MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 38


__ADS_3

"Kamu mau bikin keributan lagi?" tanyaku sebelum Awan melangkah mendekatiku.


"Kas, dengerin dulu," Awan seperti memohon kepadaku.


"Kalau kamu tidak mau lagi menganggap Arka sahabatmu, tapi dia itu manusia, nggak pantes dipukuli seperti itu," kataku mulai menghujat Awan.


"Karena memilih dia kamu sampai semarah ini?" tanya Awan menghakimi.


"Bukan karena Arka aku marah, tapi karena kamu sudah menyinggung bapak," kataku lalu menarik Rayi masuk.


Marah karena dia tidak sadar akan kesalahannya. Dia terlalu egois untuk memaksakan keinginannya tanpa peduli orang lain. Terdengar Awan menggedor pintu, Rayi menahanku agar tetap menunggu di balik pintu.


"Sayang, aku minta maaf," kata Awan perlahan di balik pintu. Aku dan Rayi menahan nafas, menunggu kata berikutnya. "Walaupun berat, aku akan berusaha ikhlas kalau itu keputusanmu, tapi kenapa harus dengan Arka?" kata Awan dengan nada putus asa.


"Memangnya kenapa kalau Arka?" aku bertanya.


"Aku sakit sayang, merasa dikhianati oleh orang yang paling aku percaya." kata Awan dengan nada yang semakin terdengar lirih.


Air mataku tumpah,  perlahan ku buka pintu dan aku berdiri di depan Awan. Sangat dekat, sampai saat aku menatapnya, napasnya terasa di dahiku. Terasa tangannya melingkar di punggungku dan dagunya menempel di puncak kepalaku. Bisa ku dengar jantungnya yang berdegup kencang dan tetesan air matanya membasahi rambutku.


"Arka tidak seperti itu, percayalah dia sahabat yang baik," kataku dan hangat pelukan Awan serasa tidak ingin melepasnya.


Tidak munafik, aku masih sangat mencintai Awan. Kami berpisah bukan karena ada masalah di antar kami, namun karena pengaruh dari pihak luar. Kebersamaan kami seolah terputar kembali di otakku. Namun aku tersadar, kami tidak mungkin bersama. Pelan ku lepaskan diriku dari pelukannya.


"Ikhlaskan aku bersama Arka," kataku dengan air mata berlinang.


"Hanya jika kamu bahagia," kata Awan sambil mengusap air mataku.

__ADS_1


"Iya aku janji, aku akan bahagia," jawabku dan kembali masuk ke dalam dan menutup pintu.


Terdengar langkah kaki menjauhi pintu, dan suara mobil dinyalakan dan meninggalkan rumahku. Aku terduduk di belakang pintu dan menangis. Rayi hanya duduk di sampingku dan mengusap-usap punggungku.


"Kalau aku mau, Arka pasti melepaskan ku untuk Awan" kataku sambil terisak


"Kamu mau batalin Arka?" tanya Rayi pelan dan ku jawab dengan gelengan kepala.


...****************...


Supaya aku tidak terus menerus bersedih, Rayi berinisiatif mengajakku ke mini market untuk berbelanja kebutuhan harian. Ku ikuti saja maunya dan gilanya dia mengajakku jalan kaki. Aku tidak peduli dengan mata yang sedikit sembab karena menangis terus menerus.


"Naik motor aja, Ra." kataku malas berjalan


"sekali-kali lah Kas, cuma di situ tok," kata Rayi sambil memakai sepatu olahraga.


"Biar nyaman, kalau pakai sendal nanti rawan kesandung." jawabnya sambil berdiri melompat kecil mencoba sepatunya yang ternyata baru di beli.


"Rempong," kataku sambil jalan mendahuluinya.


Benar saja, selesai berbelanja Rayi mengeluh kecapekan dan tidak sanggup berjalan pulang sambil membawa belanjaan yang lumayan banyak. Aku juga tidak membawa ponsel untuk memesan taksi online, sedangkan ponsel Rayi lowbat. Aku tertawa lepas dan terus menggoda Rayi dengan cara memojokkannya. Dia tampak semakin sewot dan menggerutu di sepanjang jalan. "Namanya orang susah di mana-mana ribut terus," terdengar suara merendahkan kami.


