MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 74


__ADS_3

Aku dan Arka sampai di apartemen dan kami duduk di depan TV dengan segelas susu, secangkir kopi dan brownies di depan kami. TV menyala tapi tidak satupun dari kami yang fokus menonton. Arka menggenggam tanganku dan matanya terus menatapku dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Kalau aku bicara jujur, apakah senyum itu akan berubah menjadi amarah?


"Kamu belum mau ngomong ya?" tanya Arka kemudian melepaskan tanganku.


"Kalau aku keberatan cerita gimana mas?" tanyaku berusaha menawar.


"Ya nggak apa-apa, terserah kamu asal aku nggak tahu faktanya dari orang lain aja," kata-kata Arka yang menekankan dan kemudian Arka duduk memunggungiku.


"Tadi siang, aku pulang ke rumahku dan aku nggak tahu kalau Awan ngikutin aku," aku mulai buka mulut.


Aku lalu menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang aku tutupi. Ternyata lega juga sudah jujur meskipun pahit. Hatiku seperti melepaskan semua beban dan aku sudah siap dengan konsekuensinya kalau Arka akan marah namun Arka tetap diam tidak bereaksi sama sekali. Hanya terlihat tangannya memegang kepalanya seolah semua yang aku ceritakan menjadi beban pikirannya. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan chat dari Chloe untuknya. Ada foto di saat aku berpelukan dengan Awan. Heran, seperti cerita sinetron saja, kenapa Chloe punya foto itu? Apa dia diam-diam mengikuti Awan? Tapi kan Rayi juga datang, masak iya Rayi tidak tahu kehadiran Chloe? Atau Chloe bersembunyi di dalam pot bunga? Tapi untung saja aku bicara apa adanya pada Arka, jika tidak pasti Arka berpikiran yang tidak-tidak padaku.


"Maaf mas, aku tadi tidak berniat menemui Awan. Dia yang datang sendiri mas," kataku berusaha mengambil hati Awan.


"Tapi kamu senang kan bisa meluapkan semua isi hatimu yang menumpuk?" tanya Arka sangat dingin.


"Maafin aku mas," hanya itu yang mampu ku katakan.


"Nggak ada yang perlu dimaafin. Aku hanya kecewa, kenapa kamu nggak mau terbuka sama aku dari awal?" kata Arka yang kemudian berdiri dan meletakkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Tidak mampu ku jawab, aku hanya takut akan melukai hatinya. Walaupun mungkin awalnya dia tidak peduli, tapi pasti Arka merasa harga dirinya sebagai suami diciderai. Istrinya diam-diam bertemu dengan mantan dan berpelukan seperti itu serta diketahui oleh orang lain. Mungkin saja Arka mau mengerti setelah aku menceritakan semua ini, tapi bagaimana kalau foto itu menyebar dan menjadi pergunjingan? Nama baiknya dan keluarganya yang akan dipertaruhkan.

__ADS_1


"Tadi siang Awan juga datang menemuiku. Dia hanya titip supaya aku menjagamu dan membahagiakanmu," kata Arka yang membuatku terkejut. "Sekarang aku tanya sekali lagi? Kamu mau kembali ke Awan atau tetap menjadi istriku?" lanjut Arka


"Mas, aku hanya berharap bisa terus bersamamu mas," kataku sambil berdiri di depan Arka dengan wajah panik.


Tapi Arka hanya diam, dia mencium puncak kepalaku dan kemudian meninggalkan aku sendiri dalam kebingungan. Lalu apa sebenarnya yang ada di pikiran Arka? Marah? Sedih? Kecewa? Pasrah? Kenapa hanya diam yang dilakukan saat ini? Segera ku susul Arka ke kamar. Aku nggak bisa didiamkan tanpa penjelasan apapun seperti ini.


"Mas, kamu jangan diam mas. Aku hanya punya kamu di sini." kataku hampir menangis seperti anak kecil yang ditinggal pergi ibunya sebentar ke warung sebelah.


"Yank, akhirnya aku mendapatkan perhatianmu," kata Arka sambil tersenyum padaku.


