainya," kata Mbok Welas yang membuat aku membatu.


"Dik Arka juga seperti itu karena dia ingin selalu bersamamu, siapa tahu perasaanmu berubah. Seperti pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulino," lanjut Mbok Welas.


"Kenapa Mbok tahu kalau kami tidak saling mencintai?" tanyaku akhirnya mampu membuka mulutku.


Mbok Welas lalu mengatakan bahwa dalam cinta ada kasih sayang yang disertai dengan birahi yang lembut, penuh ketulusan dan kehangatan yang sama-sama bisa dinikmati oleh sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Gairah itu tidak ada pada kami, apalagi aku. Aku cenderung dingin dan merasa tidak nyaman dengan sentuhan dari Arka. Biasanya, orang yang jatuh cinta akan sangat senang dipeluk dan dicium, apalagi sepasang suami istri, sangat wajar untuk itu sampai ke hubungan intim.


"Kamu tuh masih perawan, Dik Arka tidak memaksamu karena dia ingin kalian sama-sama nyaman dan menikmati itu," kata Mbok Welas yang sangat mengejutkanku.


"Mas Arka cerita semua sama si Mbok?" tanyaku berhati-hati memastikan.


"Nggak, tapi mbok selalu memperhatikan kalian sejak awal, dan semua semakin jelas, bayangkan coba, Istri mana yang tiap malam ditakut-takuti supaya mau tidur sama suaminya? Sampai mengancam dan ngambek pindah kamar?" tanya Mbok Welas sambil menepuk lembut pundakku.


"Sudah, ini sinetronnya sudah mau mulai. Kamu tidur sana jangan ganggu si Mbok," kata Mbok Welas lagi yang kemudian fokus dengan televisinya.


Aku kembali ke kamar dan menelaah setiap kata yang diucapkan oleh mbok Welas. Ada benarnya semua. Apa terlihat sejelas itu tidak ada cinta untuk Arka dariku? Bahkan bayangan Awan masih selalu menghantui pikiranku. Selama ini aku hanya mencoba untuk membiasakan diri untuk menerima kehadiran Arka di sisiku tanpa pernah terpikir untuk memberi ruang cinta untuknya.


Arka sudah kembali saat aku masih duduk termenung di ujung tempat tidur. Seperti biasa aku menyalaminya dan dia dengan lembut mencium keningku. Aku tidak segera melepaskan tangannya dan aku berusaha memberanikan diri untuk menatap ke dalam matanya.

__ADS_1


"Kamu nggak ingin menghamiliku?" tanyaku pada Arka terbata-bata.


"Kamu nanya aja gugup kayak gitu, nanti ya kalau kamu sudah benar-benar yakin," kata Arka yang sambil jongkok di depanku dan kemudian mencium punggung tanganku.


Arka lalu mengganti bajunya dan naik ke tempat tidur. Malam ini tidak seperti biasa, dia langsung tidur tanpa memelukku. Ku pandangi wajahnya yang tampan dan ku beranikan diri untuk mencium pipinya.


"Mas, aku takut." kataku pelan berharap dia mendengarnya walau itu hanya alasan yang ku buat-buat entah untuk apa.


"Aku di sini nemenin kamu," kata Arka dengan mata terpejam namun tidak juga mengulurkan tangan untuk memelukku.


Aku lalu diam, kemudian tidur di sampingnya dan memunggunginya. Dia tidak juga memelukku dari belakang, malah terdengar dengkuran halus yang menandakan Arka terlelap dalam kelelahan. Rasanya seperti ada yang kurang.


...****************...


"Dari Dik Arka umur 2 bulan sudah di tangan si Mbok, sudah melebihi anak sendiri," kata Mbok Welas yang membuatku terharu.


Akhirnya aku mengancam mbok Welas, jika dia tidak mau menuruti kata-kataku, aku tidak segan untuk melaporkan pada Arka supaya mbok Welas dipecat dan ternyata itu sangat berhasil.


Mbok Welas benar-benar seperti ibu bagi kami di sini. Dia sangat telaten mengurus kami berdua. Mulai dari makan, tempat tinggal yang nyaman serta pakaian yang bersih dan rapi bahkan memberi kami nasehat yang memang kami perlukan.


"Kas, jalan-jalan yuk," ajak Arka saat aku masih sibuk membantu Mbok Welas menyiapkan bahan-bahan masakan.


"Tuh, diajak pergi. Ikut sana, jangan gangguin si mbok terus," kata Mbok Welas sambil meletakkan kembali semua yang ada di tanganku.


Aku lalu mendekati Arka yang hanya memakai kaos dan celana pendek, terlihat sangat santai. Ternyata Arka mengajakku ke minimarket terdekat untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga yang memang belum sempat terbeli saat kami pindahan kemarin. Heran, Arka terus berjalan sedikit di depanku bahkan tidak menggandengku seperti biasanya. Apa pertanyaan ku semalam cukup mengganggunya sehingga dia berubah? Arka juga sama sekali tidak menggodaku atau bahkan menjahili ku.

__ADS_1


"Mas, kamu baik-baik aja kan?" tanyaku yang membuat Arka tiba-tiba berhenti dan menyebabkan aku menabraknya dari belakang.


"Kenapa?" tanya Arka sambil menoleh ke belakang.


"Dari semalam kamu aneh, nggak seperti biasanya," kataku sangat berhati-hati karena takut menyinggung perasaannya.


Arka hanya tersenyum lalu melanjutkan langkah kakinya. Aku paling tidak suka berada di situasi seperti ini, dibuat bingung dengan keadaan yang tidak bisa ku tahu apa penyebabnya. Aku lalu mensejajarkan langkahku dengan Arka. Kemudian Arka bertemu dengan banyak orang yang dikenalinya yang ternyata teman bermain masa kecilnya. Dulu Arka sering menghabiskan akhir pekan di rumah eyangnya sehingga tidak heran kalau banyak yang mengenalnya. Tapi sangat mengejutkan saat Arka tidak memperkenalkanku sebagai istrinya. Ada apa dengan Arka? mengapa dia berubah drastis hanya dalam satu malam saja?


"Mas kenapa?" tanyaku saat kami sudah sampai di rumah dan menata semua barang belanjaan.


"Kenapa apa?" tanya Arka sangat lembut seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mas, hari ini mas nggak kayak biasanya," keluhku padanya.


"Biasanya aku gimana?" tanya Arka menatapku dengan senyum sambil menopang dagu.


"Ya, nggak kayak gitu," kataku bingung memilih kata yang tepat untuk menjelaskan detailnya.


"Terus kamu maunya gimana?" kata Arka yang sekarang duduk begitu dekat denganku dan sukses membuatku salah tingkah.


Arka mulai menggodaku lagi, dengan sentuhannya yang membuatku gugup dan tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi saat tangannya melingkar erat di pinggangku dan dagunya ditempelkan di bahuku.


"Kamu ngobrol apa sama Mbok Welas sampai minta dihamili?" pertanyaan Arka yang membuatku semakin bingung.


Apa yang harus aku jawab? Semua kata-kata seakan hilang begitu saja dari kepalaku. Bahkan otakku terasa beku, aduh apa yang harus aku lakukan selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2