
Aku terbangun sekitar jam tujuh pagi. Arka tidak ada di sampingku. Dengan malas aku keluar kamar dan mencarinya tapi tidak ketemu. Aku kemudian kembali ke kamar untuk mengecek ponsel, siapa tau dia meninggalkan pesan tapi hasilnya nihil. Aku mencoba menghubungi ponselnya yang ternyata tergeletak manis di nakas. Entah mengapa sejak tidak berhasil mengetahui keberadaan Arka, rasanya aku sangat badmood. Rasa malas melandaku dan rasanya pingin uring-uringan. Semua terasa serba salah. Kemudian ponsel berbunyi dan ternyata Rinto yang memintaku untuk menemani Rayi. Aku kemudian mengirim pesan ke Arka berharap saat dia pulang dia tahu di mana aku dan bisa menyusul. Aku lalu bergegas ke tempat Rayi dengan ojek online.
"Arka hilang nggak tau ke mana?" kataku kepada Rayi sambil memantau chatku ke Arka yang tak kunjung bluetick.
"Mosok ?! Kamu bangunnya kesiangan kali," kata Rayi dengan nada menghujat.
"Jam tujuh" kataku sambil melempari Rayi dengan bantal.
Rayi mulai mengamuk karena mengenai lukanya yang belum kering sempurna. Aku lalu rebahan di depan TV sambil menonton Spongebob yang menurutku sangat absurd. Setiap kali Rayi mengajak berbicara aku menjawabnya pendek dan bahkan sedikit membentak. Lama kelamaan Rayi merasa tidak nyaman dan mulai uring-uringan.
"Kamu kenapa sih Kas?" tanya Rayi dengan setengah berteriak dengan kedua tangan di pinggang.
"Yang badmood aku, kok yang ngamuk malah kamu," kataku sambil mengupil.
"Kamu PMS?" tanya Rayi sambil menoyor kepalaku.
"Nggak!," jawabku sambil menggerutu.
"Terus? Nggak dibelai Arka?" Rayi mulai meledekku sambil mencolek daguku.
"Kamu tuh nggak bisa bahas hal lain ya?" aku mulai berteriak pada Rayi
"Kalau candaan teman kamu anggap serius, pulang aja kamu, wahai hati tisu," kata Rayi
Aku meminta maaf sambil mengusap wajah dan mengacak-acak rambutku. Kenapa saat mendengarkan kata-kata itu emosiku serasa semakin meledak-ledak. Apa karena semalam aku berharap bisa berhubungan intim dengan Arka namun nyatanya aku tertidur dan saat aku terbangun Arka tiba-tiba menghilang. Mana Arka sampai sekarang belum memberi kabar dan juga belum bisa dihubungi. Aku malas untuk memeriksa ke kantornya. Masa iya, Arka berangkat ke kantor sebelum jam tujuh pagi?
__ADS_1
Untuk membunuh rasa jenuh dan emosi yang sulit ku kendalikan, aku mengajak Rayi untuk membahas rencana pernikahannya. Rayi yang mungkin sudah terlanjur sakit hati dengan sikapku tadi menjawab asal-asalan seolah tidak menaruh minat sama sekali dengan pembicaraanku.
"Aku tuh pinginnya, pernikahan yang modern. Eh, Rinto malah pingin pakai adat Jawa," kata Rayi sambil mencucu.
"Oo," jawabku lebih karena tahu Rayi bete karena itu. "Ya, pertama pakai adat Jawa, nanti di tengah-tengah resepsi ganti pakai busana modern," usulku.
"Rinto nggak mau ribet, solan salin klambi," jawaban Rayi semakin meninggi.
Aduh, apes apa ini? Niat ganti topik supaya adem, malah gantian Rayi yang memanas. Semakin ruwet rasanya hidupku. Aku nggak tahu mau berbuat apa lagi. Otakku rasanya tidak bisa ku putar untuk ku isi dengan sesuatu yang berfaedah. Keysha kemudian menghubungiku dan membahas tentang bajuku yang sudah laku dan buyer meminta untuk produksi masal.
