
"Sepertinya harus ada dua kamar anak mas," usulku saat kami membuat denah untuk renovasi rumah.
"Kamu mau nambah anak, yank?" tanya Arka menatapku dalam.
Aku bergegas ke kamar dan mengambil hasil testpack yang menandakan dua garis dan menunjukkannya pada Arka. Arka memandangku bergantian antara aku dan testpack di tangannya.
"Ini punyamu yank?" tanya Arka seakan tidak percaya.
"Ya punyaku lah, masak punya mas?" jawabku sambil tersenyum.
"Oh, tapi kan bisa begitu karena aku," jawab Arka.
Arka kemudian mendekatiku dan memelukku erat dan mendaratkan banyak ciuman di pipiku.
Melihat kebahagiaan terpancar di wajah Arka membuatku kembali mengenang saat pertama aku terpesona pada lesung pipi yang menghiasi senyumnya dan rambut kriwilnya yang sedikit berantakan serta alunan suara yang diiringan petikan gitar akustiknya. Aku yang saat itu tidak pernah tahu kalau dia yang kemudian menjadi suamiku. Aku kemudian memintanya menyanyikan sebuah lagu dengan iringan gitar dan hal itu sudah lama sekali tidak dilakukannya. Bisa dikatakan sejak kami menikah, Arka seolah tidak pernah menyentuh alat musik apapun. Aku kemudian meminta Arka untuk mengajari Aahva bermain alat musik dan bernyanyi. Aku kemudian menggoda Arka lagi dengan menyarankannya mengikuti ajang pencarian bakat.
"Nggak ah, nanti banyak yang patah hati," tolak Arka sambil tersenyum usil.
__ADS_1
"Orang kok pedenya selangit," kataku dengan senyum sinis yang ku buat-buat.
Lega rasanya sudah menyampaikan kabar gembira ini pada Arka. Melihat senyumnya yang terus mengembang dan wajah sumringahnya membuatku semakin bersemangat untuk melaksanakan renovasi rumah. Tapi entah kenapa rasanya aku malas untuk mengurusi pekerjaanku sendiri. Sepertinya aku mulai kehabisan ide untuk membuat desain baju untuk memenuhi kebutuhan butik. Otakku rasanya mendadak buntu, sampai saat aku mendengar suara Rayi dari luar dan aku bergegas menemuinya. Rayi menyampaikan ada beberapa kebutuhan model yang harus aku selesaikan untuk memenuhi permintaan pelanggan dan aku hanya menjawab dengan helaan napas panjang dan pandangan yang menerawang jauh.
"Kayaknya kepalaku baru kosong, susah ngisinya," kataku dengan nada yang benar-benar lemas dan malas.
"Bocah gendeng, terus gimana dong Kas?" kata Rayi dengan mata melotot karena sebenarnya kami memang dikejar deadline.
"Aku pusing, nggak bisa mikir, semakin dipaksa semakin buntu," jawabku enteng seolah tidak akan terjadi masalah apapun.
"Kenapa nggak rekrut karyawan buat bantuin kamu didesain sih yank? Jadi kamu tinggal memantau aja," tiba-tiba Arka bersuara dari dalam dan memberi usul yang menurutku sangat luar biasa.
"Apa kamu tinggal di desa aja sama ibu?" saran Arka saat dia pulang ke rumah dan aku masih belum beranjak dari kasur sedari pagi.
"Mas nggak suka ya aku males-malesan gini?" jawabku sedikit sewot
"Bukan. Biar kamu ada yang jaga ada yang merawat juga. Kebetulan mama sama papa juga sekarang stay di desa, papa bener-bener 'menuai padi milik kita'" kata Arka dengan wajah yang begitu dekat denganku dan tangannya membelai lembut pipiku.
