MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 18


__ADS_3

Sambil aku bertiarap dan Rayi rebahan di depan TV, kami menginstal aplikasi untuk mengetahui identitas penelpon dan hasilnya nihil. Menurut Detektif Rayi, kemungkinan nomor itu hanya dipakai untuk menghubungiku, terbukti setelah menghubungiku nomorku, nomornya selalu tidak aktif. Aku mencoba untuk menghubunginya menggunakan nomor Rayi namun tetap saja dalam kondisi non aktif.


"Dia kan punya nomor satu lagi, pas nomor yang ini kamu blokir," kata Rayi mengingatkanku.


Dengan gesit jemariku mencari dari riwayat panggilan. Agak lama karena tertumpuk panggilan-panggilan yang baru. Rayi yang awalnya rebahan semakin tidak sabar dan akhirnya duduk. Nomornya kami temukan dan Info dari aplikasi nomor itu disave dengan nama 'Bos Junior', 'CEO', 'Pak Boss','Bos Ganteng','My Idol' dan astaga kenapa semua hanya menyematkan jabatan dan tidak ada satupun yang menyimpan kontak dengan namanya.


Aku dan Rayi saling pandang dan kami tertawa bersama. Yang save dengan nama 'Bos Ganteng' dan 'My Idol' pasti karyawatinya yang genit dan angannya tinggi menembus langit itu untuk bisa bersanding dengan lelaki itu.


"Dia itu seperti Lord Voldemort, namanya yang tidak boleh disebut," kata Rayi sambil manggut-manggut dan mengupil.


"Masih mainan Harry Potter aja," protesku mengingat Rayi dengan selera kurang kekinian.


Petunjuknya masih belum kuat, yang kami lakukan hanya berguling ke kiri dan ke kanan dan otak hanya berputar-putar dan belum bisa menemukan jawaban. Tiba-tiba Rayi duduk dan mengambil ponselnya. Diketiknya nomor itu di ponselnya dan dia membuat panggilan.


"Ada apa? Kasih minta kamu telepon aku?" katanya begitu menjawab panggilan dari Rayi.


"Kamu tau siapa aku?" tanya Rayi dengan nada menantang.


"Kamu Rayi Danasti, sepupunya Kasih, teman dekatnya kan?" jawab lelaki itu dengan suara yang sangat tenang.


Buru-buru Rayi mengakhiri panggilan. Serentak kami duduk dan saling pandang. Mungkin ada benarnya dia memata-matai kami, bahkan dia sampai tahu nama lengkap Rayi. Semakin besar rasa penasaran kami untuk mengungkap siapa dirinya. Dengan memberanikan diri dan berusaha mengendalikan kegugupannya. Rayi kembali meneleponnya.


"Bisa kita ketemuan?" tanya Rayi memberanikan diri.


"Kita akan bertemu di waktu yang tepat, " jawabnya yang selalu menimbulkan teka teki baru.


Akhirnya aku dan Rayi seperti frustasi sendiri. Jika kami ke desa dan meminta orang tuaku mempertemukan kami, aku takut orangtuaku salah paham dan mengira aku menerima perjodohan ini. Lama kami berfikir sambil memasak mie instan kuah dengan telur ceplok dan irisan cabe. Bahkan sampai kami selesai makan, ide itu tidak juga muncul.

__ADS_1


"Harapannya hanya satu," kata Rayi sambil menepuk perutnya yang sudah kenyang 


"Apa tuh?" tanyaku sambil meniup-niup mulut karena kepedasan.


"Kita culik Pakde Marto kalau dia ke kota. Kalau dia nggak mau bantu, kita siksa dia," kata Rayi menggebu-gebu sambil mengepalkan tangan.


"Astaga ala pshyco, nggak perlu bertindak anarkis seperti itu, ditanyai baik-baik aja Pakde Martonya," kataku sambil menepuk dahi.


Aku lalu meminta Rayi untuk menghubungi Rinto, anaknya Pakde Marto untuk mengabari kami jika Pakde Marto ada acara ke kota. Semua sudah fix, kami hanya tinggal menunggu info dari Rinto lalu menjalankan Plan B.


"Tau nggak kenapa namanya Rinto?" tanya Rayi sambil menutup ponselnya.


"Kenapa tuh?" tanyaku walaupun sebenarnya nggak penting juga.


"Istrinya Pakde Marto itu kan namanya Rini, jadi Rini-Marto disingkat Rinto," kata Rayi sambil berjalan pulang ke rumahnya meninggalkan aku yang tidak bisa berhenti tertawa.


