
"Dalem, pakde," kata Rayi saat menjawab telepon bapak.
"Kasih gimana, nduk? Tadi dia kerja?" tanya bapak dengan suara sedikit serak.
"Kerja pakde, tapi izin pulang karena ndak enak badan, mungkin capek abis perjalanan jauh," jawab Rayi sambil terus menatapku.
Aku hanya mampu mendengarkan dan sedikit menahan napas. Air mataku jatuh mendengar suara bapak yang menunjukkan kesedihan. Rayi menyodorkan ponselnya padaku namun ku tolak dengan isyarat lambaian tangan. Ku akui aku memang egois dan keras kepala. Entah mengapa aku tetap berusaha jual mahal pada bapak walau sebenarnya jauh di lubuk hatiku, inginku memeluk dan meminta maaf padanya. Lelaki terhebat cinta pertamaku.
"Pakde titip Kasih ya, nduk. Jangan pernah kamu tinggalkan dia sendirian, jagain Kasih untuk Pakdemu ini, nduk." kata bapak terbata-bata berbicara menahan tangis.
"Nggih, pakde," jawab Rayi lalu panggilan diakhiri.
Suasana seketika hening dan hatiku semakin hampa. Apa iya aku akan memperjuangkan kebahagiaanku di atas kesedihan bapak. Apa pada akhirnya aku akan bahagia sedangkan hubunganku dengan bapak seperti ini? Ku kembalikan pertanyaan Rayi pada diriku, mau sampai kapan aku menghindari orang tuaku? Mau sampai kapan aku berpura-pura bahagia sedangkan air mata di hatiku tak bisa ku bendung? Mau sampai kapan?
"Semua ini baru terjadi, Kas. Kamu butuh waktu untuk merenungkan semua dan perlahan mengambil keputusan yang tepat. Kasihan juga pakde," kata Rayi sambil memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
Aku hanya menundukkan kepala berusaha mengurai masalah yang sedang aku hadapi. Apa aku harus memulai dari awal lagi? Meminta waktu untuk bapak supaya bisa mengenal Awan lebih baik? Atau apa aku harus meninggalkan Awan hanya untuk menuruti keinginan orang tuaku?
"Kepalaku pusing Ra mikirin semua ini," kataku sambil berdiri.
"Solusinya ya cuma satu, kamu kembali ke desa, duduk lagi sama orangtuamu dan bicarakan semua baik-baik," saran dari Rayi yang sebenarnya sangat masuk akal.
Aku menolak saran dari Rayi karena emosi masih memenuhi kepalaku dan aku belum bisa berpikir jernih. Aku tahu betapa bapak apalagi ibu sangat mengkhawatirkan ku saat ini. Namun, selagi aku belum menemukan jalan keluarnya aku tidak akan kembali.
...****************...
__ADS_1
Beberapa minggu berlalu dan aku mencoba melupakan masalah pernikahan. Aku tetap berangkat kerja seperti biasa dan mencoba melakukan yang terbaik. Aku tidak boleh lemah karena saat ini hidupku ditopang oleh kedua kakiku sendiri. The show must go on. Ada cicilan KPR yang harus kutuntaskan dan ada kebutuhannya hidup lainnya yang harus aku penuhi.
Aku juga tetap bertemu Awan dan bermesraan dengannya. Dan aku tetap menjalani hari-hariku bersama Rayi yang tidak ada habisnya menceritakan tentang Mas Arya yang lama kelamaan membuatku jenuh.
"Kas, ada kabar yang kamu harus tahu," kata Kasih di suatu Sabtu sore sambil berlari tergopoh-gopoh.
Pasti dia mau bercerita tentang Ma Aryanya. Mereka hari ini habis bertemu untuk membahas masalah pesanan seragam. Rejeki buat Rayi, selain mendapat bonus karena omset penjualan yang luar biasa dia juga dapat bonus berkenalan dengan si ganteng yang kaya raya yang membuat dunianya semakin halu.
"Apa?" tanyaku dengan nada malas sambil bermain game dari ponselku.
