
Bayangan Arka di cermin terlihat tersenyum dan aku berusaha menutupi kepanikanku. Arka kemudian membopongku dan mendudukkan ku di ujung tempat tidur. Tidak tampak keisengan dan kejahilan di matanya kali. Dia terlihat sangat bersungguh-sungguh. Arka kemudian duduk tepat di sampingku. Gila, kenapa suasana menjadi sangat canggung seperti ini? Sampai beberapa menit, aku berusaha tidak menatap mata Arka. Arka kemudian memelukku dari belakang.
"Kamu mau nggak?" tanya Arka.
Spontan aku menoleh ke arahnya dengan ekspresi terkejut dengan sedikit melotot. Ingin kucakari wajahnya bahkan ku acak-acak rambutnya. Di saat aku tegang setengah mati, bisa-bisanya dia menanyakan hal itu kepadaku dengan nada santai seperti mengajak ke pantai seperti itu. Tiba-tiba saja, Arka tertawa terbahak-bahak. Ternyata dia hanya menggodaku seperti biasa.
"Ada yang lucu ya? Kenapa ketawa kayak puas gitu?" tanyaku sedikit sewot.
"Kamu tuh lucu. Kamu takut ya?" tanya Arka sambil wajahnya semakin mendekat dengan wajahku.
"Takut apa? Emangnya kamu hantu?" kataku berusaha santai saat bibir Arka mulai menjelajahi pipiku.
"Aku mau buktiin kalau aku bukan Gay seperti yang pernah kamu tuduhkan," kata Arka dengan wajah sangat dekat dengan wajahku.
Arka kemudian menarik daguku sampai hidung kami saling menempel. Terasa hangat napasnya menyentuh kulitku. Kemudian Arka mengecup lembut bibirku. Dan melepaskannya namun dahi kami masih saling menempel. Jantungku berdebar semakin kencang namun hatiku tidak sabar menunggu apa yang akan Arka lakukan selanjutnya.
"Kamu nyaman nggak? Kalau kamu nggak mau aku nggak akan maksa," kata Arka yang membuatku semakin yakin untuk menyerahkan diri padanya.
Aku memberanikan diri untuk meletakkan tanganku di dada Arka dan mengalungkan satu tanganku di lehernya. Arka tersenyum dan bibir kami mulai bertaut. Pelahan kimonoku terlepas dari tubuhku, dan Arka mulai membuka pakaiannya. Akhirnya aku pasrah dengan keperkasaan Arka yang dengan lembut membuaiku dalam kenikmatan. Sesuatu yang harusnya kami lakukan sejak dulu sebagai suami istri.
__ADS_1
...****************...
Aku terbangun dengan selimut membungkus tubuhku dan tidak memakai baju sama sekali. Ku lihat Arka baru selesai mandi dengan air menetes dari ujung rambutnya. Heran, kenapa dia tidak pernah sukses mengeringkan rambutnya dengan handuk. Aku berusaha duduk saat Arka mendekatiku.
"Gimana? Nagih kan?" kata Arka sambil mencolek hidungku dan tersenyum
"Nagih apa? Pas itu rasanya sakit banget, mas salah teknik kali," Protesku sambil berusaha mencari kimono handukku.
"Iya, harusnya teknik industri malah keliru teknik sipil," canda Arka sambil menyelipkan rambutku di belakang telinga.
"Udah deh mas, jangan bercanda terus," pintaku sambil merengek.
"Nggak ah, lain kali lagi aja," tolakku dan sudah menemukan kimono handukku
Ku tinggalkan Arka tersenyum sendiri di tempat tidur. Sebenarnya aku sedikit malu kalau harus berhadapan dengannya. Tapi sedikit lega juga karena akhirnya aku bisa melaksanakan tugas sebagai seorang istri. Aku harus mandi lagi dan terdengar suara Mbok Welas memanggil kami untuk makan. Aku yang terakhir sampai di meja makan karena Mas Arka dan Mbok Welas sudah di sana dan membahas kasus terbaru artis. Heran, bisa-bisanya Mas Arka mengimbangi pembicaraan Mbok Welas. Kami makan dan aku hanya diam menundukkan kepala. Harusnya aku bisa bersikap wajar karena sebenarnya apa yang kami lakukan memang sudah seharusnya terjadi. Tidak perlu ada rasa malu ataupun canggung berkepanjangan seperti ini.
