MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 68


__ADS_3

"Belum, tapi nggak wajib lapor juga kan kalau sudah?" jawab Arka sangat santai.


"Kan kami sudah nggak sabar momong cucu," kata Bu Gendis dan percayalah itu cukup mengintimidasi ku.


Apa yang harus ku katakan kalau nyatanya sampai saat ini kami belum melakukan hubungan intim, bahkan semalam itu gagal gara-gara aku sedang datang bulan. Kalaupun aku tidak datang bulan, aku juga belum tentu siap menghadapi serangan dari Arka.


"Sudah, Dik Arka sama nduk Kasih biar istirahat dulu, mereka kan baru datang. Tanya-tanya nanti aja, kasihan mereka," kata Mbok Welas sambil membawakan barang bawaan kami ke dalam kamar.


Nasib baik ada Mbok Welas yang melepaskanku dari jebakan ini. Saat yang tepat untuk kabur dari pertanyaan selanjutnya. Saat aku berusaha berdiri, tangan Arka lembut menahanku dan tatapan matanya seolah memintaku untuk tetap tinggal. Akhirnya dengan berat hati, aku mengurungkan niatku.


"Nggak apa-apa mbok, kan kangen juga, lama nggak ketemu," kata Arka dan membuat kami tetap di sini.


"Gimana dik? Lelang nya?" tanya Pak Surya.


"Kalau urusan itu kita bicaranya besok aja ya pa, di kantor," kata Arka yang dibalas Pak Surya dengan anggukan.


'Iya, papa ini, semua kan ada waktunya," kata Bu Gendis protes sama suaminya.


"Kalian nginep sini ya, kamarnya kan cukup," kata Arka.


Kemudian orang tua kami masuk ke kamar masing-masing. Senang juga bisa bertemu ibu, hanya saja aku males kalau ditanyai tentang kehidupan pernikahanku.


"Yank, lain kali kalau ada tamu, apalagi itu orang tua kita, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ruang sidang begitu saja ya, nggak baik," kata Arka yang memperingatkanku mengenai sopan santun.


"Iya Mas, maaf. Aku nyusulin ibu ke kamarnya ya," kataku.


"Iya," jawab Arka kemudian mengecup keningku.


...****************...


"Kamu bahagia nduk?" tanya ibu saat hanya ada kami berdua di kamarnya.

__ADS_1


"Iya Bu, apa Kasih terlihat tertekan?" tanyaku sambil menatap mata ibu dan tersenyum


"Iya, ibu tahu Arka baik sama kamu, kamu juga terlihat nyaman, tapi pasti ada sisi hatimu yang masih menangis," kata ibu yang membuatku ingin menjerit.


"Kenapa ibu bisa bilang begitu?" tanyaku dengan mata yang berembun.


"Yang paling sakit itu menjauhi orang yang kita cintai, Ketika bibir berkata ingin menjauhi namun hati masih mencintai" kata ibu dan membuat aku terdiam.


Aku lalu berbaring di pangkuan ibu, kata-kata ibu sangat sesuai dengan apa yang kurasakan saat ini. Air mata mengalir seiring belai lembut jemari ibu. Ku kira selama ini ibu hanya ingin aku menikahi Arka tanpa mau tahu perasaanku, tapi ternyata ibu sangat mengerti aku.


"Supaya kamu lega, mungkin kamu mau cerita kapan pertama kali kamu bertemu Awan?" tanya ibu sambil terus membelai rambutku.


"Kita teman TK Bu," kataku sambil tersenyum.


"Apa? Teman TK?" kata ibu sedikit heran.


"Iya, terus ketemu lagi saat kuliah," jawabku sambil tersenyum membayangkan semua yang pernah terjadi.


Ternyata pada awalnya yang didaftarkan di TK itu adalah Arka, tapi karena Pak Surya harus bekerja di luar negeri dan semua biaya sudah dilunasi serta pihak sekolah keberatan untuk mengembalikannya, akhirnya disepakati semua dilimpahkan padaku. Aku baru tersadar sekarang, betapa elitenya sekolah TK ku dulu, teman-temanku yang semua diantar jemput dengan mobil mewah bahkan ada yang dikawal bodyguard. Mana mampu bapak yang hanya seorang pegawai walaupun berpangkat untuk bisa menyekolahkan anaknya di situ


"Kuliahmu juga limpahan dari Arka, karena setelah didaftar, Arka juga nggak mau kuliah di situ. Cuma bapakmu sungkan minta terus dan iuran sekolah mau ditanggung sendiri eh, malah kamu yang berjuang sendiri," kata ibu dengan pandangan menerawang.


