MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 20


__ADS_3

Bapak hanya pingsan karena tekanan darahnya tinggi dan cukup dirawat jalan. Kami pulang dan kepanikan sirna. Hanya saja dokter berpesan untuk menjaga kesehatan karena jika tidak terkontrol, hipertensi dapat menyebabkan terjadinya komplikasi seperti penyakit jantung koroner dan stroke, gagal jantung, gagal ginjal, penyakit vaskular perifer dan kerusakan pembuluh darah retina yang mengakibatkan gangguan penglihatan.


Aku tahu bapak selalu menjaga pola makannya, mungkin karena bapak banyak pikiran sampai terjadi hal seperti ini.


Saat sampai di rumah, Ibu dan Bude Rini menunggu di teras dengan harap-harap cemas. Awan dan Pakde Marto bapak masuk ke kamar dan menidurkannya di ranjang. Aku meyakinkan ibu bahwa bapak tidak apa-apa, hanya tekanan darahnya yang tinggi.


"Nduk, bapakmu itu banyak pikiran sampai ambruk" kata ibu.


Aku hanya diam, tidak ingin berkata apapun karena aku tahu, akulah penyebab dari semua ini. Pakde Marto keluar dari kamar dan memintaku untuk masuk ke kamar karena bapak memanggilku. Awan duduk di kursi di samping ranjang. Aku duduk di ujung ranjang sambil mengusap-usap punggung bapak. Bapak lalu menanyakan tujuan kedatangan kami. Awalnya aku berbohong dan mengatakan bahwa kami hanya ingin berkunjung tapi bapak terus mendesak.


"Kami hanya ingin restu dari bapak," kataku lembut sambil memandang bapak dalam.


"Maaf ya ngger, cah bagus. Bapak sudah terlanjur janji sama orang, kamu anak baik, pasti akan ada perempuan yang baik yang akan menjadi istrimu kelak," kata bapak sambil menggenggam tangan Awan.


"Kenapa bapak tega sekali menikahkan aku dengan pria yang tidak aku kenal," kataku kali ini dengan tegar, mataku mampu menahan jatuhnya air mata, tapi hatiku lain, deras tak terbendung.


Bapak hanya diam, begitu juga Awan. Ibu memasuki kamar sambil membawa makanan dan obat untuk bapak. Tapi banyak bicara aku menyuapi bapak dan berusaha sebaik mungkin untuk merawat bapak.


"Lha kamu maunya gimana, nduk?" tanya bapak sambil membelai rambutku.


"Kalau bapak izinkan, aku mau ketemu keluarga itu, biar aku bilang ke mereka kalau aku menolak perjodohan ini," kataku tegas namun dalam hati timbul keraguan, aku takut kalau keinginanku ini membuat bapak semakin sakit.


"Iya, nanti bapak atur. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Mas Sur baru keluar negeri," kata bapak.


Lega rasanya mendengarkan janji bapak. Ku peluk erat bapak, aku tahu bapak tidak mungkin membiarkanku larut dalam kesedihan.


Kondisi bapak sudah membaik, aku dan Awan lalu kembali ke kota dengan pikiran yang enteng dan hati yang tenang. Ini tentang kehidupanku dan semua keputusan harus ada di tanganku.

__ADS_1


...****************...


Hari-hari aku lalui dengan penuh semangat, bayangan menjadi Nyonya Awan Pradta Jayantaka perlahan semakin jelas. Prestasi kerjaku juga semakin meningkat dan aku mendapat promosi untuk naik jabatan.


Sudah tiga hari Awan di luar kota untuk mengurus cabang bisnisnya yang baru dan rencananya dia akan berada seminggu di sana. Namun aku tidak pernah kesepian, selalu ada Rayi yang membuat duniaku terasa berisik namun asyik.


Hari ini dia punya ide gila untuk membuat brownies kukus dengan melihat resep dari YouTube. Ku ikuti saja permainannya. Langkah awal adalah membeli bahan-bahannya. Aku sudah siap dengan pakaian yang sangat santai, kaos oblong, celana kolor jeans selutut, serta sandal jepit andalan.