"Nggak bisa Key,pada prinsipnya aku ingin karyaku yang limited edition, nggak semua orang bisa punya," protesku saat menelpon Keysha.
"Kas, kamu tuh baru mulai sudah dapat pesenan banyak itu udah bagus lho. Kamu jangan sok-sokan gitu," kata Keysha dengan nada kecewa.
"Ya udah, nanti kita ketemu untuk bicara lebih lanjut," kataku kemudian mengakhiri panggilan.
"Memang awal bisnis kita harus banyak mengalah sambil membangun brand. Kalau sudah ada nama barulah bisa jual mahal," pesan Keysha persis seperti yang dikatakan Rayi tadi.
...****************...
Aroma masakan menggoda hidungku dan menuntun langkah ku ke dapur. Arka hampir selesai memasak dan menyambutku dengan senyum. Astaga suamiku, pesonamu menghancurkan amarahku, bagaimana aku bisa marah padamu karena kamu seharian menghilang?
"Pagi-pagi aku joging pinginnya ngajak kamu, tapi kamu tidur nyenyak banget. Nggak tega bangunin," kata Arka tanpa aku minta penjelasan.
"Ku pikir mas diculik genderuwo," kataku sambil menyalaminya.
__ADS_1
"Kenapa chat ku diabaikan?" tanyaku menyelidiki.
"Keluar di notifikasi, yang pentingkan aku tahu kamu di mana," kata Arka sambil mengecup keningku.
"Terus kenapa nggak nyusulin aku ke tempat Rayi?" tanyaku berusaha mengorek kesalahannya
"Udah, nggak perlu diperpanjang. Mandi dulu sana, terus makan," lanjutnya yang membuatku bungkam
Aku malah merasa tidak enak sama Arka, harusnya aku yang diam di rumah dan menyiapkan makanan malah yang terjadi kebalikannya. Bukannya berusaha menjadi istri yang baik malah mencari masalah. Mana seharian aku pergi meninggalkan Arka. Aku segera mandi dan makan malam bersama. Aku juga bercerita pada Arka mengenai kegiatanku seharian ini. Dan Arka terlihat antusias menanggapi mengenai pesanan seragam dari Keysha. Dia terlihat sangat mendukungku.
Hampir jam sepuluh saat aku selesai membersihkan meja makan dan mencuci piring. Arka terlihat sudah tidur saat aku masuk ke kamar. Aku kemudian berbaring di sampingnya dan tangan Arka melingkar di pinggangku. Aku merapatkan diri padanya.
"Aku kangen tau, seharian nggak ketemu kamu," kata Arka sambil mempererat pelukannya.
"Ya, abis mas juga, istri seharian hilang nggak dicari," aku masih protes
"Siapa tahu kamu kangen Rayi, pingin Quality time berdua aja. Curhat-curhat, gosipin aku, ya kan nggak enak kalau ada aku di situ," kata Arka beralasan.
Aku hanya diam tidak menjawab, ku pejamkan mata dan merasakan sensasi tangan Arka yang mulai bermain di setiap milimeter tubuhku juga kecupan-kecupan lembut dan hangat darinya. Malam ini aku berharap benih yang ditanam di rahimku kelak menjadi anak yang luar biasa dan menjawab permintaan orang tua kami akan hadirnya seorang cucu. Rasanya lega, seolah semua emosi yang menumpuk dari pagi meredam begitu saja.
"Aku berharap punya anak laki-laki biar bisa jadi jagoan dan jadi menemaniku main gitar di teras rumah," kata Arka sambil mengecup keningku.
"Kenapa nggak cewek aja? Niat jadi bestie ku," jawabku sambil memainkan jariku di sela-sela rambutnya.
"Ya dua deh, cewek cowok," kata Arka yang membuatku tersenyum, sesederhana ini kamu menyelesaikan masalah.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Arka berbunyi dan itu dari Pak Surya. Ada apa ya? Tumben malam-malam begini beliau menelepon.