MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 22


__ADS_3

Hari ini acaraku padat merayap, sudah ku list dari semalam. Menyapu, mengepel, memasak, cuci baju, membersihkan setiap sudut rumah, istirahat sebentar, sambil menunggu cucian kering lalu menyetrika. Kemungkinan Awan ke sini tapi kami tidak ada agenda ke mana-mana. Aku juga ingin seharian diam di rumah saja. Merehatkan diri dari hingar bingar dunia ini.


Di mulai dengan memasukkan semua cucian ke dalam mesin cuci, memasak nasi lalu aku tinggal untuk menyapu dan mengepel. Selesai sudah, sekarang menjemur cucian sambil menunggu abang tukang sayur yang biasa lewat di depan rumah. Hari ini menunya sederhana saja, oseng kangkung, ayam goreng, sambal terasi dan buah kates. Semua itu adalah favoritku. Bukan apa hanya menu seperti itu yang bisa aku masak dan rasanya layak untuk dikonsumsi. Bukannya mau congkak atau sombong, aku tidak terlalu terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Sejak kecil semua dilakukan oleh ibu, orangtuaku terlalu memanjakan ku. Untuk saja bapak meminta Rayi untuk ikut bersamaku saat aku memutuskan tetap tinggal di kota dan menolak mengikuti mereka kembali ke desa.


Rayi sudah duduk diterasnya dan melambaikan tangan ke arahku. Pagi ini wajah terlihat ceria tapi kurang berseri-seri. Tidak perlu ditanya dan dipancing, sebentar lagi dia akan cerita tentang dinner nya semalam. Aku menunjukkan belanjaanku ke arahnya dan mengisyaratkan dengan tangan bahwa aku akan memasak. Rayi lalu datang mendekatiku dan mengikuti ke dapur.


"Tumben rumahmu sudah bersih, rapi, wangi. Biasanya baru bangun," kata Rayi selalu dengan celaan yang sudah kebal di telingaku.


"Orang malas, diteriakin, orang rajin dikatain," kataku sambil mencuci kangkung dan ayam.


Tanpa aba-aba Rayi pun lalu membantuku memasak. Selalu saja terjadi perdebatan antara kami. Mulut cerewetnya Rayi memang nggak ada obatnya. Sampai cara mengiris bawang dan posisi badanpun ada aturannya. Termasuk cara mengulek yang baik dan benar. Setelah ayam dibumbui tidak boleh langsung digoreng, supaya bumbunya merasuk sampai ke tulang. Rayi juga protes karena aku tidak membeli tahu atau tempe. Dan protes konyol lainnya yang bisa membuat aku hampir meledak.


Masakan sudah matang, dan saatnya memanjakan perut yang sudah berdendang sedari tadi. Namun saat makan pun Rayi masih protes karena oseng kangkungnya tidak diberi ebi.


"Eh, Chef Juna jadi kalah jahat kalau dibandingin semua komentarmu sejak tadi, Ra," kataku geram dan menjitak kepalanya.


"Iya, karena apa? Jangankan mengomentari masakanmu, memandangpun saja dia tak sudi," kata Rayi dengan lidah beracunnya.


Tapi yang lucu, walaupun mendapat banyak protes, kritik dan saran. Masakanmu pun ludes juga disantap Rayi. Belum lagi dia masih makan tiga iris kates. Beruntungnya Rayi, walau banyak makan tapi badannya tetap proposional. Selesai masak, kami lalu makan bersama sambil menonton acara gosip kesukaan Rayi di televisi Biasanya di hari Minggu dia memang di rumah seharian, Rayi bukan orang yang suka bepergian apalagi saat cuaca panas seperti ini. Dia lebih suka rebahan di depan televisi sambil bermain medsos.


"Mas Arya itu orangnya baik banget lho," katanya membuka cerita.

__ADS_1


"Oh, ya?" jawabku berpura-pura tidak peduli. Tapi dalam hati aku bertanya juga. Keseruan apa ya yang dialami Rayi semalam? Lumayan lama aku menunggu karena Rayi sedang fokus melihat berita perceraian artis sambil mencaci maki. Heran, apa dia pikir mereka bisa mendengarnya?


