MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 67


__ADS_3

"Mas aku.. .. ...," belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Arka malah membungkam ku dengan ciuman.


"Yank, aku kecanduan dengan bibirmu," kata Arka dengan nafas yang memburu.


"Mas, tapi jangan lanjut deh," kataku sedikit panik


"Izinin ya yank, aku menjalankan tugas sebagai suami," kata Arka sambil sesekali mengecup bibirku.


"Iya, mas tapi nggak bisa sekarang," jawabku dan berusaha duduk namun berat badan Arka menahanku.


"Kenapa? Kamu belum siap?" tanya Arka sambil membelai rambutku.


"Aku kan baru datang bulan, sudah dua hari ini," kataku.


"Aaahhhh...kenapa nggak bilang dari tadi?" kata Arka sambil berguling ke samping dan memelukku.


"Lha Mas Arka nyosor terus, aku kan jadi nggak bisa ngomong," kataku sambil tertawa.


Arka kemudian melanjutkan mandinya dan aku mandi di kamar sebelah karena semakin malam akan semakin dingin. Arka lalu mengajakku untuk packing karena besok pagi-pagi sekali kami harus sudah pulang supaya tidak bisa bertemu lagi dengan Awan. Arka lalu memelukku dan memaksaku tidur walau sebenarnya aku tidak mengantuk tapi aku berpura-pura saja supaya dia tidak terus menerus berisik. Mataku sudah terpejam rapat walaupun aku belum bisa tidur nyenyak. Arka lalu bangun dan beranjak dari tempat tidur,. Mungkin dia ingin buang air atau pergi mengambil minum. Sudahlah, mataku sudah mau diajak kompromi dan berharap aku bisa lelap supaya besok bisa bangun sebelum matahari terbit. Kemudian Arka kembali masuk ke dalam kamar dan anehnya dia memakai jaket dan sepatu. Dia mendekatiku dan mengecup keningku sebelum kemudian terdengar suara pintu tertutup. Jam segini Arka mau ke mana? Segera ku ambil jaket yang bergantung di belakang pintu dan diam-diam ku ikuti Arka.


Dan ternyata Arka pergi ke sebuah warung kopi dan menemui Awan. Aku lalu masuk ke warmindo di sebelahnya dan duduk persis dibelakang Arka dan kami hanya terpisahkan oleh selembar triplek. Aku memesan mie kuah untuk menyempurnakan penyamaranku.


"Mau apa lagi? Kita sudah sepakat dari pagi," suara Arka terkesan dingin.


"Pasti tadi kamu maksa Kasih kan? Kamu sudah memberitahunya terlebih dahulu dengan rencana kita kan?" tanya Awan terdengar penuh emosi.


"Suka-suka kamulah mengambil kesimpulan," kata Arka mulai malas meladeni tingkah Awan.


Lama juga mereka berdebat. Dari debat mereka yang panjang, bisa aku simpulkan kalau tadi pagi mereka berdua sepakat, siapapun yang bisa menciumku tanpa ku tolak, maka dialah yang berhak atas diriku. Semacam taruhan di antara mereka. Aku senang Arka ternyata berusaha memperjuangkan. Awan menganggap kalau Arka dan aku sedang bersekongkol melakukan rekayasa supaya dia yang harus menjauh dariku.

__ADS_1


Mereka masih berdebat karena Awan yang terus ngotot tidak terima dengan semua padahal itu sudah menjadi kesepakatan mereka. Mungkin inilah saatnya bintang utama muncul dan menguasai keadaan. Aku membayar makan dan minumku dan dengan mantap melangkah ke arah ke dua lelaki yang memperebutkan aku. Tanpa banyak kata ku ulurkan tanganku pada Arka dan Arka yang tampak sedikit bingung menjabat tanganku.


"Tangan kiri dong Mas, kalau pegangannya tangan kanan ketemu tangan kanan nggak enak jalan berdampingannya," kataku sambil sedikit menarik Arka sehingga dia berdiri.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Arka sambil celingukan terlihat bingung dengan kehadiranku.


"Justru mas yang ngapain ke sini ninggalin aku sendirian di Villa? Nanti mas kurang tidur dan nggak baik untuk kesehatan" balasku dan melayangkan ciuman di pipi Arka.