"Kita kerja dong," kataku protes.


"Izin ajah, kepentingan keluarga," saran Rayi dengan santainya.


"Mana boleh sama HRD kalau kepentingan keluarga terus izin, minimal tiga hari sebelum sudah izin," kataku menjelaskan aturan cuti dan izin.


"Yawis, mbolos wae. Paling nanti dapat teguran. Nggak langsung SP-3," kata Rayi menyepelekan.


...****************...


Tampak dari kejauhan Pakde Marto turun dari bis dengan sedikit sempoyongan. Mungkin dia baru bangun tidur. Bergegas aku dan Rayi mengejar, lalu mengapit Pakde Marto lalu sedikit menariknya supaya mengikuti kami. Pakde Marto berusaha memberontak.

__ADS_1


"Lho, Rayi? Kasih? Kalian berdua ini kenapa? Pakde dieret-eret wis koyo begal wae," kata Pakde Marto panik sambil menjewer telinga kami.


"Pakde kami cuma mau tanya-tanya penting," kataku sambil menggosok telingaku yang terasa panas akibat jeweran Pakde Marto.


"Ya sing sopan, Kulo nuwun dulu, salim dulu. Main tarik aja. Kalian pikir Pakde ini wedhus?" kata Pakde mengomel yang justru membuat kami tertawa.


Aku lalu bertanya pada Pakde mengenai bapak dan ibu. Lega rasanya mendengar kabar bahwa mereka baik-baik saja walau kadang kesedihan tampak di wajah mereka. Pakde Marto memintaku untuk kembali ke desa, duduk berkumpul dan membicarakan semuanya baik-baik. Bapak pernah menyampaikan penyesalannya kepada Pakde Marto, namun bapak gengsi untuk meminta maaf dan menghubungiku lebih dulu. Dia takut harga diri dan wibawanya jatuh, ego seorang bapak dan pemimpin. Aku lalu menanyakan mengenai lelaki itu. Pakde Marto mengakui memang sering bertemu dengannya namun semua tanpa direncana. Mereka hanya kebetulan bertemu, dan Pakde Marto pun tidak tahu mengenai rumah maupun nomor teleponnya. Dan jawaban itu membuat aku kecewa. Bagaimana mungkin bapak bisa menjodohkan aku dengan lelaki yang misterius seperti ini.


Tapi menurut Pakde Marto dia anak yang baik, sopan dan ramah. Satu desa tahu kalau keluarga mereka kaya raya dan mengenalnya dengan nama Mas Sur.  Dulu Mas Sur juga berasal dari desa itu. Mas Sur dan bapak berteman baik sejak dulu, Bapak diterima bekerja di bank dan Mas Sur kemudian merantau dan bekerja di kapal pesiar. Dia juga pernah bekerja di beberapa hotel di luar negeri terutama di Asia Tenggara. Dari uang hasil kerjanya, Mas Sur ini mencoba membuka homestay di area pesisir pantai dan lama kelamaan berkembang pesat dan punya hotel berbintang.


"Terus nama anaknya siapa?" Tanyaku ke Pakde Marto


"Aduh, Pakde sering lupa. " jawab Pakde sambil berusaha keras mengingat.


'Tapi, njenengan punya fotonya kan?" tanya Rayi berusaha memenuhi rasa penasarannya.


"Buat apa, nduk pakde nyimpen fotonya? Lha wong dia itu juga bukan foto model," jawab Pakde santai namun cukup memancing emosi Rayi.


"Iyo, bukan foto model. Tapi fotokopi," balas Rayi gemas.


"Kalau kamu mau tahu lebih pasti, kamu pulang saja, nduk. Tanyakan saja sama orangtua. Ya wis Pakde mau lanjut dulu, banyak yang mau dibeli," Pakde pamit sambil membereskan barang bawaannya.


Kami lalu menyalami Pakde Marto dan mencium tangannya. Aku pamit pulang dan berpesan padanya untuk tidak memberitahukan tentang pertemuan ini pada bapak. Namun saat kami sudah berada di atas sepeda motor, Pakde Marto meneriaki kami dan menunjuk ke arah seorang lelaki yang memakai motor sport dengan jaket kulit dan helm fullface.


"iku nduk, putrane Mas Sur," kata Pakde Marto.


Lelaki itu hanya melambaikan tangan ke arah kami sambil terus melaju. Kami berusaha mengejarnya, namun apalah daya sepeda motor matic bila dibandingkan dengan motor sport itu.

__ADS_1


__ADS_2