
Aku berjalan mendekati Awan, ada rindu dan rasa bersalah yang bercampur menjadi satu. Aku juga tidak pasti apa yang harus aku perbuat namun tetap ku buka mulutku untuk menyapanya.
"Arka juga di sini?" katanya sambil menatap dingin.
"OK, ndan. Kalau kamu keberatan aku pulang aja," kata Arka sambil berlalu pergi dan Awan menatapnya heran.
"Rumahnya dekat sini," kataku berusaha membuka pembicaraan.
"Sayang, aku ikut berduka cita ya," kata Awan yang membuat aku terkejut.
Sayang? Awan bahkan masih memanggilku dengan kata-kata itu. Apa saat itu kurang jelas kalau aku dan Arka akan menikah?Aku melirik ke arah Rayi, berharap dia bisa menolongku untuk keluar dari situasi ini
"Iya, terima kasih," kataku sambil berusaha tersenyum padanya.
Suasana terasa sangat canggung. Bukannya menolong, Rayi malah masuk ke dalam rumah dan meninggalkan kami berdua. Aku bahkan tidak berani menatap mata Awan yang menyiratkan harapan padaku.
"Kata Rayi kemungkinan lusa kalian akan kembali ke kota, aku jemput ya," kata Awan dan duduk semakin dekat denganku.
"Aku pulangnya sama Arka," jawabku.
"Hei, aku ini pacarmu," kata Awan menegaskan statusnya.
"Tapi Arka calon suamiku, tiga bulan lagi kami akan menikah," kataku sambil tertunduk dan suasana menjadi hening.
"Aku berharap kita bisa membicarakannya lagi setelah kamu di kota," kata Awan yang kemudian pamit.
Ibu mencecarku dengan banyak pertanyaan setelah Awan pulang. Aku hanya mengatakan kalau Awan datang untuk menyampaikan belasungkawa. Ibu mulai mengomeli ku dan mengingatkanku untuk tidak bertindak sembrono. Aku sudah punya calon suami dan harus bisa menjaga diri. Ibu bahkan melarang aku untuk kembali ke kota karena ibu khawatir kalau aku akan kawin lari dengan Awan setelah kembali ke kota. Aku malah tertawa karena ibu seolah memberiku ide. Tidak terbesit sedikitpun untuk kembali pada Awan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menuruti keinginan terakhir bapak.
...****************...
__ADS_1
Besok aku akan kembali ke kota, malam ini aku meminta Rayi untuk menginap di rumahku. Lebih kepada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya.
"Arka baik, dia tidak pernah memaksaku," kataku saat Rayi meminta pendapatku.
"Lalu?" tanya Rayi meminta kelanjutan.
"Awan istimewa, entah kenapa," jawabku setengah berbisik.
"Terus kamu mau menikahi keduanya?" tanya Rayi.
"Memangnya boleh?" kataku bercanda.
"Bocah gendeng," hanya itu yang keluar dari mulut Rayi.
Entahlah, aku sudah tidak berharap untuk bisa menikahi Awan. Aku juga tidak tahu pernikahan seperti apa yang akan aku jalani seperti Arka nantinya. Walaupun Arka sangat baik, tapi aku tidak yakin bisa mencintainya seperti aku mencintai Awan. Arka sendiri juga hanya bisa berjanji untuk menjadi teman terbaikku.
"Jangan-jangan kalian bertiga bersekongkol," kata Rayi berandai-andai
"Kamu nikah dengan Arka hanya formalitas saja, beberapa bulan kemudian kalian cerai lalu kamu balik ke Awan. Seperti idenya Arka di pinggir lapangan itu," kata Rayi dengan lantang.
Ku pukuli Rayi dengan bantal. Gila saja kalau sampai terdengar ibu. Bisa-bisa aku di pasung di desa ini, tidak boleh ke mana-mana.
"Nggak ada begitu ,Ra" kataku masih gemes.
"Siapa tahu," kata Rayi masih mencurigai.
"Justru aku ingin mencari cara supaya Awan berhenti berharap padaku," kataku sambil menguap.
