
"Apa perlu ke klinik? Kamu kelihatan pucat sekali," kata ibu Awan yang ku jawab dengan gelengan kepala.
Entah mengapa bendungan yang dari tadi berusaha ku bangun akhirnya bobol juga. Air mataku mengalir seolah tidak bisa ku hentikan, aku menangis sesenggukan dan bisa ku rasakan hangat pelukan ibu Awan melingkarkan tangan di tubuhku dan membelai lembut rambutku. Tidak ada satu kata pun yang terucap hanya tangisku yang serasa semakin meledak-ledak. Ku tumpahkan semua keresahan dan rasa bersalah bersama air mata yang terus menetes seolah tak mau berhenti. Sampai perlahan ku atur nafasku dan ku tenangkan diriku serta berusaha menguasai emosiku. Lama aku diam kemudian meminta maaf pada ibu Awan yang sejak tadi membiarkan aku menangis dalam pelukannya. Merasa sedikit nyaman aku mulai menceritakan semua kegundahan yang aku alami. Tentang Arka yang begitu pintar dan cermat menutupi penyakitnya dan bagaimana aku merasa tidak dianggap sebagai seorang istri dengan perbuatannya itu. Ibu Awan tersenyum sambil sesekali membelai rambutku dan mengusap air mata yang masih tersisa di pipiku.
Dia kemudian bercerita kalau kondisi jantung suaminya semakin memburuk walaupun sudah melakukan operasi pasang ring sehingga dia harus sering wira-wiri di rumah sakit. Pada suatu ketika, dia datang untuk menebus obat dan kebetulan bertemu Arka yang tampak pucat dan sangat kelelahan sedang mengantri di ruang praktek Dr. Gery yang kebetulan adalah anak tirinya hanya saja hubungan mereka memang kurang baik karena Dr. Gery tidak pernah menyetujui pernikahan orang tua Awan. Ibu Awan memaksakan diri untuk terus menemani Arka di setiap pengobatan apalagi saat tau Arka merahasiakan kondisi kesehatannya dari keluarga, teman ataupun kenalannya karena dia tidak ingin mereka mengkhawatirkan keadaannya. Apalagi aku, istri Arka yang menurutnya paling disayangi. Jadi ada saat-saat Arka jarang di rumah hanya karena dia sedang menjalani pengobatan atau bahkan opname di rumah sakit ini. Akhirnya aku mendapatkan jawaban, kenapa Arka berada di sini saat aku pingsan karena kelelahan seharian mencarinya. Bahkan di hari-hari Arka pamit tidak pulang dengan alasan kerja, Arka berada di sini, berjuang melawan sakitnya. Bagaimana mungkin aku sama sekali tidak menyadari perubahan pada Arka, wajahnya yang sering tampak pucat dan kelelahan. Aku juga baru menyadari kalau tubuh Arka terlihat lebih kurus. Semestinya sejak aku tau Arka hanya hidup dengan satu ginjal, aku harus lebih bisa memperhatikan kesehatannya bukan malah sibuk dengan perasaanku sendiri. Rasa bersalah bertubi-tubi menyiksaku.
"Di awal-awal daddy sakit, aku juga sempat down. Yang ada hanya perasaan sedih dan selalu menyalahkan keadaan tapi itu sama sekali tidak berguna," kata ibu Awan setelah aku tampak bisa menguasai emosiku dan sedikit tenang.
"Terus aku harus apa?" tanyaku berusaha mencari solusi.
__ADS_1
"Kamu harus tenang dan yang penting jaga kesehatanmu, jangan dibikin stress," sarannya yang sedikit membuatku bingung.
"Kita sedang membicarakan tentang kesehatan Arka, kan?" kataku meminta penjelasan.
"Iya, cantik. Maksud mommy karena kamu harus jaga Arka, kamu harus lebih sehat dan lebih semangat dari Arka biar Arka juga semangat untuk sembuh," saran ibu Awan yang sangat masuk akal.
Aku hanya mampu tertunduk lesu, berharap aku bisa mengatasinya. Masih ada banyak waktu untuk menjadi istri berbakti dan aku harus semangat demi Arka, Aahva dan bayi dalam kandunganku.
"Hari ini jadwal ke Dr.Gery biar aku yang nemenin ya mas, kasihan ibunya Awan ngurusin suaminya masih kamu repotin juga" kataku karena ibu Awan sudah memberitahuku jadwal check up Arka
__ADS_1
"Kok kamu tau?" tanya Arka heran dan seolah tidak percaya dan seketika menghentikan aktivitasnya.
"Nanti mas nggak perlu ke kantor, kan cuma nggak masuk sehari," kataku.
Aku memberikan senyum terbaikku untuknya dan berusaha tenang seperti yang disarankan oleh ibunya Awan sedangkan Awan masih memandangku dengan tampang penuh tanda tanya. Tidak banyak yang aku jelaskan padanya, aku kemudian melakukan aktivitas harianku untuk mengisi waktu dan aku terus menerus berada di dekat Arka.
"Yank, kamu belum jawab pertanyaan aku," kata Arka menuntut ku.
"Mas nggak rela kalau aku yang nemenin?" aku malah menggodanya.
__ADS_1
Arka tetap membalas tingkahku dengan senyum padahal aku tau dia pasti sangat penasaran dengan semuanya. Aku kemudian menawarkan untuk membantunya bersiap-siap karena sebentar lagi kami harus berangkat namun di menolak tapi tetap saja aku terus membuntutinya. Wajahnya tampak bercampur antara risih, heran dan bahagia karena menurutnya aku sangat bersemangat dan terlihat ceria. Dalam hati aku membenarkan kata-kata ibunya Awan kalau apa yang kita rasakan akan membawa dampak juga untuk orang di sekitar kita. Dan kami berangkat diantar Rayi yang juga tampak lebih santai karena aku tidak terlihat stress dan depresi. Padahal sebelumnya Rayi selalu terlihat paling khawatir saat aku membahas tentang Arka.
Sampai di ruang praktek, Dr. Gery menyambut kami dengan senyum dan terlihat senang dengan kehadiranku. Dr. Gery malah menceritakan pada Arka tentang kedatanganku tempo hari dan berharap aku bisa sangat membantu proses penyembuhan Arka yang ternyata sudah sangat buruk. Mendengar informasi ini membuat pikiran dan perasaanku sangat kacau namun aku harus tetap tenang. Aku hanya berharap Arka bisa bertahan lebih lama lagi dan membina rumah tangga yang sangat bahagia bersamaku.