"Yank, enak ya? Mau lagi nggak?" kata Arka saat kami sudah selesai makan.
"Udah mas, aku udah kenyang," tolakku halus sambil membantu Mbok Welas membereskan piring.
__ADS_1
"Bukan yang itu, yang tadi," kata Arka berbisik dan aku mulai paham arah pembicaraannya.
"Nggak," jawabku lantang
Namun anehnya Arka malah tertawa dan membuatku merasa bertambah aneh. Selesai makan aku terus membuntuti Mbok Welas yang setia dengan sinetron favoritnya dan Arka terus saja membuntuti ku dan tak henti-hentinya menggodaku. Lama kelamaan aku merasa sangat terganggu dengan ulah Arka.
"Mas kok ngikutin aku terus?" protesku saat Arka mulai tidur di pangkuanku
"Lho? Bukannya sudah biasa seperti ini? Kamu tuh yang aneh, ngikut si mbok terus," kata Mbok Welas.
Dan aku baru sadar, apa mungkin aku yang berlebihan? Benar juga kata Mbok Welas, biasanya selesai makan malam kami selalu bersama dan lebih sering ngobrol di kamar berdua. Tapi entah kenapa kali aku merasa takut untuk masuk kamar. Bodoh sekali, padahal kami sudah melakukan itu tapi kenapa aku malah panik sendiri seperti ini? Bukankah tadi aku juga menikmatinya? Ah, aku malah jadi konyol dengan diriku sendiri. Rasanya hampir seperti hampir gila. Arka itu suamiku, lantas kenapa aku harus jual mahal seperti ini?
Sinetron favorit telah usai dan mbok Welas pamit untuk tidur. Tinggallah aku dan Arka di sini, kasihan juga Arka, dia terlihat sangat mengantuk tapi tidak juga ingin kembali ke kamar tanpaku.
"Mas, pindah kamar yuk. Masak tidur di sini?" ajakku dan Arka bergerak dengan cepat.
Sampai di kamar aku tak urung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Arka kemudian menarikku dan seperti biasa dia langsung terlelap sambil memelukku. Lega rasanya mendengar dengkurannya yang halus. Ku tatapan wajahnya yang tampak tenang dalam tidurnya. Wajah yang penuh pesona dan hati yang penuh kebaikan membuat Arka tampak sempurna di mataku. Perlahan semua kecanggungan hilang, ku kecup kening dan bibir Arka dan mengucapkan selamat tidur dan Arka mempererat pelukannya. Mungkinkah aku sudah jatuh hati padanya? Aku mulai terlelap di tempat ternyaman, dalam pelukan suamiku.
Rasanya baru sebentar aku tidur saat getaran ponsel Arka yang berada di atas nakas memecahkan kesunyian. Ini baru jam tiga dini hari dan siapa yang sangat iseng meneleponnya? Namun Arka tampak sangat lelap dan tidak ada tanda-tanda kalau dia akan terbangun. Ku ambil ponselnya dan di sana tercantum nama 'LOVELY' dengan foto profil gadis imut yang sangat menarik. Kenapa dia menyimpan kontak seorang gadis dengan nama itu? Dan dari fotonya gadis itu terlihat sangat centil. Untuk apa segini dia menelepon suami orang? Anak siapa sih ini? Apa dia tidak tahu kalau Arka milikku? Api cemburu mulai membakar kepalaku. Ku acak-acak rambutku dan aku mulai sewot sendiri. Apa mungkin gadis ini terlibat hubungan asmara dengan Arka? Ku biarkan saja sampai tiga panggilan dan gadis itu sudah tidak menelepon lagi. Arka bahkan tidak pernah bercerita tentangnya, mengapa ini terjadi saat aku mulai yakin dan aku merasa aku mulai jatuh hati dengan Arka? Apa dia balas dendam padaku karena di saat dia mencintaiku, hatiku masih bersama Awan? Tapi siapa gadis itu sebenarnya?
__ADS_1