"Itulah kenapa, saat Mas Sur meminta kamu jadi menantu, bapakmu nggak bisa menolak." kata ibu dengan mata berkaca-kaca.


"Bu, tapi Awan itu sudah jadi masa lalu Kasih. Kasih akan berusaha untuk bisa menjalani bersama Mas Arka walau jujur ini sangat berat" kataku kemudian duduk dan memeluk ibu.


"Maafkan ibu yang nduk, nggak bisa memperjuangkan kebahagiaanmu." kata ibu sambil mengusap air matanya.


"Kasih bahagia kok ma, urusan hati bisa diobati," kataku mencoba menghibur ibu.


Kembali bayangan kenangan bersama Awan yang sudah bersusah payah ku kubur kini bangkit kembali. Saat-saat awal kami bertemu lagi di kampus. Dia yang bagai Mega bintang mau berteman denganku yang terselip di situ hanya karena keberuntungan. Awan yang selalu sibuk dengan bisnisnya namun selalu berusaha menyempatkan waktu untuk bersamaku lagi.

__ADS_1


Luka di hatiku yang belum kering tersayat kembali dan rasanya itu sangat pedih. Tapi aku harus berusaha menutupinya agar ibu tahu kalau tegar dan mampu mengobati luka itu walaupun bekasnya tidak akan pernah hilang.


"Ibu ke dapur dulu, bantuin Yu Welas masak. Kamu pasti nggak pernah bantuin ya?" kata ibu sambil berdiri


"Mbok Welas nggak mau kalau dibantuin Kasih," kataku membela diri.


"Pasti tanganmu kaku kalau megang pisau," kata ibu sambil menoyor kepalaku dan berlalu pergi.


Memang bukan bakatku untuk berada di dapur. Rayi dan Mbok Welas punya pendapat yang sama tentang keberadaan ku di dapur, bukannya membantu tapi malah mengganggu. Kamu kemudian keluar rumah dan menemukan Mas Arka duduk di pinggir kolam dan memberi makan ikan koinya.


"Maaf ya yank, tadi aku nyariin kamu, nggak taunya kamu curhat sama ibu," kata Arka tetap fokus pada ikan-ikan di kolam


"Iya, tadi aku nyamperin ibu, abisnya aku kangen," kataku sambil duduk di samping Arka.


"Awalnya aku nggak sengaja dengerin pembicaraanmu sama ibu, tapi akhirnya aku lancang dengerin sampai selesai," lanjut Arka seolah mengabaikan kata-kataku barusan akhirnya aku putuskan diam dan menunggu kata apa lagi yang ingin disampaikannya.


"Kalau memang berat, tinggalkan aku yank, nggak perlu kamu berjuang untuk sesuatu yang nggak pernah kamu inginkan," kata Arka dan tatapan matanya menembus hatiku.


Aku diam membatu, semua pondasi kesabaran dan ketabahan yang bersusah payah aku bangun seketika runtuh. Langkah yang penuh kepedihan yang bersusah payah aku jalani seolah tidak berarti sama sekali.


"Kita kan sudah sepakat kalau kita akan membangun rumah tangga kita bersama," kataku lebih kepada meyakinkan diriku sendiri.


"Nggak! kalau kamu keberatan dengan apa yang kamu jalani denganku," kata Arka dengan tatapan kosong.


"Ya, mas bantu aku dong, biar semua manjadi ringan," kataku masih meyakinkannya.


"Aku sudah berusaha, tapi kamu setengah hati, ya sama saja, Kas" kata Arka kemudian berlalu pergi.


Gila ya? padahal baru semalam kami bermesraan, mencari solusi untuk masa depan kami, sekarang tanpa mau mendengarkan penjelasan apapun, dia memutuskan untuk berhenti begitu saja.


Ku susul langkahnya, kami harus menyelesaikan semuanya saat ini juga. Kalau dia mau selesai, selesaikan sekarang juga mumpung orang tua kami lengkap. Sekalian saja mungkin ini saatnya aku tumpahkan semua yang menyesakkan hati.

__ADS_1


__ADS_2