MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 56


__ADS_3

Malam ini ada yang harus aku selesaikan dengan Rayi sehingga aku menginap di rumahku dan aku mengajak Rayi tidur bersama. Awalnya Rayi menolak tapi aku beralasan kalau Arka sedang keluar kota sehingga aku butuh teman. Akhirnya Rayi setuju dengan permintaanku.


"Udah lapor RT? Kamu kan bukan warga sini?" kata Rayi sambil cekikikan.


"Aku tetap ada izin domisili, kan rumahku di sini," kataku dengan nada yang luar biasa sombong.


"Eh, be te we, kontrakan mu masih berapa lama" tanyaku pada Rayi membuka pembicaraan yang lebih serius.


"Tinggal tiga bulan lagi," kata Rayi sambil monyong.


"Nggak usah diperpanjang, kamu pakai aja rumah ini. Cicilan KPR tetap aku yang bayar," kataku santai


"Tenan e Kas ? Terus aku bayar berapa ke kamu?", tanyanya lagi.


"Nggak perlu bayar, anggap aja kamu bantuin aku jagain rumah daripada nggak kepakai," kataku santai.


"iya deh, yang jadi istrinya bos," kata Rayi sambil tersenyum


"Motor juga buat kamu aja," kataku sangat ikhlas.


"Rumah, motor buat aku. Suaminya? Nggak ditawarin sekalian," kata Rayi sambil tertawa lepas.


"Langkahi dulu mayatku kisanak," kataku sambil mulai pasang kuda-kuda.


"Kamu sudah mulai mencintai suamimu ya? Sampai nggak rela bagi-bagi?" pertanyaan Rayi sangat serius.


Aku hanya diam merenung dan bertanya pada hatiku, apakah sudah ada cinta untuknya? Aku memang ingin menjalankan rumah tangga ini sebaik mungkin dengan Arka, namun ruang cinta di hatiku masih terasa kosong dan hampa. Arka, dia sangat baik dan sepertinya dia mencintaiku dengan sangat tulus. Apakah adil jika aku tidak pernah bisa membalas cintanya dan memberikan kebahagiaan semu untuknya? Atau sebenarnya ada cinta yang perlahan hadir namun tidak ku sadari?


"Piye to, Kas ? malah bengong," kata Rayi mengagetkanku dan aku membalas dengan menimpuk bantal ke wajahnya.


Aku lalu meminta tolong pada Rayi untuk membantuku membereskan barang-barang ku yang akan ku bawa pindah. Hanya pakaian dan beberapa surat-surat penting dan barang berharga lainnya.


"Perabotan mu gimana?" tanya Rayi kebingungan.

__ADS_1


"Iya kali aku harus gendong lemari, kasur, sofa, TV, kompor gas, peralatan makan, sapu, pel, kemoceng, pengki, gorden. Kan mau kamu pakai? " kataku sambil berdiri menunjuk-nunjuk ke arah Rayi.


"Ya terus perabotan ku gimana?" tanya Rayi yang membuatku sejenak berpikir.


"Ya, itu urusanmu. Dijual online aja, uangnya buat jajan seblak," kataku sangat enteng.


Di tengah perdebatan, terdengar suara bel pintu berbunyi. Kami lalu berdebat lagi mengenai siapa yang harus membuka pintu. Malas rasanya berjalan walau hanya beberapa langkah karena rasanya capek juga membereskan barang yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Kami sejenak terdiam karena terdengar langkah kaki menuju ke arah kamar. Siapa tamu yang kurang ajar sudah masuk walau belum dibukakan pintu oleh tuan rumah?


"Maaf, aku kebelet pipis udah nggak tahan," kata Arka yang sudah berjalan cepat menuju kamar kecil saat aku membuka pintu untuk memastikan siapa yang datang.


Arka malah kesini, padahal tadi aku beralasan kalau dia ke luar kota. Kan aku jadi ketahuan bohong sama Rayi. Aku berdiri menunggu Arka, jangan sampai dia bertemu Rayi sebelum aku bersekongkol dengannya. Bisa panjang ceritanya nanti.


"Kalau menyambut suami salim, biasakan itu," kata Arka sambil mengulurkan tangannya.


"Iihh...udah cuci tangan belum?" tanyaku skeptis.


