
Usia kandunganku mencapai 37 minggu dan beratnya sudah mencapai 2,8 kg. Karena alasan medis, aku harus menjalani operasi caesar dan walaupun sekarang ada yang disebut persalinan ERACS, tapi tetap saja aku merasa khawatir. Belum lagi kesehatan Arka yang sepertinya semakin menurun karena dia terus menjagaku yang sejak beberapa bulan terakhir harus bedrest total. Walaupun sekali waktu Rayi juga membantu tapi Rayi juga sangat direpotkan oleh pekerjaan yang semakin banyak dan tanggungjawabnya semakin berat karena aku benar-benar lepas tangan.
"Kamu pasti bisa yank," kata Arka sambil mengecup keningku sebelum aku dibawa masuk ke ruang operasi.
Tanpa terasa terdengar suara tangis bayi di ruang operasi yang terasa dingin. Gadis mungil yang itu didekatkan padaku sebentar sebelum dibawa ke ruang bayi karena aku harus menjalani observasi pasca operasi. Aku hanya merasa sangat lelah dan mengantuk, bahagia, haru, sedih, semua perasaan bercampur aduk menjadi satu. Arka menemaniku di ruang observasi dan tangannya terus menggenggam tanganku. Rasanya sangat bahagia melihat dia ada di sini dengan senyumnya yang selalu membuatku terpesona. Dia terus menceritakan tentang bayi mungil kami yang terlahir sehat. Lega rasanya karena proses kehamilanku saat mengandung dia terbilang sangat berisiko. Bening Devota Aryasetya itulah nama yang disematkan Arka untuknya.
...****************...
Tapi ternyata tidak segampang itu menjadi seorang ibu rumah tangga apalagi dengan dua anak balita. Rasanya dua tangan ini tidak cukup untuk mengatasi semuanya. Belum lagi kalau anak sakit dan ada benar sebagian meme yang beredar di sosmed tentang 'ibu dilarang sakit' karena sekali aku sakit, semua urusan bisa amburadul. Tidak seperti pekerjaan yang bisa semudah itu aku percayakan ke Rayi. Apalagi dengan Bening yang terlanjur sangat menempel denganku, bahkan waktu untuk nongkrong di WC saja tidak bisa aku nikmati apalagi untuk berjam-jam mandi sambil berdendang satu album full seperti yang sering aku lakukan. Rasanya mandi ini asal basah dan kena sabun, sisiran pun kadang tidak terlaksana dengan baik dan benar. Bukan karena Arka atau Mbok Welas tidak mau membantu, namun begitulah tangis Bening akan pecah jika dia tidak merasakan kehadiranku di sampingnya.
__ADS_1
Namun syukurlah, itu hanya berlangsung sekitar empat bulan karena Bening malah lebih senang jika bersama Aahva. Aahva menjadi kakak yang baik dan sangat sayang pada Bening. Walau sesibuk apapun, aku merasa sangat bahagia karena sekarang aku total di rumah sehingga bisa terus merawat anak-anakku. Melihat tumbuh kembang mereka dan mengurus mereka dengan tanganku sendiri. Mbok Welas memang masih tinggal bersama kami tapi aku dan Arka sepakat untuk merawat Mbok Welas sebagai orang tua kami dan tidak membiarkan Mbok Welas terlalu banyak bekerja. Ibu dan kedua mertuaku sering ke rumah untuk menjenguk cucu-cucu mereka. Sehingga rumah sering ramai dan aku sangat menikmati peranku yang sangat luar biasa. Aku benar-benar meninggalkan dunia bisnis dan bahkan aku kadang Ade juga aku asuh bersama dengan kedua anakku.
Tapi dibalik kebahagiaanku, kesehatan Arka semakin menurun. Dia bahkan sering opname sehingga Pak Surya yang sempat pensiun harus kembali memimpin perusahaan. Dan semua perusahaan yang Arka bangun sendiri dikelola dan diurus dengan baik oleh Rinto. Aku sangat bersemangat mengurus Arka dan tidak pernah merasakan kalau itu adalah beban atau merasa kerepotan dengan semua ini. Arka sering sedih karena merasa bersalah, dia menganggap dirinya gagal untuk menjaga dan membahagiakan aku tapi malah sebaliknya.
"Mas, kita ini suami istri, jadi harus saling menjaga dan saling membahagiakan, bukan jadi tanggungjawab salah satu pihak saja," kataku sambil menatap kedalam matanya namun berusaha menahan keras air mataku supaya tidak jatuh.
"Yank, kamu baik-baik aja kan?" tanya Arka di suatu sore.
"Iya, seperti yang mas lihat aku baik-baik saja," kataku sambil tersenyum dan membelai pipinya.
__ADS_1
"Maaf ya yank, aku tidak bisa menjagamu dan anak-anak kita," kata Arka dengan tatapan mata yang dalam.
Air matanya terus berjatuhan dan membasahi jariku yang dari tadi tidak pindah dari pipinya. Aku hanya diam tidak mampu berkata apapun juga. Kenapa Arka tampak selalu menyalahkan dirinya sendiri dan seperti orang yang putus asa. Mana Arka yang dulu humoris, penuh semangat dan berapi-api?
"Dari awal aku tau kalau penyakit ini akan menggerogoti tubuhku. Awalnya aku siap untuk mati kapanpun. Tapi kenapa setelah jatuh cinta padamu ditambah lagi rasa sayang untuk Aahva dan Bening membuat semua terasa berat?" kata Arka sambil terus terisak.
"Mas.. ..," hanya itu yang mampu terucap dari bibirku.
Bukannya berusaha menghiburnya, aku malah ikut menangis bersamanya dan tangisku semakin menjadi saat Arka memelukku dengan sangat erat.
__ADS_1