"Tadi aku ketemu Pakde Marto, dia disuruh bapakmu ke kota," kata-kata Rayi membuatku menghentikan permainanku.
"Disuruh apa?" tanyaku dengan nada tergesa-gesa.
"Tuku sparepart buat traktor bajak sawah," jawab Rayi sambil duduk di sampingku dan aku melanjutkan permainanku.
"Kata Pakde Marto calon suamimu itu nggak kalah ganteng dibanding Awan. Orangnya baik, ramah walaupun dia kaya raya," kata Rayi yang membuat keterkejutan berikutnya.
"Calon suami? mari kita cari kata pengganti lain, sebut saja 'lelaki itu'," kataku menolak pernyataan Rayi. "Tapi, kok Pakde Marto kenal sama dia?" tanyaku sedikit heran dan mulai tertarik dengan pembicaraan kali ini.
"Pakde Marto kan sering ke kota beli pupuk, beli bibit, beli ini beli itu," kata Rayi berusaha menjelaskan sesuatu yang sudah sangat aku ketahui.
"Maksudnya, Pakde Marto bisa tahu dia adalah lelaki itu, berarti lelaki itu juga tinggal di kota ini juga?" aku mencoba menarik kesimpulan dari pembicaraan ini.
"Itu dia, Kas. Kamu nggak pingin gitu menyelidiki tentang lelaki itu?" saran Rayi yang terpaksa ku tolak mentah-mentah.
__ADS_1
Saat ini aku sedang tidak ingin mengurusi masalah pernikahan baik dengan Awan ataupun dengan lelaki manapun. Ya, saat ini aku memang sedang berlari dari masalah yang seharusnya aku hadapi dan aku selesaikan. Semua ini aku lakukan demi untuk menjaga kewarasan akal dan jiwaku. Bersusah payah aku membangun mental untuk sampai ke keadaan sekarang ini, walaupun dalam masalah ini bisa diibaratkan posisiku masih jongkok dan aku masih perlu banyak kekuatan untuk mantap berdiri.
"Coba dulu aja," Rayi tetap memaksakan idenya.
"Aku baru berada di tahap tidak mau tahu, setelah aku berdamai dengan diriku sendiri dan mendapati kalau sebenarnya dari awal aku memang belum siap menikah dengan siapapun," kataku dengan gagah sambil menepuk dada.
Ponselku berdering dan itu dari panggilan penelpon gelap itu lagi. Aku dan Rayi saling pandang. Aku memutuskan menjawab teleponnya.
"Kamu kenal Pakde Marto?" tanyaku saat mengangkat telpon tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Kalau iya kenapa?" dia malah bertanya balik.
"Aku kenal kamu?" tanyaku dan dengan hati berdebar menantikan jawaban.
"Kenal cuma kamu ngga ngeh dengan keberadaanku," jawabnya santai
"Kamu siapa?" tanyaku untuk kesekian kali.
"Jika kamu mau, bisa saja aku menjadi masa depanmu," katanya dengan penuh percaya diri.
Segera ku akhiri panggilan, ku acak-acak rambutku dan ku guncangkan tubuh Rayi. Rayi memberontak kesakitan dan mencoba meminta penjelasan.
"Dia lelaki itu," kataku ke Rayi sambil menunjukkan ponselku kepadanya.
Mulut Rayi menganga dan segera dia tutup dengan kedua tangannya. Dia lalu mendesakku lagi untuk menyelidiki tentangnya. Menurut teori muluk ala Rayi, walaupun lelaki itu mendapatkan nomorku dari bapak, tapi dia sangat mengenalku, terbukti dari pertama kali dia menelpon, dia bisa mengetahui kalau bukan aku yang menjawab teleponnya. Dan kemungkinan dia memata-matai kegiatanku karena setiap kalian dia telepon, dia selalu seolah tahu dengan apa yang sedang terjadi padaku walaupun dia menelponku hanya sebentar.
__ADS_1
Aku jadi penasaran siapa sebenarnya dia.