MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 107


__ADS_3

Saat aku terbangun, aku berada di atas ranjang yang empuk dan Arka tidur pulas bertelanjang dada di sampingku padahal hawanya terasa sejuk. Mataku memindai seluruh ruangan dengan seksama. Senyum terukir di bibirku, ternyata Arka membawa kami ke villa. Pasti semalam Arka bersusah payah membopongku dari mobil karena tidak ingin membangunkan aku. Mataku terbelalak saat melihat jam yang jarum pendeknya sudah mendekati angka sepuluh. Aku berusaha untuk bangun namun tangan Arka berusaha menahanku dalam pelukannya.


"Mas, aku harus bangun, nggak enak sama mama sama Kak Fiona juga," kataku walaupun sebenarnya aku masih sangat nyaman berada dalam pelukan Arka.


"Tapi aku udah enak banget meluk kamu. Tanggung!! Meluk kamu itu candu," kata Arka yang semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku dengan mata yang masih terpejam.


Akhirnya aku pasrah juga menunggu sampai Arka mau melepaskanku. Tapi wajar saja kalau kami bangun jam segini karena semalam entah jam berapa kami tiba di sini. Bisa saja menjelang subuh. Lalu bagaimana nasib Aditya dan Pak Surya? Apa Pak Surya aman hanya berdua dengan Aditya? Tapi Arka menolak membahas masalah ini dengan alasan dia ingin mengistirahatkan pikirannya, nanti kalau menurutnya waktunya sudah tepat, dia akan membicarakannya dengan Kak Fiona dan juga Bu Gendis.


"Tapi kenapa kita ke sini mas?" tanyaku sambil menarik-narik lembut rambut ikal Arka.


"Mas Adit nggak tahu tempat ini, terus ada kerjaan yang harus aku selesaikan di sini lalu menurutku di sini tempat terbaik untuk berkembang biak," kata Arka sambil mengendus pipiku.


"Kok berkembang biak?" protesku sambil berpura-pura ngambek.


"Yank, kitakan baru promil. Selain itu di sini hawanya sejuk, bawaannya pingin tidur terus, pingin meluk kamu terus," kata Arka dan menurutku bertindak sedikit genit.


"Mandi ah, udah jam segini. Nggak baik tidur terus, aku juga udah lapar," kataku sambil menarik hidung Arka.


Aku sudah selesai mandi dan aku mendapati Arka kembali tidur lagi dengan nyenyak. Aku bergegas ke bawah untuk mencari yang lainnya. Mbok Welas segera menyuruhku makan begitu melihatku. Bu Gendis, Fiona, Eurika dan Edna baru saja selesai makan.


"Arka mana?" tanya Bu Gendis.

__ADS_1


"Tidur lagi, ma." jawabku singkat


"Wis ben, jangan diganggu. Biar adik istirahat, jangan sampai kecapekan," tegur Mbok Welas.


Selesai makan aku mengajak Eurika dan Edna berjalan-jalan ke kebun strawberry. Mereka terlihat sangat senang karena ini pengalaman pertama mereka. Ini terdengar dari pengakuan Eurika yang lebih sering berbahasa Inggris dan dia menyebutnya Manglish.


"Are you tired?" tanyaku berusaha berbahasa Inggris.


"If you're tired, then stay at home loh." jawab Eurika.


"I won't go home without you," kataku sekenanya namun di kepalaku malah menyanyikan lagu Maroon 5.


"Ada apa, yank? Aku masih di tempat tidur, udah makan tapi belum mandi," katanya dengan nada seperti orang malas dan terdengar menguap berkali-kali.


"Aku sama Eurika sama Edna di kebun strawberry, mereka seneng banget. Kayaknya nggak mau diajak pulang," kataku melaporkan dari TKP.


"Ya udah, kamu di situ dulu aja nemeni anak-anak. Aku mau lanjut tidur. Tapi kamu jangan lama-lama, aku udah kangen ni," kata Arka yang kemudian mengakhiri panggilan.


Aneh nggak biasanya Arka bermalas-malasan seperti ini. Atau Arka benar-benar kelelahan ya.


...****************...

__ADS_1


Aku membantu Mbok Welas membereskan meja makan sekaligus mencuci piring usai makan malam. Bu Gendis tampak menelpon Pak Surya sedangkan Fiona menemani Eurika dan Edna yang akan tidur.


"Mas Arka kenapa ya Mbok? Seharian di kamar terus," ku ungkapkan rasa penasaranku pada Mbok Welas.


"Dia itu menghindari mamanya, jadi diam di kamar terus," kata Mbok Welas berbisik sangat lirih dan nyaris tak terdengar.


"Katanya ada yang mau diomongin sana mama sama Kak Fiona juga, tapi masih nunggu waktu yang tepat." kataku juga berbisik mengimbangi Mbok Welas


"Kowe ki ngomong opo toh, nduk? Mbok nggak dengar," kata Mbok Welas yang membuatku setengah syok.


"Kan tadi Mbok duluan yang bisik-bisik tetangga," kataku membela diri sambil berusaha mengatur napas dan menata emosi.


Mbok Welas malah tertawa melihat tingkahku dan akhirnya akupun ikut tertawa. Mbok Welas malah menyalahkanku karena ikut bicara berbisik padahal dia sudah tua dan pendengarannya pun sudah mulai berkurang. Tapi saat aku bicara keras padanya dia mengeluh katanya suaraku menyakitkan telinganya dan mengira kalau aku sedang marah-marah. Beneran bikin serba salah saja.


"Mbok, kembalikan yankku dong," kata Arka yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Iya, ini baru selesai," kata Mbok Welas sembari berlalu pergi.


"Yank, kumpul yuk sama mama, sama Kak Fiona," ajak Arka sambil berjalan terlebih dahulu.


Ku ikuti langkah Arka. Kepalaku mulai terasa dipenuhi oleh benang kusut yang semakin meruwet. Apa kira-kira yang akan dibahas oleh Arka.

__ADS_1


__ADS_2