
"Kasih, orang seperti kamu ngapain di sini?," kata Chloe memandangku sinis, dia sedang bersama Sophie.
"Ini kan tempat umum, siapapun boleh berada di sini kan?" balasku berusaha angkuh dan tidak membiarkan Chloe mempermalukan aku.
"Siapapun boleh di sini, tapi kamu kan nggak berkepentingan," tambah Chloe terus berusaha merendahkan ku.
Aku sendiri tidak mengerti ada masalah apa Chloe denganku. Setiap kali bertemu dia selalu berusaha mencari celah untuk menjatuhkan ku.
"Kamu ada masalah apa Chloe? Hai, Sophie!" kata Arka menyapa kedua gadis itu. Mungkin Awan pernah memperkenalkan Arka dengan mereka sehingga dia terlihat akrab menyapa mereka.
"Ini ada gadis desa yang nggak tahu cara yang tepat untuk menempatkan diri," kata Chloe dengan keras sambil menunjuk ke arahku.
Beberapa pasang mata sudah mulai berpusat ke arahku. Aku mulai merasa bahkan aku sangat kecil, seperti seekor semut di antara gerombolan gajah. Ingin rasanya aku tidak terlihat dan menghilang dari sini. Kali ini aku benar-benar akan dipermalukan, bagaimana tidak aku sendiri ngeri melihat harga perhiasan dan semua yang ada di sini. Memang aku tidak pantas berada di sini.
"Pulang aja yuk, Ka. Kita kan udah selesai juga" ajakku ke Arka sambil menghela napas panjang.
"Lho, kamu kenal Arka?" tanya Chloe keheranan.
"Iya, aku yang ajak dia ke sini. Kamu ada masalah sama dia?" kata Arka pada Chloe.
"Wow, hebat ya. Ditinggal pacarnya ke luar negeri, dia malah main serong dengan lelaki lain," kata Chloe dan semakin menarik perhatian semua orang.
"Maaf Chloe, kalau kamu nggak tahu apa-apa mending nggak usah komentar ya. Permisi kami mau pulang," kata Arka yang kemudian menggenggam tanganku dan membawaku pergi dari depan Chloe.
"Dasar perempuan miskin murahan, wanita penggoda, semua laki-laki kaya diembat. Kalau mau kaya nggak gitu caranya, non." kata Chloe berteriak sekencang-kencangnya dan membuat kami benar-benar menjadi pusat perhatian.
Aku hentikan langkahku. Aku berusaha melepaskan tanganku dari Arka dan berjalan ke arah Chloe. Ku tarik kerah bajunya dan menunjuk tepat di depan hidungnya.
"Bukan salahku kalau Awan lebih memilih aku daripada kamu, dan bukan urusanmu kalau aku lalu meninggalkan Awan untuk memilih Arka. Ada masalah apa kamu sama aku? Kalau Awan mau sama kamu, ambil aja. Nggak perlu dengan tindak. kotormu menerorku," kataku sangat geram, rasanya ingin kucakar wajahnya yang mulus.
__ADS_1
Ku dorong Chloe dengan keras sehingga dia hampir terjatuh. Untung saja Sophie gesit menahannya. Sophie juga terlihat menggerutu padanya dan memintanya untuk diam.
Arka lalu menarikku dan mengajaknya pergi dari situ.
"Begitu ya kalau kamu marah? Segitu aja?" tanya Arka padaku dan semakin erat menggenggam tanganku. Mungkin dia takut aku berbuat nekat dan menyerang Chloe.
"Terus maumu gimana? Kalau punya granat sudah ku granat dia," kataku masih geregetan dan disambut Arka dengan tawa.
Hatiku terlanjur panas dengan kelakuan Chloe, lain kali kalau dia berulah lagi, aku tidak akan segan untuk menjambak rambutnya.
"Kasih, tunggu." Chloe berlari ke arahku.
"Kamu sudah putus sama Awan? Kenapa?" tanya Chloe saat sudah berada di dekatku.
