MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 62


__ADS_3

Napas Arka terasa hangat di leherku dan membuat aku merinding. Tangannya pun semakin melingkar erat di pinggangku.


"Ngobrol apa sama Mbok Welas? Biasanya kamu gampang terpengaruh dengan omongan orang lalu suka berubah pikiran," kata Arka sambil memberi kecupan di leherku dan aku berusaha menghindar.


"Nggak apa-apa, cuma membahas hubungan kita yang menurut Mbok Welas tanpa cinta," kataku berusaha berkata sejujur-jujurnya.


"Memang itu kan adanya?" kata Arka yang sama sekali tidak bisa ku sangkal.


"Kas, aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa mencintaimu. Tapi bukan berarti aku bebas memperlakukanmu sesuka hatiku. Kamu baru begini aja sudah kelihatan risih, aku nggak mau seperti itu," kata Arka yang perlahan melepaskan diriku.


"Tapi aku mulai merasa aneh kalau kamu nggak memelukku atau memegang tanganku saat kita berjalan," akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan hal itu.


Arka kemudian memelukku dengan senyum. Rasa bersalah mulai menyelimuti perasaanku, kenapa aku belum bisa membalas ketulusan cintanya. Aku lalu menyandarkan kepala di dada Arka, aku tahu, inilah tempat teraman dan ternyaman bagiku saat ini.


"Oh ya, hari Senin aku ada janji sama rekan bisnis, ada tender yang mau dibicarakan. Kamu ikut ya," kata Arka sambil membelai rambutku yang hanya sebahu.


"Nggak ah mas, nanti aku bosan. Ganggu," kataku menolaknya.


"Ini di villa di pegunungan, pasti kamu suka. Sekalian kita honeymoon. " kata Arka menyakinkan ku.


"Iya deh, aku ikut," kataku sambil memberi senyum padanya.


"Ya udah, aku mau zoom meeting dulu mungkin agak lama. Kamu jalan-jalan ke luar, kenalan sama tetangga, biar nggak bosan" kata Arka memberikan saran.


...****************...


Hari masih sangat pagi bahkan baru jam empat saat Arka membangunkan ku dan memintaku untuk mandi dan bersiap-siap. Tapi Arka harus menyiapkan beberapa berkas terlebih dahulu. Ya, sejak pindah ke sini, kantornya ya di rumah ini, semua dilakukan melalui zoom meeting, memang ada beberapa waktu dia akan ke kantor tapi tidak setiap hari.


Mbok Welas sudah bersusah payah memindahkan barang bawaan kami dari kamar ke mobil. Awalnya, aku ingin membantu namun Mbok Welas memintaku untuk segera bersiap-siap supaya tidak terlambat.


Sebelum berangkat Mbok Welas memaksa kami untuk sarapan terlebih dahulu dan membawakan kami brownies kukus yang dibuatnya sendiri. Jam berapa ya Mbok Welas bangun, sampai jam segini semua sudah rapi dan kami tinggal menikmati. Namun, selesai sarapan, Arka memintaku untuk menunggu sebentar lagi karena zoom meeting nya belum selesai.


"Dik Arka itu anak bungsu dan terpaut hampir 10 tahun dengan kakaknya. Dia kesayangan semua," kata Mbok Welas dengan mata menerawang dan senyum bangga.

__ADS_1


"Iya," jawabku singkat karena tidak tahu harus berkata apa.


"Demi cintanya padamu, dia mengalahkan egonya, tidak pernah lagi manja, malah dia yang momong. Terus kenapa hatimu masih belum terbuka? Apa ada lelaki lain yang kamu cintai?" kata-kata Mbok Welas yang lagi-lagi serasa menamparku.


Aku hanya menunduk, tidak berani juga menatap mata Mbok Welas. Karena pertanyaan terakhir dari mbok Welas adalah jawabannya. Tanpa sadar mataku berembun. Sejahat itu kah aku padahal Arka sudah banyak mengalah.


"Semua sudah siap? Ayo berangkat," kata Arka yang sudah berdiri di sampingku.


Arka lalu menyalami dan mencium tangan Mbok Welas dan mbok Welas mencium pipi kiri dan kanannya. Sama seperti saat Arka berpamitan dengan orang tua kandungnya. Menurutku ini sangat luar biasa. Bukannya mengecilkan profesi Mbok Welas, tapi seperti itu Arka menghargai dan menyayangi Mbok Welas tanpa memandang status. Aku lalu tergerak untuk melakukan hal yang sama dengan Arka.


"Mbok Welas itu sudah seperti ibu bagiku. Kami juga harus menghormati dan menyayangi Mbok Welas sebagai seorang anak," kata Arka yang sangat menyentuh hatiku.


Perjalanan semakin jauh, aku mulai pusing dengan jalan yang menanjak dan berkelok-kelok. Namun lama kelamaan udara sejak mulai ramah menyentuh kulit.


"Kiri.. kanan ku lihat aja, banyak pohon cemara aaa aaaa," nyanyiku girang melihat pemandangan.