"Udah bersih, wangi strawberry ni," katanya sambil menempelkan tangannya di hidungku.


"Ka, kamu nggak ke luar kota?" kata Rayi yang tiba-tiba sudah muncul di belakangku.


"Kata siapa?" tanya Arka dan aku menepuk keningku.


"Hei you, you bohongin I? tanya Rayi dengan kedua tangan di pinggang. "You kabur dari rumah ya, nggak ngaku sama suami, pergi tanpa pamit, nyuwun Sewu amit-amit?" lanjutnya sambil melotot.


Bukannya takut aku malah tertawa mendengar Rayi yang sok Inggris namun dengan aksen medoknya. Aku lalu menceritakan yang sebenarnya pada Arka dan Arka tertawa lepas. Dia mana tahu kalau harus banyak alasan jika berhadapan dengan Rayi. Arka lalu memberiku izin untuk tetap menginap di sini bersama Rayi dan dia akan pulang ke rumahnya.


"Kamu nggak nginep di sini?" tanya Rayi saat Arka pamit pulang.


"Nggak apa-apa, kalian berdua nikmati aja kebersamaan kalian, bakal jarang kalian bertemu nantinya, sekalian biar aku bisa ngerasain kangen sama Kasih," kata Arka.


"Ku kira kita tidur bertiga, Ka." kata Rayi sambil tertawa seperti Mak Lampir.


"bocah gendeng," kataku sambil menoyor kepala Rayi.

__ADS_1


"Serius nih, Ka? Kamu nolak? Besok-besok menyesal lho!" lanjut Rayi masih mencoba menggoda Arka.


"Eh, mau deh aku di tengah ya," jawab Arka sambil berjalan santai masuk ke dalam kamar.


"Arka, nggak boleh!" kataku sambil menarik dan mendorong Arka keluar kamar.


Akhirnya setelah tawa mereka berdua telat sasaran memecah, barulah aku sadar kalau dalam hal ini akulah korban candaan mereka. Arka lalu pamit, sekali lagi aku menyalami Arka dan dia mencium keningku lagi. Sepertinya ini akan menjadi kebiasaanku dan Arka saat kamu bertemu dan berpisah. Ku tatap punggung Arka yang berjalan menjauh entah kenapa ada rasa enggan ditinggalkan olehnya.


"Piye, Kas? kamu sudah mencintai suamimu belum?" tanya Rayi lagi setelah Arka benar-benar tidak terlihat


"Kenapa sih Ra, kamu itu?" tanyaku sambil mencubit pinggang Rayi.


"Sekedar mengingatkan aja, 95 persen kaum hawa sedang iri padamu, pertahankan baik-baik supaya kamu nggak nyesel. Karena apa? Karena semua hanya ingin bersamanya tanpa tulus mencintai," kata Rayi lalu kembali ke dalam untuk meneruskan pekerjaannya.


Iya, aku akui pesona Arka luar biasa, siapapun pasti bangga berjalan di samping lelaki setampan dia, selain itu keluarganya juga dari kalangan orang berada walaupun Arka lebih memilih hidup sederhana. Dia juga baik dan ramah pada semua orang. Memang aku beruntung bisa menjadi istrinya, pasti bapak juga tidak sembarang memilihkan jodoh untukku.


Rapi sudah barang-barang yang akan ku bawa. Ponselku berdering saat aku baru saja ingin rebahan dan bersantai bersama Rayi. Ternyata itu dari Arka, pasti dia mau memastikan kalau aku sudah tidur.


"Iya, aku belum tidur," kataku begitu menjawab panggilan telepon.


"Kamu udah selesai packing? Aku jemput sekarang ya," kata Arka terdengar sedikit panik.


"Tapi kenapa, Ka?" tanyaku ikutan panik.


"Nanti aja aku cerita di mobil ya, kamu siap-siap aku udah dekat ni," kata Arka semakin terkesan terburu-buru.


Aku lalu bergegas bersiap-siap. Semua barang yang aku siapkan aku keluarkan dan aku letakkan di teras rumah. Aku menunggu Arka dengan cemas. Tidak lama kemudian, Arka datang dan aku bergegas naik ke dalam mobil.


"Ada apa?" tanyaku


"Kita ke jalan raya dulu ya," kata Arka.


Astaga ada apa ini sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2