"Apa?" tanyaku merasa kurang jelas dengan tingkah laku Arka.


Huh, ternyata dalam situasi seperti ini Arka masih sempat mempermainkanku. Ada orang isengnya kayak gitu. Tapi aku tidak yakin dengan jawabannya. Rasanya ada sesuatu yang masih ditutupi oleh Arka. Pasti dia benar-benar ngambek namun berusaha untuk tegar. Mungkin ada kata-kata dari Chloe atau Awan yang menyinggung perasaannya.


"Kamu nggak ingin meluk aku?" tanya Arka sambil merentangkan kedua tangannya.


"Mas bilang ya kalau aku belum bisa jadi istri yang baik dan aku akan berusaha memperbaiki diri," kataku sambil maju memeluknya


"Kamu hanya perlu hidup baik-baik dan bahagia, Kas. Itu sudah cukup bagiku," kata Arka dan mempererat pelukannya seolah dia tidak ingin melepaskanku.


"Ke depan yuk, kasihan tuh si brownies belum dimakan. Biar potongannya nggak meyakinkan siapa tahu rasanya enak," kata Arka sambil menggandeng kembali ke ruang TV.

__ADS_1


"KRitikan mas sama Rayi kok bisa sama ya?" kataku kemudian menyuapi sepotong brownies ke mulut Arka dan dia hanya tertawa kecil.


Suasana tegang mencair dan perlahan menghilang berganti dengan suasana santai yang penuh candaan. Tawa Arka semakin menjadi saat aku menunjukkan isi chatku dengan Rayi tentang dirinya seandainya dijual di olshop.


Arka kemudian memintaku untuk membereskan semua barang bawaanku karena kami akan pulang. Semua urusan bisnis sudah selesai dan bisa dikendalikan dari rumah. Katanya Arka juga sudah mulai kangen sama masakan Mbok Welas.


"Yank, kalau kamu masih kangen sama Rayi, kamu nginep sana aja malam ini," saran Arka tiba-tiba saat aku selesai membereskan semua barang bawaanku.


"Nggak ah, nanti nggak taunya mas kabur," tolakku dengan wajah cemberut.


"Ya aku juga ikut nginep di sana deh, nanti kita tidur bertiga, aku di tengah." kata Arka sambil tertawa ngakak.


"Ih, Mas Arka gila ya?" bentakku sambil mencubit pinggangnya.


"Ya kan sana ada dua kamar yank. Nanti kamu tidurnya sama Rayi, aku tidur sendiri nggak apa-apa. Siapa tahu kalian mau gosipin aku," kata Arka kepedean.


"Ya mas tetap tidur sama aku. Biar Rayi tidur sendiri," kataku lagi.


Akhirnya kami berangkat juga ke rumahku. Rencananya besok pagi kami akan berangkat dari sana sehingga tidak perlu kembali ke apartemen. Sampai di depan rumah, ada sepeda motor terparkir di depan rumah dan sepasang sepatu laki-laki juga tersusun rapi di luar rumah. Terdengar suara cekikikan dari dalam rumah.


Aku muncul di depan pintu dan astaga, kedatanganku sangat tidak tepat waktu. Rayi sedang berciuman dengan seorang lelaki yang duduk membelakangi pintu. Rayi punya pacar tapi kenapa dia nggak pernah cerita padaku? Aku ingin pelan-pelan keluar dan berpura-pura tidak melihatnya namun Arka malah berdeham sangat keras membuat Rayi dan pasangannya kaget. Apalagi saat lelaki itu menoleh dan mengejutkan kami. Wajah yang tidak asing dan sangat kami kenal membuat kami berdua spontan tertawa. Namun ekspresi mereka berdua malah tampak tersipu malu, bahkan wajah Rayi terlihat kemerahan. Dia bahkan tidak seperti Rayi yang biasanya, yang punya banyak kata-kata untuk membela diri. Akan ku tuntut dia karena tidak pernah bercerita padaku.

__ADS_1


__ADS_2