
"Kenapa kamu pergi nggak bilang-bilang?" kataku begitu menjawab telepon.
"Kenapa bapak sakit nggak bilang-bilang?" Awan malah menyerang balik.
"Aku takut mengganggu," balasku pelan merasa bersalah.
"Mungkin aku akan lama di sini. Daddy mencoba buka usaha kuliner di sini. Tapi masih spekulasi, mulai dari nol lagi," kata Awan
"Lalu kapan kita bisa ketemu?" tanyaku dengan nada manja.
"Aku belum bisa memastikan,"kata Awan dengan nada sedih.
Aku bimbang, perlukan aku memberitahu Awan mengenai Arka? Sepertinya bisnis kali ini menguras pikirannya, lalu tegakah aku menambah beban pikirannya? Semua terasa sangat rumit, kenapa harus Arka yang ada di antara kami? Kenapa bukan orang lain saja.
"Kemarin aku telepon Arka dan memintanya untuk menjagamu," kata Awan membuyarkan lamunanku.
"Apa? Arka?" tanyaku kaget dah nyaris berteriak.
"Iya, aku titipin kamu ke Arka." kata Awan sambil tertawa renyah.
"Kan ada Rayi, kenapa harus dititip ke Arka?" Aku protes sambil mengusap wajah berkali-kali dan mengacak-acak poniku.
Aku sudah tidak bisa fokus dengan pembicaraanku dan Awan. Aduh Awan, mau berapa lama dia titipin aku ke Arka? Apa dia tidak tahu, bisa-bisa dia menitipkan aku di sepanjang hidupnya Arka. Ibarat Awan main bola, Awan malah mengoper bola ke tim lawan atau malah melakukan gol bunuh diri. Ngeri, ngeri, ngeri.
Belum selesai Awan meneleponku, terdengar ketukan di pintu dan sapaan "Kulo nuwun," . Rayi yang dari tadi menonton TV bergegas membukakan pintu dan Arka datang dengan bungkusan di tangannya.
__ADS_1
"Ini Arka di sini," kataku memberitahukan Awan dan menyerahkan ponselku ke Awan.
Arka hanya berkata 'iya', 'OK', 'siap, ndan', kemudian tertawa, lalu mengulang kata-kata itu lagi. Kemudian panggilan diakhiri dan Arka menyerahkan ponsel kepadaku. Arka kemudian membuka bungkusan yang dibawanya dan isinya martabak telor kesukaanku. Aromanya sangat menggoda tapi aku sungkan untuk mengambilnya.
"Wah, kesukaan Kasih ni," kata Rayi sambil mencomot dan dengan santai menguyah martabak itu. Aku berusaha menahan diri untuk tidak bertindak gegabah padahal dalam hati ingin secepatnya ku ambil sebelum habis oleh Rayi.
"Awan yang bilang kalau ke sini bawain martabak telor," kata Arka sambil ikut mengambil martabak dan aku masih berusaha menahan diri sambil pelan menelan air liur supaya tidak jatuh.
"Cepet Kas, ini enak banget, nanti kamu nggak kebagian lho," kata Rayi yang sudah masuk potongan ketiga.
"Ni, mau disuapin atau makan sendiri?" kata Arka sambil mengambil martabak dan menyodorkannya di depan mulutku.
Ku ambil juga martabak itu dan rasanya enak gila. Sudah lumayan lama nggak makan martabak telor hangat seperti ini. Seperti terhipnotis, ku ambil lagi potongan berikutnya dan ku nikmati setiap gigitannya. Memang martabak telor always the best. Dan dalam waktu sebentar hanya tersisa kardus berminyak.
Tanpa sadar setelah aku mulai makan, Arka dan Rayi spontan berhenti makan dan aku menghabiskan sendiri martabaknya.
"Kas, kamu santai saja sama aku. Aku tahu kamu nggak nyaman kan sejak tahu kalau kita dijodohkan?" kata Arka yang membuat aku bertambah merasa serba salah.
"Nggak perlu merasa nggak enak sama Awan, kita nggak selingkuh kok, apapun itu, masak kamu nggak mau berteman sama aku?" lanjut Arka yang membuat ku menatap heran padanya. Kenapa seolah dia bisa membaca pikiranku?
