MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 73


__ADS_3

"Kalau kamu nggak sanggup nggak perlu dijawab, dari air matamu aku sudah tahu," kata Awan


"Kapan kita kamu mau selesaikan semua ini? Aku udah bosan dengan kisah kita yang muter begini terus," kataku berusaha tegar.


"Sampai aku yakin tentang perasaanmu kepadaku," kata Awan lagi.


"Untuk apa kamu pingin banget tahu tentang itu?" tanyaku lagi berpura-pura ketus


"Untuk meyakinkan kalau kamu layak untuk ku perjuangkan," kata Awan yang membuat kepalaku rasanya hampir meledak.


"Tapi aku nggak bisa, sudahlah. Faktanya sampai saat ini aku bersama Mas Arka dan itu sudah jadi keputusanku yang bulat. Terlepas dari fakta tentang aku mencintai Mas Arka atau tidak," jawabku mulai tertata dan menunjukkan ketegasan.


"Tapi kamu masih mencintaiku?" Awan terus mendesakku.


"Cinta itu bisa hilang dan berganti. Tinggal komitmen kita aja mau lanjut atau udahan. Hidup ini tentang pilihan, toh cinta tak harus memiliki," lantang sekali aku berbicara berharap Awan mundur dan pergi dari kehidupanku. " Apa yang belum tuntas menurutmu, bagiku semua sudah selesai. Relakan saja aku menjalani hidup bersama Mas Arka," lanjutku


Ingin aku angkat kaki saja dan pergi dari sini tapi aku teringat pesan Arka untuk tidak lari dari masalah. Mungkin inilah kesempatan bagiku untuk menyudahi Awan dan memulai semua dengan Arka. Lama-lama aku mulai muak dan bosan untuk menghindarinya. Entah bagaimana cara yang harus aku lakukan supaya Awan bisa mengerti.


"Aku sulit jatuh cinta dan seumur hidup baru kamu yang bisa membuatku jatuh hati. Mungkin aku akan terus menunggumu sampai kapanpun itu," kata Awan.


"Aku nggak berhak melarangmu tapi aku juga tidak bisa memenuhi keinginanmu, kita jalan di jalan kita masing-masing." hanya itu kata yang keluar dari mulutku sampai Rayi muncul di depan pintu.


Suasana menjadi canggung padahal awalnya aku yakin bisa menuntaskan semuanya saat ini juga biar hidupku tenang. Apalagi Rayi menatapku heran mungkin tersirat tanya 'ada apa?' dan aku memberi isyarat dengan gelengan kepala dan Rayi langsung masuk ke dalam tanpa berkata apapun. Awan malah bertindak aneh, dia berlutut di depanku dan menatap ke dalam mataku.


"Kalau itu yang kamu inginkan, izinkan aku memelukmu. Sekali ini dan setelah itu aku nggak akan ganggu kamu sama Arka lagi," kata Awan yang langsung memelukku walau belum aku izinkan. Tangis Awan pecah dan terasa basah di pundakku. Semua kenangan bersama Awan berseliweran di kepalaku. Saat kami masih berteman namun selalu bersama, saat Awan ngambek karena aku pergi bersama Bara dan aku yang cemburu buta karena Chloe. Teringat saat dia meminta restu tapi bapak menolak. Sejak itu semua jadi berbeda, tidak ada lagi mimpi masa depanku bersamanya. Di tempat ini kami menyatakan cinta dan saat ini kami yang masih saling mencintai harus melepaskan satu dengan yang lain. Ku peluk erat dirinya dan ku tumpahkan semua air mataku di dadanya. Rasanya sangat sakit. Kenapa aku harus memilih antara bapak dan Awan namun akhirnya aku harus kehilangan keduanya. Menyesal? Tidak juga ku sesali hanya aku merasa sangat manusiawi kalau kesedihan ini berlebihan.

__ADS_1


"Maaf kan aku, Wan. Tapi lepaskan aku, biarkan ku jalani pilihanku ini. Aku semakin merasa bersalah kalau kamu seperti ini," kataku dalam isak tangis.


"Kamu janji kamu harus bahagia Selain kamu harus jaga diri kamu juga harus jaga Arka baik-baik, jaga makan minumnya, jaga tidurnya. Sejujurnya kalian berdua sangat berarti di hidupku," kata Awan yang kemudian mencium keningku dan pergi tanpa menoleh lagi.


