
Awan mendekatiku dan menyelipkan rambutku ke belakang telingaku, tapi aku tahu matanya masih menatap tajam ke arah Bara yang berdiri tepat di belakangku. Aku hanya mampu diam membisu dan membatu. Aku berusaha menenangkan diri, seolah otakku berkata pada hatiku, tenang Kasih, semua akan baik-baik saja, toh kamu juga nggak ngapa-ngapain sama Bara, namun hatiku terus saja cemas.
"Pintu terbuka tidak terkunci, HP bisa dihubungi tapi nggak ada yang respon," kata Awan sambil menatapku lembut, spontan aku merogoh sakuku.
"HP ada di kamar," kataku cepat.
"Dari mana?" tanya Awan sambil tangannya diletakkan di bahuku.
"Cari angin di pinggir lapangan," jawabku apa adanya tanpa ada dusta.
"Kowe kok bali?" tanya Rayi cukup mewakilkan yang ada dibenak ku. Aku ingin menanyakan hal itu tapi aku takut Awan tersinggung.
"Nggak boleh ya?" Awan malan balik bertanya sambil tersenyum pada Rayi.
"Ya kalau tau kamu balik, kita ngga ke mana-mana," jawab Rayi selalu menyelamatkanku.
Rayi lalu pamit pulang disusul Bara yang dengan gagah berani menyalami Awan sebelum menyalakan motornya. Aku lalu menggandeng Awan masuk ke rumah dan memintanya duduk di sofa. Sedangkan aku ke dapur dan kembali dengan dua cangkir kopi instan. Berharap bisa menenangkan suasana yang sebenarnya adem ayem namun siapa tahu masih ada api dalam tumpukan sekam.
"Udah rindu aja nih? Baru pergi sebentar udah nggak tega?" kataku mencoba menggodanya.
"Baru pergi sebentar udah ada yang nyamperin," kata Awan yang seolah mulai meniup api supaya sekam terbakar.
"Aku sama Bara kan cuma teman, kita satu kerjaan." kataku berusaha menjelaskan, tapi aku tahu Awan pasti akan punya cara mematahkan alasanku.
"Aku percaya sama kamu, tapi nggak sama dia," tepat seperti perkiraanku selalu ada jawaban dari Awan.
"Jangan gitulah dong, Wan. Kamu gitu seolah nggak yakin sama aku juga," kataku dengan nada merengek manja, siapa tahu bisa meluluhkan hatinya.
__ADS_1
"Matanya Bara itu berbicara, sebagai sesama lelaki aku tahu maksudnya apa," kata Awan sambil meminum kopi yang sudah aku sajikan. "Ya, udah sayang siap-siap ada undangan dari Arka," katanya sambil mengecup ujung kepalaku.
Aku menjawab dengan anggukan tanpa bertanya mau dibawa ke mana dan untuk acara apa. Aku akur saja bukan karena takut Awan marah, tapi memang aku akui, aku suka dengan suara Arka. Apalagi menyanyikan lagu ballad. Bikin hati hati perempuan mana pun pasti meleleh.
Selesai mandi dan make up aku temui Awan di ruang tamu. Dia tersenyum memandangku seolah kagum dan terpesona. Aku melangkah mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Kalau aku bilang aku suka karena kamu wangi, kamu mau nyuruh aku nikah sama sabun GIV?" katanya menggodaku dan ku sambut dengan tawa.
"Nggak dong, masak pacarku dikasih ke sabun GIV?" balasku sambil mencolek hidungnya.
"Baguslah, aku bisa lega," katanya sambil balas mencolek hidungku, udah seperti Kuch Kuch Hota Hai aja.
"Ganti sabun LUX sekarang, sabun GIV udah abis," kataku sambil tertawa ngakak dan mengikut Awan yang berdiri.
Ku kunci pintu rumahku dan kami berdua pun pergi. Rumah yang sederhana, hasil keringatku walau masih KPR. Setidaknya aku punya tempat untuk pulang. Aku minta izin untuk ke rumah Rayi sebentar untuk menitipkan kunci. Kadang malam Rayi butuh mengambil sesuatu untuk dari rumah walau sekedar mi instan. Aku pernah menawarkan Rayi untuk tinggal di rumahku daripada dia mengontrak, uangnya bisa untuk kebutuhan yang lain. Namun Rayi menolak dengan alasan dia takut nggak cocok hidup bersamaku karena 'sepertinya' mengidap OCD dan tak bisa melihat sesuatu berantakan. Beda dengan aku yang cenderung lebih santai untuk masalah kerapian dan kebersihan.
"Mana dia mau, pusing katanya kalau dikeramaian," kataku beralasan.