"Mas Arya, kamu so sweet," kata Rayi dengan centilnya.
Arka lalu mengangkat tangannya memberi isyarat tos ke Rayi. Mereka bisa seakrab itu, seperti sudah kenal lama. Aku tersenyum melihat tingkah mereka yang sering bercanda dan sangat menghibur. Lucunya, Arka bahkan juga mengetahui dengan baik sinetron yang sedang ditonton Rayi. Mereka membahas tentang sinetron itu dan menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Cowok aneh ya kamu, doyan sinetron juga," kataku sambil tertawa lepas.
__ADS_1
"Ini tuh tuntutan peran Kas," kata Arka sambil tersenyum melihat aku yang belum juga berhenti tertawa.
"Udah ah, diketawain. Aku mau pulang aja," kata Arka sambil berdiri dan memakai jaket jeansnya.
Ku antarkan dia ke depan. Ternyata dia memakai motor sport dan segera memakai helm fullface. Aku tersenyum sendiri, mengingat pengemudi Motorsport ini pernah menjadi buronanku.
"Aku senang kamu baik-baik saja. Terus bahagia ya, Kas." katanya sambil melambaikan tangan dan kemudian berlalu dari depanku. Aku masuk ke dalam rumah dan menemukan Rayi yang sudah terlelap di depan TV. Ku ambil batal dan selimut untuknya. Aku lalu mengunci pintu dan semua jendela, gosok gigi, cuci kaki dan tangan serta tidur bersama Rayi. Ku lepaskan semua lelah ku di sini. Apapun yang terjadi, masih ada besok yang harus ku hadapi.
Tapi kenapa mataku seolah enggan terpejam padahal Rayi sudah tidur sampai ngiler. Kapan aku bisa seperti itu lagi? Bisa tidur nyenyak kapanpun dan dimanapun. Ku ambil ponselku dan kubuka galeri foto. Ada foto-fotoku bersama Awan ketika kami belum pacaran, masih belum ada masalah rumit yang aku hadapi, senyum dan tawaku juga tampak sangat lepas. Ada juga fotoku bersama Rayi dan aku sangat bebas menjadi diriku sendiri. Membuat muka lucu dan jelek dengan bebas. Ada foto Arka yang diam-diam ku foto saat di menyanyi dengan gitar akustiknya di cafe. Aku pindah ke album yang lain, ada , foto sawah, foto petani, foto padi yang dijemur, foto bersama bapak dan ibu. Bapak terlihat sehat dan bahagia, terbayang bapak yang sekarang hanya bisa terbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda. Ekspresi wajahnya juga tidak bisa terlihat jelas. Air mataku mengalir deras, semua karena aku sehingga bapak menderita seperti itu. Ibu juga jadi kehilangan sosok suami yang menjadi tempatnya bersandar, ibu malah harus bersusah payah merawat bapak yang seharusnya mereka bisa membahas tentang kegiatan sehari-hari sambil menikmati kopi saat malam hari. Anak seperti apa aku yang hanya bisa menyusahkan bapak dan ibu di usia tua mereka. Ponselku berdering, dan itu dari Awan.
"Jangan begadang, Kas. Cepat tidur ya," katanya begitu kujawab teleponnya.
"Kamu peramal ya? Tahu aja aku belum tidur," kataku sambil mengambil posisi tengkurap.
"Ya kamu ngangkat telepon, berarti kamu belum tidur dong," kata Arka yang sangat masuk akal. Aku hanya mampu tersenyum.
"Kamu sendiri nggak tidur?" tanyaku kepadanya.
"Mau mastiin kamu udah tidur belum," kata Arka dan entah mengapa suara Arka selalu terdengar lembut di telinga.
"Iya deh, habis ini tidur," kataku kemudian mengakhiri telepon dan aku mencoba memejamkan mata.
"Kayaknya kalian cocok deh, daripada kamu menangis karena merasa bersalah sama orangtuamu, terima aja. Mas Arya juga baik gitu orangnya," kata Rayi tiba-tiba.
Gila, ternyata Rayi dari tadi memperhatikan ku. Tapi kenapa Rayi memberikan saran seperti itu padaku?
__ADS_1