Saat kami menoleh, lagi-lagi itu Chloe dengan gaya sok cantiknya. Ngapain juga orang seperti dia berada di sekitar mini market seperti ini? Bukannya nggak kelas untuk dia? Aku berusaha mengabaikannya, nggak level juga ribut dengan perempuan seperti Chloe yang menurutku cukup tidak tahu diri. Aku menarik Rayi agar terus berjalan menjauhi Chloe namun tetap saja mulutnya Chloe selalu cari masalah dengan Rayi.


"Hei gadis-gadis desa, kalian ngapain sih memenuhi kota? Bermimpi bertemu pangeran?" hinaan Chloe sebenarnya membuat telingaku panas namun tetap aku tahan. Ini tempat umum dan aku harus tampil elegan.


"Kamu kan punya uang banyak, sekolah sek biar mulutmu pintar," kata Rayi yang mulai tidak tahan dengan kata-kata Chloe.

__ADS_1


Aku lalu mencubit lengan Rayi, memberinya isyarat supaya dia diam dan tidak perlu menanggapi kegilaan Chloe. Namun Rayi seolah tidak peduli pada. Dia terus melotot ke arah Chloe. Aku lalu menarik Rayi untuk menjauhi Chloe dan mengajaknya pulang. Tidak penting juga ribut dengan Chloe.


"Kasih, kamu nggak pantes untuk Awan. Asal kamu tahu, Awan itu ditakdirkan untukku," kata Chloe yang membuat langkah Rayi terhenti dan berbalik menatapnya.


"Kalau Awan mau sama kamu, ambil aja. Kita ikhlas. Tapi dengan catatan kalau Awan mau sama kamu," jawab Rayi berteriak lebih keras lagi.


"Ra, tolong Ra. Cuekin aja. Aku sudah nggak mau berurusan dengan semua yang berhubungan dengan Awan. Kamu mau aku sedih terus?" Aku berbisik pada Rayi dan sepertinya itu mampu meluluhkannya.


Rayi memandangku dengan tatapan yang tampak iba. Aku harus memohon kepadanya supaya tidak ribut terus. Untuk apa ribut dengan Chloe hanya karena Awan, sedangkan sudah jelas Awan bukan milikku lagi. Kalau Awan bisa memiliki wanita lain, bukankah itu lebih baik? Aku tidak berhak menahannya. Flatshoes itulah istilah Awan.


Sepanjang jalan Rayi tidak berhenti mengomel dan menggerutu. Dan aku asyik bermain dengan perasaan dan bayang semu. Andai tadi ada Awan, pasti Chloe akan sangat malu dan geram karena pasti Awan akan membelaku. Awan tidak akan membiarkan Chloe merendahkan ku seperti itu. Bahkan keluarga Awan pun pernah membelaku di depan Chloe. Siapa Chloe di mata Awan? Hanya perempuan manja yang tidak punya kemampuan.


"Chloe nggak tahu ya tentang hubunganmu dengan Awan?" tanya Rayi setelah Chloe tidak terlihat lagi.


"Kok kami bisa menyimpulkan seperti itu?" kataku berpura-pura tidak mengerti.


"Kalau dia tahu kamu nggak sama Awan lagi harusnya dia nggak ngomong kayak tadi," kata Rayi berusaha memperkuat argumennya.


Aku sudah malas memikirkan itu, masa bodoh dengan Chloe. Aku juga harus melepaskan Awan walau sebenarnya batinku menolak. Aku harus fokus pada pernikahanku dengan Arka.


"Nggak penting, Ra. Pernikahanku dengan Arka hanya tiga bulan lagi, mending kamu bantuin aku mempersiapkan itu daripada ngurusin Chloe yang nggak jelas," kataku dengan nada serius dan cukup membuat Rayi menurut.


"Ya udah terserah kamu. Kita mampir ke warung kaki lima ayam penyet favorit ya, lapar ni," ajak Rayi dan ku akui aku juga mulai lapar.


Kami langsung duduk tanpa memesan karena seringnya kami ke sini, bapak penjualnya sudah hafal dengan menu favorit kami. Rayi sesekali membantu bapak penjual untuk membersihkan meja yang sudah ditinggalkan oleh pembelinya. Menurut Rayi, kalau kami membantu bapaknya akan fokus memasak dan pesanan kami akan lebih cepat tersaji.


Baru saja makan satu dua suap, Awan datang dan memesan makanan. Kenapa bisa kebetulan sekali?

__ADS_1


__ADS_2