Rayi membukakan pintu setelah aku mengetuk berulang kali. Matanya tampak sayu petanda dia baru bangun tidur. Muka bantal! Kadang iri denga Rayi yang bisa tidur dengan gampang.
"Ni kunci rumah, aku mau pergi," kataku sambil menyodorkan kunci.
"Mau ke mana?" tanyanya sambil mengucek matanya.
"Mau lihat konser, kamu mau ikut?" kata Awan menawarkan kepada Rayi seperti yang dibicarakan tadi.
"wegah,marai mumet. Aku tak turu wae," jawabnya sambil melambaikan tangan dan menutup pintu begitu saja.
__ADS_1
Dasar tuan rumah tidak punya sopan santun. Tamu masih berdiri di depan, dia sudah main tutup pintu saja. Ingin rasanya ku dobrak pintu itu sambil meluapkan emosiku. Tapi aku harus tampil anggun di depan Awan. Ku pikir-pikir, repot juga jadi pacar. Dulu saat masih berteman, aku selalu tampil apa adanya di depan Awan, tapi sekarang kenapa aku harus menutupi sebagian diriku hanya untuk terlihat perfect di mata Awan? Padahal Awan harusnya sudah tahu semua kebiasaan dan kelakuanku, lebih kurang tujuh tahun berteman itu bukan waktu yang sebentar lho.
"Ayo, kok malah bengong," ajak Awan sambil merangkul erat pundakku.
...****************...
Acaranya tidak di cafe biasanya. tapi di pelataran mall dengan dikelilingi stand makanan di sebuah acara Expo Kuliner. Ternyata berbeda cara berpikir antara karyawan dengan CEO. Selain untuk menikmati malam Minggu dan memenuhi undangan Arka, Awan juga memiliki kepentingan bisnis di sini. Awan punya rencana untuk pengembangan bisnisnya yang akan membuka sebuah lokasi khusus wisata kuliner dengan citarasa Nusantara. Kami mengunjungi beberapa stand dan Awan banyak berbincang dengan ownernya.
Awan sangat baik dan peka terhadapku, dia memintaku untuk duduk di dekat stage saat melihatku mulai bosan dan terlihat tidak tertarik dengan kegiatannya. Aku duduk beberapa meter dari stage dan menikmati segelas es teh sambil menunggu Awan selesai berkeliling. Ada Arka yang melambaikan tangan saat melihatku. Sudah umum saat bernyanyi di cafe atau tempat-tempat seperti ini beberapa pengunjung mengabaikan persembahan bagus dari panggung namun bagiku sungguh sangat disayangkan, jika penampilan dan suara merdu Arka disertai petikan gitar akustiknya yang menurutku luar biasa dilewatkan begitu saja.
Selesai sudah Beautiful in white yang dibawakan oleh Arka dan panggung diisi oleh seorang gadis dan diiringi band.
Arka turun panggung dan berjalan mendekatiku. Entah mengapa, sejak awal bertemu aku selalu kagum dengan kulit putih bersih dan terawat milik Arka yang membuatku merasa minder dengan kulit ku yang sedikit kusam karena sering terpapar sinar matahari dan polusi. Belum lagi lesung pipinya yang mempermanis senyumnya dan kali ini rambutnya tampak rapi dengan kepang cornrow wave. Kalau bertemu Rayi, pasti si Rayi sudah halu tingkat tinggi lalu melabelinya dengan artis Jepang lainnya.
"Segitunya memandangku," tegurnya sambil duduk di depanku. Kata-katanya membuat aku tersipu, seperti anak kecil yang ketahuan makan permen padahal sudah dilarang.
"Ya, kagum aja. Wajar dong," kataku berusah santai dan menutupi rasa malu.
"Apa sih yang dikagumi dariku? Aku biasa gini," katanya mulai merendah.
"Eh, kamu pernah nggak coba ikut kompetisi nyanyi di TV-TV? Suaramu bagus, kamu juga good looking," iya nggak sih?" Kataku mencoba memberi saran
"Jangan berlebihan mujinya, nanti kamu naksir lho sama aku," katanya santai sambil tersenyum.
"Jangan digodain gitu dong, cewek orang nih," kata Awan yang tiba-tiba muncul dari belakangku dan duduk di sampingku.
"Lah, aku kan juga orang, berarti cewekku juga dong," kata Arka.
__ADS_1
Awan sepertinya menanggapinya dengan santai, tapi aku tidak bisa sesantai itu. Aku tahu Awan, dia seorang yang mudah tersulut api cemburu. Rasanya ingin ku tarik semua omonganku ke Arka tadi. Kulihat Awan dari ekor mataku, ada sedikit amarah di balik sikap santainya.