MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 71


__ADS_3

Mbok Welas menolak saatku ajak menyusul Arka. Aku berangkat sendiri dengan sopir utusan Arka. Akhirnya aku sampai juga di Apartemen ini, tapi suasana sangat sepi dan sangat membosankan. Menjelang makan siang aku putuskan untuk menyusul Arka ke kantornya dengan ojek online. Pasti Arka sedang di ruang meeting dan aku akan menunggunya di ruangannya sebagai kejutan. Bukan kejutan yang besar karena dia tahu aku di sini, hanya saja aku tidak bilang kalau aku akan ke kantor.


"Mas, kita makan ayam penyet langgananku ya, dekat perumahan," kataku begitu melihat ada bayangan seseorang di dalam ruangan.


"Sayang?" suara itu mengagetkanku.


"Awan, ngapain kamu di ruangan Mas Arka? Mas Arka mana?" tanyaku dengan nada sedikit kaget.


"Arka masih meeting, paling sebentar lagi selesai," kata Awan sambil berjalan mendekatiku.


"Ya udah, aku tunggu di lobby aja kalau begitu," kataku dan berusaha pergi.


Awan memegang lengan dan menarikku dalam pelukannya. Entah mengapa semua rindu untuknya serasa mengalir begitu saja. Tidak ada juga niatku menolak pelukannya yang terasa lembut hangat. Ku pejamkan mata namun tubuhku kaku tidak balas memeluknya. Lama kami terdiam di posisi ini. Mungkin aku pantas disebut bajingan, diam di dalam pelukan mantan dalam ruang kantor suamiku. Sampai saat aku merasakan ada tangan yang melepaskan pelukan Awan.


"Please, hargai aku di sini," kata Arka sambil merangkulku dan refleks aku memeluk pinggangnya.


"Mas, aku cuma mau ngajak mas makan siang," kataku pada Arka tapi mataku masih terpaku pada Awan.


"Ya udah, kita pergi sekarang ya." kata Arka padaku, "aku pergi dulu ya, ndan." lanjut Arka pada Awan.


Arka tetap setia menggandeng tanganku sampai di parkiran. Tak terlihat raut marah di wajahnya yang membuatku merasa sangat bersalah padanya.


"Mau makan di mana yank?" tanya Arka santai seperti tidak terjadi sesuatu.


"Mas mau makan apa, aku ikut aja," kataku karena seketika bayangan ayam penyet itu sudah tidak lagi menggugah seleraku.


"Kita makan di apartemen aja ya, nanti aku masakin. Kamu masih kuat kan nahan lapar?" tanya Arka dan ku jawab dengan anggukan.


"Kamu juga nggak harus makan nasi kan? Kalau bikin spaghetti mau ya?" lanjut Arka menawarkan.

__ADS_1


Arka kemudian sibuk memasak, dia terus bercanda tentang hal yang sepele dan sama sekali tidak membahas tentang aku dan Awan tadi. Aku semakin curiga, apa saat ini Arka tidak bereaksi padaku tapi aku khawatir nanti di belakangku dia akan berkelahi dengan Awan.


"Yank, kamu ngelamunin apa?" tanya Arka sambil meletakkan piring di depanku.


"Harusnya aku yang masak dan nyiapin makan," kataku berusaha menutupi apa yang sebenarnya aku pikirkan.


"Hei, you are my queen. Kamu nggak harus mengurusi aku," kata Arka sambil tersenyum.


"So sweet banget sih mas," kataku sambil tersipu berasa terbang gitu


"Nggak sih, sebenarnya lebih kepada nggak pede sama masakanmu yang sering gagal memanjakan lidah, kecuali oseng kangkung andalanmu itu," kata Arka sambil tersenyum.


Rasanya seperti setelah dilambungkan setinggi mungkin kemudian dihempaskan. Benar-benar memainkan perasaan. Harusnya aku tahu kalau Arka muji pasti ada sesuatu yang akan dijadikan lelucon. Masa bodoh ah, yang penting saat ini aku makan. Spaghetti buatan Arka juga enak. Pernah aku gagal masak spaghetti. Akibat masak terlalu lama dan air yang kurang. Berencana memasak carbonara, pastanya justru tampak seperti SpiderMan. Sausnya yang terlalu sedikit dan proses memasaknya terlalu lama membuat pastanya justru lengket pada bagian dasar panci. Saat dibalik, bisa terlihat tak ada satupun yang jatuh karena semuanya sudah menempel hingga keras di bagian dasar wajan. Rayi yang paling menyesal saat itu karena sudah memintaku untuk memasak.