Aku bahkan tidak menoleh untuk melihat reaksi Awan. Biar aku menjelaskan semua dengan perbuatan, bukan kata-kata. Aku lalu memaksa Arka berdiri dan mengikutiku kembali ke Villa.


"Maaf ndan, aku harus pergi. Udah ditarik istri soalnya," kata Arka sempat berpamitan Awan namun Awan tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Aku tetap tidak melihat ke arah Awan sama sekali. Mungkin biar dia tahu kalau aku sungguh-sungguh hanya ingin bersama Arka tanpa ada harapan baginya untuk kembali. Namun Arka menghentikan langkahku.


"Pamit dulu sama Awan," bisiknya di telingaku.


"Ngapain sih mas? Malas!" jawabku dengan wajah cemberut.


"Kan udah diwakili sama mas, salah satu aja," kataku tetap menolak.


"Jangan gitulah, nggak baik." kata Arka dengan tatapan lembut yang memohon, siapa yang bisa menolaknya kalau sudah seperti itu.


"Aku pergi dulu ya Wan," kataku dan kemudian menarik Arka agar kami cepat pergi dari tempat ini.


...****************...


Pagi-pagi sekali kami sudah dalam perjalanan pulang. Sebisa mungkin aku usahakan untuk tidak membahas tentang Awan atau pun menanyakan apa yang sebenarnya terjadi semalam walaupun batinku bergejolak dipenuhi oleh rasa penasaran. Aku sibuk menstimulasi otakku bahwa tidak ada lagi Awan dalam hidupku.


"Yank, aku boleh untuk terakhir kali bicara tentang Awan?" kata-kata Arka yang sukses meruntuhkan semuanya.

__ADS_1


"Apa?" jawabku dengan nada malas.


"Kamu jangan pernah membenci Awan, dia begitu karena dia sangat mencintaimu," kata Arka sambil fokus ke jalan


"Terus mas nggak mencintaiku?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya, tapi tidak sebesar Awan mencintaimu," kata Arka sangat yakin.


"Dia bukan mencintai lagi, tapi terlalu ambisius seolah aku nggak boleh bahagia," kataku dengan nada semakin meninggi.


"Itu caranya mencintaimu, dia ingin selalu bersamamu," kata Arka masih sangat santai seolah ini hanyalah perkara kecil.


"Terus mas maunya apa? Mas mau aku kembali ke Awan?" tanyaku sudah mulai nyolot.


"Aku maunya kamu sama aku terus, tapi kamu jangan membenci Awan." kata Arka dan menurutku itu terlalu berbelit-belit.


Aku mulai malas karena beberapa hari ini kami jadi bertengkar hanya karena Awan. Bisa tidak kami tetap damai tanpa ada gangguan dari manapun?Aku kemudian memperbaiki posisi dudukku, bersandar senyaman mungkin dan menutup mata. Kalau kata Rayi itu penak turu timbang risiko. Ya, lebih baik aku tidur daripada mengundang risiko pertengkaran semakin besar padahal aku merasa baru saja memulai hidupku dengan Arka.


...****************...


Arka membangunkan aku dengan ciuman lembut di kening. Ternyata kami sudah sampai di rumah dan aku tidur sangat lelap. Di depan rumah sudah ada mobil Pak Surya. Kami lalu bergegas masuk ke rumah untuk bertemu dengan mereka dan aku sangat senang karena ternyata bukan hanya mertuaku tapi ibu juga ikut bersama mereka.


Aku menyalami papa dan mama dan kemudian memeluk ibu, astaga aku sangat rindu padanya.


"Kalian ke villa ya?" tanya Bu Gendis saat kami sudah duduk rapi dan santai.


"Ya, ma." jawabku singkat.


"Gimana? Udah gituan?" tanya ibu terlalu frontal yang membuat mataku terbelalak.

__ADS_1


Seperti tidak ada hal lain saja yang bisa ditanyakan. Tiga pasang mata itu menatap kami dengan wajah penasaran yang menunggu kabar gembira. Lalu masak iya aku harus menjelaskan hal seperti itu kepada mereka? Ku lirik Arka yang tampak sangat santai dan seolah tidak peduli padahal wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus. Bagaimana aku harus mencari kasus lain sebagai pengalihan isu? Adu, kepalaku rasanya mau pecah, ada-ada saja.


__ADS_2