"Hebat ya kamu," kata Arka yang membuatku mengurungkan niat untuk melanjutkan nyanyianku.


"Bisa nyanyi versi fals gitu, benar-benar pitch control nya ke mana-mana." kata Arka sambil tertawa.


"Iya deh, yang penyanyi tanpa auto tone," jawabku sekenanya.


"Kasihan aja anak-anakmu nanti kalau diajari nyanyi sama kamu," kata Arka sambil tertawa semakin keras.


"Ya kamu kan bapaknya, yang pinter nyanyi. Kamulah yang ajarin," kataku mulai putus asa


Kenapa tiba-tiba kami jadi membahas masalah anak? Sudah benar-benar seperti sepasang suami istri yang sedang berbahagia yang merencanakan masa depan rumah tangganya. Apa sih yang merusak pikiranku kali ini? Kami kan memang sepasang suami istri dan jujur aku bahagia menjalani rumah tangga dengan Arka yang santai dan asyik. Hanya tinggal tunggu waktu saat hatiku terketuk lalu terbuka untuk menyambut cintanya Arka.


"Kas, kok tiba-tiba diam? Kenapa?" tanya Arka membuyarkan lamunanku.


"Nggak papa kok mas," kataku seperti biasa.


"Keberatan kalau aku jadi bapak dari anak-anak?" pertanyaan Arka yang sangat memberatkan hatiku.

__ADS_1


"Bukan begitu mas.. .. ..,"


"Kamu belum siap?" potong Arka yang lagi-lagi membungkam ku.


Aku tahu, Arka pasti akan mengerti walau tanpa ku jelaskan. Tapi yang aku tidak tahu, sesabar apa Arka menghadapi situasi ini. Sejenak terngiang-ngiang kata-kata Mbok Welas sebelum kami berangkat tadi. Lalu kapan aku bisa mengimbangi dengan mengalahkan egoku? Pernikahan ini bukan permainan, harus ada tujuan yang jelas. Selain untuk berbakti pada orang tua, lalu apa tujuanku untuk diriku sendiri? Aku selalu membayangkan punya anak-anak yang lucu yang akan mengisi hari-hari pernikahanku tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana harus memulainya dengan Arka.


"Udah sampai, ayo turun," kata Arka yang sudah membukakan pintu mobil, entah kapan dia berhenti dan turun.


"Makasi ya mas," kataku sedikit lega karena akhirnya kamu sampai juga di tempat tujuan.


Villa yang kami datangi adalah milik keluarga Arka. Di sini tempat keluarga mereka berkumpul sesekali saat ada waktu yang tepat atau adau acara tertentu. Villa dua lantai yang terlihat megah. Kami masuk ke salah satu kamar dan ada foto pernikahan kami di sana. Kamar dengan nuansa putih.


"Kenapa jadi diam aja?" tanya Arka sambil membuka jendela dan membiarkan panas matahari memasuki kamar


"Aku ngantuk, biasanya biar nggak ngantuk aku nyanyi tapi tadi ada juri kompetisi yang rese," kataku mengarang supaya kami tidak kembali ke topik tadi.


"Ya udah, kamu tidur aja dulu, biar aku ngurusin barang bawaan kita," kata Arka.


"Tapi dingin banget ya mas," kataku sambil melihat bulu romaku yang berdiri karena kedinginan dan aku hanya memakai kaos oblong dan rok selutut.


"Suhunya dinaikin dong," kata Arka sambil mengeluarkan bedcover dan set sprei dari dalam lemari.


"Pakai apa?" tanyaku benar-benar tidak tahu.


"Remote AC dong ada di meja," kata Arka dan mataku mencari remote AC.


Baru aku tersadar di kamar ini tidak ada meja dan tidak ada AC. Astaga, suasana dingin dan sejuk ini bukan karena AC namun alami hawa pegunungan. Aku lalu melirik ke arah Arka dengan tatapan tajam dan Arka tertawa karena sekali lagi dia berhasil membodohi ku.


"Udah, nih rapiin tempat tidur terus selimutan biar nggak kedinginan," kata Arka sambil berjalan keluar untuk mengambil barang-barang yang masih ada di mobil.


Aku lalu bergegas memasang sprei dan sarung bantal serta membersihkan kamar supaya nyaman untuk ditempati. Kami akan di sini selama seminggu walau urusan bisnis Arka mungkin hanya perlu tiga hari untuk diselesaikan. Aku juga memeriksa kamar mandi dan ternyata airnya lancar dan juga ada air panasnya. Untunglah, kalau tidak bisa-bisa aku membeku atau mungkin memutuskan untuk tidak mandi daripada kedinginan.


Aku lalu melihat ke luar jendela. Ku kucek mataku memastikan sosok yang ku kenal yang berada di luar jendela. Jantungku berdetak kencang. Tidak salah lagi, itu Sophie, Chloe dan Awan. Apa yang mereka lakukan di sini?

__ADS_1


__ADS_2