"Kok kamu jadi senyum-senyum sendiri?" tanya Arka.


"Ingat Rayi, dia juga selalu protes kalau aku yang masak," kataku geli sendiri.


...****************...


"Kali aja kamu diungsikan ke sini biar Arka bebas bikin perhitungan sama Awan," kata Rayi yang dan kemungkinan itu ada benarnya.


"Jadi? Gimana dong Ra?" tanyaku mulai cemas.


"Kita susulin aja ke kantor, tapi jangan sampai ketahuan," saran Rayi dan sebenarnya aku sedikit keberatan.


"Mau ngapain Ra?" tanyaku berusaha mencegahnya.


"Kalau Arka mungkin dia bisa menyelesaikan dengan kepala dingin tapi kan Awan beda," kata Rayi mulai mengompori.

__ADS_1


Kami tidak perlu mengendap-endap untuk masuk ke gedung kantor. Hanya saja aku risih karena terlalu santai dengan kaos oblong dan celana pendek serta sandal jepit seperti orang mau ke pantai. Untuk saja semua sudah kenal denganku.


Kami berusaha tidak terlihat saat Pak Surya, Arka, Awan, Sophie serta beberapa pegawai tampak meninggalkan ruang meeting. Semua pegawai kembali ke meja masing-masing, Pak Surya dan Sophie sepertinya bergegas untuk pergi. Tinggal Arka dan Awan yang masuk ke ruangan Arka.


Pintunya tidak tertutup rapat dan aku bisa mengintip dari celah kecil dan sangat kebetulan, depan ruangan Arka sangat sepi.


"Capt, sorry tentang tadi siang," kata Awan yang membuatku melongo.


"Tolonglah ndan, kita di sini murni untuk kerja. Jangan kamu seenaknya meluk Kasih seolah aku nggak ada. Kalau tadi aku nggak bisa control emosiku, Bisa heboh, nggak enak sama semua," kata Arka Dangan tatapan dingin, tidak seperti Arka yang selalu tersenyum dan cengengesan.


"Atas dasar apa kamu melarang? Kalian nggak pernah saling cinta," kata-kata Awan yang membuat kupingku panas walaupun semua benar adanya.


"Tapi dia istriku, dia milikku dan aku sangat mencintainya," kata Arka sangat tegas.


"Come on, sejak kapan kamu mencintai Kasih?" tanya Awan dengan tawa meledek.


"Dia punya daya tarik yang bisa bikin pria manapun mencintainya. Wajar kalau aku juga bisa jatuh cinta padanya,It's a great news, I'm falling in love with my wife," kata Arka menegaskan lagi.


"Dan perempuan bodoh mana yang bisa menolak ketulusan Arka?" kataku sambil membuka lebar pintu dan dengan anggunnya berdiri di tengah ruangan.


Mungkin inilah cara yang tepat untuk menghentikan mereka selamanya. Mata mereka lalu terfokus padaku tanpa sepatah katapun. Rayi sibuk mencubit pinggangku karena aksi dadakanku tanpa kompromi dulu dengannya. Pasti dalam hati Arka memaki dan mengumpat ku. Namun Rayi sedikit mundur saat Arka berjalan ke arahku.


"Kok kamu di sini?" tanya Arka.


"Aku minta dianterin Rayi ke sini, aku mau pulang sama mas," kataku begitu saja.


"Terus kamu suruh Rayi pulang sendiri malam-malam begini?" tanya Arka sambil menoleh ke Rayi yang sudah duduk di sofa.


"Nggak apa-apa, sudah biasa," kata Rayi.

__ADS_1


Rayi kemudian pamit pulang dengan alasan sinetron favoritnya segera dimulai. Sekilas ku lirik Awan dan terlihat jelas tampang tidak puas dengan apa yang ada di depan matanya. Apapun yang akan dikatakan Awan aku siap untuk menghadapinya.


__ADS_2