"Butuh waktu untuk itu, itu urusan hati, hanya Awan yang bisa mengendalikannya," kata Rayi
__ADS_1
Aku lalu tidur dengan kepala terasa penuh. Ku kira masalah selesai saat aku sudah menyetujui menikahi Arka, nyatanya urusanku dengan Awan belum selesai. Pasti Awan akan datang dan menemuiku saat aku sudah kembali ke kota. Kalau aku melibatkan Arka dalam hal ini, aku takut Awan akan memukulinya lagi.
...****************...
Setelah melambaikan tangan ke Arka dan mengucapkan terima kasih, aku dan Rayi sampai juga di kota dan harus menjalani rutinitas harian. Rumah tampak berdebu dan kotor karena lumayan lama aku tinggalkan. Rayi lantas pamit langsung pulang ke rumahnya. Aku lalu membersihkan seluruh rumah supaya nyaman dan sehat untuk ditinggali, mencuci pakaian dan tentu saja aku tidak mau masak. Nanti saja bisa order online karena aku juga malas untuk keluar rumah.
Selesai sudah semua, sambil menunggu order makanan datang, aku mandi putuskan untuk mandi dulu supaya badan segar dan nanti selesai makan tinggal tidur.
Semua selesai rencana, selesai mandi bel di pintu berbunyi dan aku bergegas ke depan untuk mengambil makananku. Namun, tidak hanya driver online, ternyata Awan juga datang di belakangnya.
"Tumben pesan makan online," kata Awan setelah aku menyelesaikan transaksi dengan driver online itu.
"Aku baru datang, malas masak dan malas keluar," kataku berbicara apa adanya.
Awan lalu masuk dan duduk di sofa tanpa ku suruh. Acara makan dan tidurku jadi berantakan. Aku meletakkan makananku di dapur dan kembali ke ruang tamu untuk menemui Awan. Otakku berputar, mencari jawaban untuk Awan. Aku lalu duduk di seberang meja di depan Awan. Rasanya seperti seseorang yang menghadap HRD untuk wawancara kerja dan itu untuk pertama kalinya.
"Sayang, kamu kok duduknya di situ? Kamu nggak kangen sama aku?" kata Awan ketika pantatku sudah kulabuhkan di sofa.
"Aku harus bisa menyimpan rindu, karena itu terlarang untuk kita," aduh, kata-kataku sangat puitis seperti di sinetron.
"Siapa yang melarang? Calon suamimu? Arka bangsat itu?" kata Awan dengan nada penuh emosi
"Wan, aku harap kamu nggak menyebut Arka seperti itu. Aku yang menyetujui permintaan bapak," kataku dengan tegas, risih juga mendengar Awan mengatai Arka dengan kata 'bangsat'.
"Tapi Arka juga terlibat dalam urusan ini," kata Awan sambil membuang muka.
"Arka itu nggak salah, dia nggak tahu apa-apa," kataku mencoba membela Arka. Sebesar apapun aku mencintai Awan, aku tidak akan membiarkan dia bertindak gegabah dan mengambil memutuskan sesuatu hanya karena emosi tanpa tahu keadaan yang sebenarnya.
"Kamu bilang Arka nggak tahu apa-apa? Kamu mau tahu salahnya dia apa? Dia tahu aku sangat menyayangi mu, dia tahu aku sangat mencintaimu, dia tahu kamu pacarku, dia tahu aku ingin menikahimu, kenapa dia tidak menolak perjodohan ini dan pergi dari hidupmu? Yang bangsat itu tidak tahu hanyalah dia itu pengkhianat, teman makan teman, tidak layak disebut sahabat, tidak pantas dimaafkan!" emosi Awan semakin meledak-ledak dan aku sedikit mundur untuk menghindari amarahnya.
__ADS_1
"Aku tahu semua itu, ndan, aku tahu aku memang bangsat di matamu. Tapi apa kamu tahu kenapa aku melakukan itu?" tiba-tiba Arka muncul di depan pintu dan menjawab pertanyaan Awan dengan santai.
Apa mereka akan berkelahi lebih parah lagi? Ketakutan berhamburan memenuhi diriku.