Akhirnya Rayi bercerita tentang semalam. Dia diajak ke sebuah tempat yang menurut Rayi terlalu besar jika disebut cafe namun terlalu kecil untuk ukuran restoran. Menunya juga menu Nusantara yang disajikan dengan lebih mewah. Seperti biasa, Rayi memesan ayam geprek dan segelas teh hangat. Tapi menurut Rayi pedasnya kurang nampol.


Di sana juga ada piano klasik. Kebetulan pemiliknya juga kenal dengan Mas Arya dan memintanya mempersembahakan sebuah lagu dan Mas Arya menerimanya.


"Tenan, Kas. Kerennya kebangeten. Suaranya merdu buanget, nget, nget, nget. Nyanyi beautiful in white, mana aku pakai baju putih lagi," kata Rayi dengan ekspresi wow amazing.


"Jangan-jangan dia suka Ra sama kamu," kataku penuh antusias.


"Suka berteman sama aku, katanya aku seru, rame, bikin suasana ceria," jawab Rayi dengan bangga.


"Nggak dia bilang ada cewek yang dia taksir, dia saat ini sedang menunggu jawaban dari si cewek itu untuk jadi masa depannya," kata Rayi sambil mengganti channel TV.


"Kalau ceweknya nolak dia gimana?" tanyaku sambil memukul punggung Rayi dengan bantal.


"Aku nggak tanya sampai situ, aku terlanjur kecewa. Kalah sebelum tanding," kata Rayi sambil tertawa terbahak-bahak.


Rayi memang bilang kalau dia harus tahu diri, perempuan dari desa sepertinya tidak pantas bersanding dengan Mas Arya yang kaya raya, good looking, baik hati dan selalu humble kepada siapapun. Kalau bisa jadi pasangan hidupnya Mas Arya, 95 persen kaum hawa di muka bumi ini akan iri padanya. Dia takut dari 95 persen itu ada yang jahat sebanyak 56 persen dan mereka ramai-ramai mengirim santet untuknya karena dikira curang sudah mendapatkan Mas Arya dengan memakai pelet. Bualan Rayi memang selalu sukses membuatku tertawa.


Rayi juga menceritakan tentangku pada Mas Arya saat ditanyai mengenai keseharian Rayi dan orang-orang terdekatnya. Ada rasa tidak suka, kenapa Rayi harus menceritakan tentangku kepada Mas Arya. Seperti tidak ada bahan lain yang bisa dibahas.

__ADS_1


"Mosok ditanyai baik-baik nggak dijawab?" kata Rayi mencoba membela diri.


"Ya cerita tentang dirimu aja," kataku dengan muka cemberut.


Sejujurnya aku sedikit penasaran seperti apa Mas Arya ini. Tapi, mungkin cara Rayi menceritakannya yang membuatnya terlihat lebih menarik. Cara Rayi menyampaikan sesuatu selalu meyakinkan. Itulah kenapa dia dipindah ke departemen merchandiser.


"Tapi kalau Mas Arya ternyata nembak kamu gimana?" kataku berandai-andai


"Kalau dia tembak aku, aku kasih bom atom biar menggelegar," kata Rayi mulai lagi dengan imajinasi gilanya.


Kami berdua tertawa karena Rayi sangat yakin jika hal itu tidak mungkin terjadi. Bisa berteman dengan Mas Arka saja Rayi sudah sangat senang. Dia tidak.m berharap yang muluk-muluk lebih dari itu.


"Mimpi jangan ketinggian lah, takut kalau tidak tergapai malah jatuh pasti sakit banget," kata Rayi sambil tersenyum ikhlas.


"Luar biasa, kata-kata mutiara yang indah," kataku sambil menatap Rayi kagum dan bertepuk tangan.


"Kemahalan kalau mutiara, kata- kata mote itu. Tau mote? Sejenis manik-manik itu? Mutiara KW abis," katanya dengan muka lempeng tanpa rasa bersalah.


"Ya udah, temenan dulu aja, siapa tahu ada peningkatan, seperti aku sama Awan, dari temen jadi demen," kataku sambil menepuk pundaknya menyemangati.


"Kenapa memang aku dibawa-bawa?" Suara Awan tiba-tiba menyela pembicaraan kami.

__ADS_1


__ADS_2