"Kita mau ke supermarket di mall, bukan mau mancing di empang," protes Rayi lalu memintaku untuk ganti baju.


"Nggak usah ke supermarket di mall, Ra. Di pasar juga banyak," protesku menolak keinginan Rayi.


"Ini semua ada merk-nya, telurnya juga telur omega, barang pilihan nggak boleh sembarangan," katanya sambil menunjukkan bahan-bahan di ponselnya.


"Ini di pasar juga ada, Ra," aku tetap ngotot berusaha meyakinkannya.


Dengan malas ku ikuti saja kemauannya. Kami menggambil keranjang dan mulai belanja heboh. Bukan Rayi namanya kalau tidak bikin greget. Semua bahan harus sama persis seperti yang diresepkan termasuk merknya.


"Kejunya yang ini aja, ini juga bagus kok," usulku ke Rayi saat dia bingung karena merk keju yang diinginkannya tidak tersedia.


"Jangan Kas, nanti rasanya jadi beda," tolak Rayi dengan muka masam. Mungkin dia kecewa karena apa yang diinginkan tidak didapatkan.


"Dimana-mana yang namanya keju rasanya ya keju, nggak mungkin ada keju rasa terong balado," protesku sambil mengambil paksa keju dan memasukkan ke dalam keranjang.


Akhirnya dengan berat hati, Rayi menurut juga. Daripada kami harus berkeliling mencari di tempat lain hanya untuk keju. Harusnya tidak pakai keju juga tidak masalah, itu hanya untuk topping tapi Rayi yang sok perfect berharap browniesnya persis seperti yang disajikan di YouTube.


"Kan kamu nggak bisa ngicipi tuh yang di YouTube, kan jadi nggak tahu rasanya sudah pas belum," kataku berusaha memojokkan Rayi.

__ADS_1


"Maka dari itu bahan-bahan dan takarannya harus sama persis biar dapat rasanya," kata Rayi dengan yakin.


"Halah, kapan hari kamu bikin donat juga modelnya nggak jelas," kataku sambil tertawa mengingat peristiwa itu.


"Kan donat nyetak butuh ketrampilan tangan, kalau ini kan pakai cetakan," katanya membela diri.Gara-gara membahas cetakan, aku terpaksa mengikuti Rayi membeli cetakan yang masuk dalam kategori cute menurut dia. Segala beli cetakan, bukankan akhirnya kue akan dipotong-potong, kenapa dia tidak memakai loyang kotak yang sudah ada? Lagipula ini juga masih percobaan, yang penting rasanya enak dan pas, kalau selanjutnya mau dibuat look yang lebih baik ya silahkan.


"Nilai estetikamu itu kurang," kata Rayi saat ku protes.


"Ya ampun Ra, segala estetika dibawa-bawa," kataku sambil menepuk dahi.


Dia malah memilih cetakan yang agak kecil dan berbagai bentuk. Tidak bisa ku bayangkan proses mengisi adonan ke dalam cetakan yang katanya estetik dan indah itu dan aku juga masih tidak sanggup membayangkan dapur yang akan sangat berantakan saat Rayi mulai beraksi.


...****************...


Akhirnya selesai sudah acara belanja, Kami masih harus berdebat mengenai bagaimana membawa barang belanjaan sebanyak ini dengan sepeda motor.


"Ya udah, aku taksi online, kamu pulang sendiri naik motor," saranku yang menurutku super jenius.


"Kowe tego, Kas?" tanyanya dengan muka memelas.


"Lha gimana? Nggak mungkin dong aku yang bawa motor?" kataku sambil menghela napas.


Ini sudah salah perhitungan dari awal, harus dari awal kami naik bis kota lalu pulang naik taksi online, supaya tidak ribut seperti ini.


"Ya nasib orang susah, ribut gara-gara sepeda motor. Kasihan sekali hidup kalian," tiba-tiba suara menghina terdengar di telingaku.


Ku balikkan badan untuk memastikan sumber suara itu. Astaga Chloe, cari mati dia berani menghina di depan Rayi.

__ADS_1


__ADS_2