__ADS_1
Pantas saja Arka sangat sibuk, ternyata Pak Surya sudah memutuskan pensiun dan semua urusan diserahkan pada Arka. Selain perusahaan Pak Surya, Arka juga harus mengurus perusahaannya sendiri. Aku tahu dia sangat lelah tapi wajahnya selalu tersenyum bahkan dia tetap berusaha membuatkan makanan untukku dan juga masih menjaga Aahva. Aku menolak untuk pulang ke desa dengan alasan fasilitas kesehatan yang jauh dari rumah dan aku harus melakukan pemeriksaan rutin. Akhirnya, Arka memutuskan untuk membawa Mbok Welas tinggal lagi bersama kami dan rumah keluarga Bu Gendis yang ditempatinya akan dikontrakkan saja. Akhirnya aku menyetujui permintaan Arka yang tampak sangat mencemaskanku. Selain itu, Aahva juga perlu perhatian khusus karena aku sering ketiduran saat menjaganya dan tentu saja itu sangat berbahaya. Aku juga tidak bisa terus menerus mengandalkan Rayi yang sudah sibuk mengurus butik, dia juga memiliki suami dan anak yang juga butuh perhatiannya.
...****************...
Hari ini aku harus ke dokter spesialis kandungan walaupun bukan jadwalku checkup tapi pagi ini aku mengalami flek kecoklatan dan itu membuatku sangat khawatir. Dengan Arka yang terus menggenggam tanganku dan menyemangati ku aku berusaha tenang. Namun saat ini pikiranku malah melayang ke Aahva yang tadi menangis saat kami pergi. Aku tidak yakin untuk membawanya karena dengan kondisiku aku tidak mau mengambil risiko untuk menggendongnya karena aku khawatir akan memperparah keadaan. Setelah di USG, baru aku tahu kalau aku mengalami placenta Previa satu kondisi di mana ari-ari menutupi jalan lahir. Namun posisi ari-ari bisa berubah seiring perkembangan dan pergerakan janin. Tapi saat ini aku disarankan untuk bedrest beberapa hari di rumah sakit untuk meminimalisir gerakan yang bisa berakibat luka pada ari-ari dan mengakibatkan flek yang lebih parah. Arka pergi mengurus administrasi dan aku menunggu di tempat duduk dan mataku tertuju pada TV walaupun aku tidak sepenuhnya menonton. Tiba-tiba sebuah suara yang tidak asing mampir di telingaku. Aku menoleh dan mendapati Awan berdiri di sampingku dengan muka cemas.
"Kamu sakit?" tanyanya.
"Nggak, aku hamil habis jengukin adiknya Aahva," kataku kali ini dan entah kenapa aku sangat tenang, rasanya seperti bertemu kenalan lama.
"Oh, selamat ya Kasih," kata Awan masih dengan tatapan menyelidiki.
"Kamu sendiri kenapa di sini? Kamu hamil juga?" candaku masih berusaha mencairkan kekakuan di wajah Awan.
"Oh, aku nemenin mommy periksa serviks," jawab Awan yang kemudian duduk di sebelahku tanpa aku persilahkan.
Kami kemudian hanya duduk diam dan mataku kembali terpacak pada layar televisi. Tidak lama kemudian ibunya Awan datang dan menatapku dengan wajah sumringah. Ibunya Awan hanya melakukan pemeriksaan karena beberapa kerabat dekatnya mengidap kanker serviks. Suatu tindakan yang sangat baik untuk berjaga-jaga apalagi di usianya yang sekarang ini dan syukurlah hasil pemeriksaan menunjukkan kalau ibunya baik-baik.
__ADS_1
"Mommy?! Gimana? Semua hasil menunjukkan kalau mommy sehat kan?" Tiba-tiba Arka datang dan merangkul ibunya Awan dengan sangat akrab.
Heran, sejak kapan Arka sedekat itu dengan beliau bahkan Arka sudah tahu tujuannya ke sini? Ternyata ada beberapa hal yang aku lewatkan begitu saja.