Rayi kemudian keluar dan memelukku. Tidak ada protes atau cacian untukku darinya. Dia tidak juga bertanya apa yang terjadi. Dia hanya memelukku dan membiarkanku menghabiskan tangisku. Namun setelah itu, rasanya sangat lega dan sesak di dadaku berkurang. Rayi berjanji padaku tidak akan menceritakan semuanya pada siapapun dan merahasiakannya pertemuanku dengan Awan dari Arka.


"Kamu nggak kembali ke pabrik?" tanyaku.


"Aku tadi izin, mencret. Kebanyakan seblak, eh kepedesen deng," kata Rayi.


"Udah baikan?" tanyaku.


"Masih mules sih," jawab Rayi.


Aku lalu menelepon Arka dan memberitahu kalau aku bersama Rayi supaya dia tidak bingung mencariku. Karena Rayi sakit perut, aku lalu membuat sendiri brownies untuk Arka. Tapi Rayi wira-wiri terus dan seperti biasa pasti ada kritik dan kritik tanpa saran yang membangun darinya sampai aku menyelesaikan acara baking untuk suamiku. Ku foto dan ku kirimkan untuk Arka via WA. Arka sangat kemudian membuat panggilan Videocall dan mengatakan dia sangat senang dan kebetulan urusannya sudah selesai dan Arka akan segera menyusulku.


"Ehm, namanya mencicipi itu sedikit saja," kataku sambil mengamankan brownies untuk Arka ke dalam wadah.


"Enak sih Kas, hanya tampilannya kurang menjual," kata Rayi sambil menghabiskan gigitan terakhirnya.


"Nggak jualan juga," kataku menepis tangan Rayi yang ingin mencomot brownies lagi dari dalam wadah.


Terlalu asyik berdebat dengan Rayi membuatku sejenak lupa dengan apa yang baru saja terjadi antara aku dengan Awan. Apa ya yang akang dilakukan Arka kalau saja tadi dia memergoki aku dan Awan? Tapi, setelah ini tidak ada lagi Awan di dalam rumah tanggaku. Saatnya aku menatap ke depan. Ku hembuskan napas lega dan panjang. Terdengar bel berbunyi, dan Rayi bergegas ke depan.


"Paket untukku datang," teriak Rayi dengan riang.

__ADS_1


Rasa penasaran menuntun langkahku ke ruang tamu dan ternyata ada Arka di sana. Ya hanya ada Rayi dan Arka tanpa ada paket apapun.


"Mana paketnya?" tanyaku sambil mengernyitkan kening.


"Ini dong, tahukan semalam aku pesan apa di olshop?" kata Rayi sambil memainkan alisnya. "Itu, dapat cashback 30% dan freeong," kata Rayi sambil menunjuk Arka dan kami berdua kompak tertawa.


"Ada apa ini?" tanya Arka senyum-senyum namun dengan tampak bingung.


"Nantilah aku cerita," kataku makin tertawa melihat ekspresi bingung Arka.


"Kita pulang yuk, mana browniesnya?" kata Arka setelah aku dan Rayi selesai tertawa.


"Kok buru-buru mas? Aku masih kangen Rayi," kataku.


Arka hanya tersenyum sambil memberi isyarat kalau kami harus segera pergi. Dengan berat hati, aku lalu bersiap-siap untuk pergi. Setelah dadadadddaaaa tak berkesudahan dengan Rayi dan janji aku akan ke sana lagi. Aku masuk ke dalam mobil dan bersiap pergi dengan Arka.


"Sudah siap?" tanya Arka.


"Iya," jawabku singkat.


"Ada yang ketinggalan?" tanya Arka lagi memastikan.


"Sudah kok sudah semua," jawabku yakin


"Kita langsung ke apartemen ya, makan brownies dengan segelas susu. Aku juga sudah siap untuk mendengarkan ceritamu, kenapa matamu sembab," kata Arka sambil menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


Hah? Apa aku harus jujur? Kalau aku nggak jujur, lalu cerita apa yang ingin ku karang untuk mengelabui Arka?


__ADS_2