Aku mencoba mengabaikannya dengan mencoba terus berjalan sampai saat dia dengan agresif menarik bajuku. Dan terpaksa aku menghentikan langkahku. Baru saja aku mau melabrak Chloe, tiba-tiba Arka maju dan melepaskan tangan Chloe dariku.
Di mobil, Arka menanyakan hubunganku dengan Chloe. Dari pembicaraan kami, aku tahu kalau Arka tidak mengenal Chloe dari Awan melainkan karena hubungan bisnis. Seperti yang pernah dikatakan Awan, Chloe kurang bisa diandalkan dalam urusan bisnis sehingga akhirnya kerjasama yang harusnya terjalin malah menjadi berantakan. Arka juga baru tahu kalau Chloe mengejar cinta Awan dan membuatnya selalu berusaha menjatuhkanku. Rasanya dunia sangat sempit, Arka seperti mengenal setiap orang yang ada di hidupku.
"Lain kali kalau ada yang berusaha merendahkan kamu, biar aku saja yang mengatasinya," kata Arka menatapku dalam. Aku mengangguk mengiyakan setiap perkataan Arka.
Urusan baju pengantin dan cincin sudah selesai, untuk urusan yang lain-lain menjadi tanggungjawab orang tua kami. Andai bapak masih ada, pasti bapak akan sangat bersemangat sekali mempersiapkan segala sesuatu.
"Tidak ada gunanya bersedih, itu tidak menghasilkan apa-apa." kata Arka tiba-tiba seolah membaca pikiranku
"Aku selalu teringat bapak," kataku selalu dengan pipi yang basah setiap kali membicarakan tentang bapak.
"Dan kamu masih menyalahkan diri atas kematiannya?" pertanyaan itu membuatku semakin merasa kalau Arka sangat mengerti aku dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain tertunduk dan diam.
"Kalau dirunut secara rinci, semua memang salahku. Andai dulu aku tidak bertengkar dengan bapak. Toh, akhirnya aku menerimamu juga kan?" kataku dengan mata menerawang.
__ADS_1
Lama kami diam, mobil juga terus berjalan menembus keramaian dan kemacetan. Aku mulai mengantuk dan terus menguap. Seperti terbius perlahan ku pejamkan mataku dan aku terlelap padahal rumah sudah dekat.
...****************...
Aku membuka mata dan ternyata aku berada di kamar Rayi. Terakhir yang aku ingat adalah aku sedang berada di dalam mobil Arka. Lalu untuk apa aku berada di sini?
"Arka tidak tahu di mana kunci rumahmu. Jadi dia mengantarmu ke sini," kata Rayi.
"Lalu bagaimana bisa pindah dari mobil ke sini?" tanyaku sambil duduk dan terus menguap.
"Arka membopongmu, keren banget. Dari dulu sejak awal melihat Arka pesonanya sudah menghipnotisku, sekarang melihat tingkah lakunya membuat aku semakin gila," kata Rayi dengan muka sok imut.
"Kamu kesambet apa, Ra?" tanyaku sudah tidak heran dengan kelakuan absurd Rayi.
"Kenapa kamu selalu beruntung? 95 persen kaum hawa pasti iri padamu," kata Rayi, hal yang sama pernah dia katakan padaku saat aku jadian dengan Awan.
"Terus kamu ikut yang berapa persen?" tanyaku mulai malas
"yang 95 dong Kas," kata Rayi dan membuatku tertawa.
Tidak munafik, aku sendiri selalu terpesona dengan penampilan Raka, Kulitnya putih dan terawat, senyum manisnya yang dihiasi lesung pipi, suaranya yang merdu, selain itu dia juga baik, peduli dan suka menolong pada sesama.Dia selalu tersenyum dan sepertinya hidupnya selalu bahagia.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, ada nomor yang tidak ku kenali memanggil. Siapa lagi kalau bukan Arka? Mau iseng apa lagi sih dia
"Ada Apa, Ka?" tanyaku begitu menjawab telepon.
"Kasih, ini aku," ternyata itu bukan Arka, itu suara perempuan dan terkesan sangat kasar.
Siapa sih yang seolah mencari masalah denganku?
__ADS_1