
"Kamu nggak akan nekad main detektif lagi kan Kas? Eling, ada dua nyawa yang harus kamu jaga" tegas Rayi saat aku menyampaikan keinginanku untuk menyelidiki tentang Arka.
Kenapa semua lantas terasa sangat sulit di saat seperti ini? Rayi juga sepertinya tidak pernah memberikan solusi. Dia hanya memintaku untuk mementingkan kehamilanku. Iya, tidak bisa aku tolak, kehamilanku memang penting tapi dengan kondisi hubungan yang yang menurutku bermasalah seperti ini apa mungkin kalau aku hanya tinggal diam dan pasrah dengan keadaan. Tiba-tiba aku teringat Ella, tapi apa pantas melibatkan Ella dalam urusan rumah tanggaku? Tapi kalau ini memang satu-satunya jalan yang harus aku tempuh, mungkin aku harus mencobanya. Tapi Ella sedang izin beberapa hari karena ada tugas-tugas kuliah yang harus dikerjakan dan sebentar lagi ujian semester. Apalagi Ella menjelang semester akhir dan semester depan sudah harus menyusun skripsi. Atau mungkin aku langsung saja menemui mommy Awan untuk minta kejelasannya atau malah aku meminta tolong pada Awan untuk membantu menyelidiki urusan ini. Ini kan juga berhubungan dengan urusan keluarganya. Aku mulai mengacak-acak rambutku berharap situasi ini bisa segera teratasi walau entah bagaimana caranya.
"Kenapa kamu nggak cari waktu yang tepat, duduk berdua dengan Arka lalu membahas masalah ini baik-baik? Kowe ora perlu keluyuran nggak jelas membahayakan diri sendiri dan larut dalam pikiranmu yang belum tentu benar," kata Rayi yang membuatku menelan ludah.
Kenapa selalu Rayi seolah tahu apa yang ada di dalam pikiranku? Tapi bagaimana aku harus memulai pembicaraan ini dengan Arka? Semalam saja emosiku langsung meledak padahal ibarat lagu itu baru memasuki intro dan belum ada apa-apanya. Tapi semua aku juga harus mencari penjelasan tentang hubungan Arka dengan mommy Awan. Aku kemudian berniat menyusul Arka ke kantor tapi Rayi mencegahku karena menurut Rayi urusan rumah tangga harus diselesaikan di rumah. Namun di saat bersamaan Arka meneleponku dan mengabari kalau malam ini dia akan terlambat pulang dan memintaku untuk tidur terlebih dahulu.
"mbundet!" kata Rayi yang lama kelamaan terpancing dengan situasi ku.
"Dia sekarang sering pulang telat dan berangkat pagi sebelum aku bangun, jadi susah ketemunya," aku mengadu pada Rayi.
"Bangunmu aja jam sembilan ya pantas kalau dia sudah pergi," Rayi malah memprotes dan membuatku malu sendiri.
"Terus gimana dong, Ra?" aku mulai merengek saat tahu Rayi sepertinya tertarik untuk membantuku.
__ADS_1
"Soalnya ini urusan rumah tangga kalian berdua, nggak baik kalau aku ikut campur." tolak Rayi yang membuatku merasa lemas seketika.
"Sudahlah, aku ingin ke butik, bosan di rumah terus," pintaku dan kali ini disetujui oleh Rayi.
Aku harus melupakan sejenak semua kekalutan dalam diriku. Mungkin dengan menyibukkan diri pikiranku bisa sedikit tenang dan aku bisa menemukan cara untuk mengatasi masalah yang sedang aku hadapi.
Sebelum ke butik, Rayi memintaku untuk menemaninya menemui customer dari komunitas ibu-ibu senam yang berencana akan memesan seragam dalam jumlah besar untuk acara gathering tahunan. Ya, aku mengembangkan bisnis untuk menerima pesanan seragam kaos untuk olahraga, seragam kerja atau untuk komunitas, mumpung musim kampanye politik juga. Karyawanku juga semakin banyak tapi lucu sekali saat mereka lebih mengenali Rayi ketimbang aku. Kalau menurut Rayi ibarat pembuatan film, aku ini tim belakang layar, orang akan lebih mengenal aktor utama jika dibanding dengan produser maupun sutradaranya.
Sesampai di sana, terdengar heboh sekumpulan wanita yang masih memakai baju senam dan ada satu sosok yang tidak asing di mataku. Aduh, niat hati mencari ketenangan tapi malah bertemu seorang Chloe Alexa. Bukan, bukan karena aku menyimpan hati untuk Awan dan iri padanya karena dia mengaku berstatus tunangannya Awan. Aku sudah tidak punya masalah dengan hal itu, tapi rasanya seisi dunia pasti tahu betapa rese dan menyebalkan dia yang merasa dirinya di atas segalanya. Rasanya aku ingin kembali ke mobil saja atau menunggu Rayi di satu tempat lain. Sesaat aku melirik Rayi yang sudah memasang muka masam tanda tak suka dan itu cukup membuatku tertawa.Ternyata aku tidak sendirian, pasti Rayi lebih merasa diaduk-aduk.
Tapi karena tujuan utamanya bukan Chloe, tapi wanita yang bernama Agnes yang notabene adalah ketuanya. Aku berusaha santai dan aku harus tetap tampil anggun dan berwibawa karena aku datang ke sini untuk urusan pekerjaan lagipula aku sudah tidak punya masalah apapun dengan Chloe kecuali tentu saja kalau mulutmu mulai mencari masalah.
"Nggak cari toko sebelah aja say?" saran Chloe kepada Agnes sambil terus melotot ke arahku.
"Aku sudah seleksi beberapa, sepertinya ini juga patut masuk referensi kita," kata Agnes.
__ADS_1
"Kalau aku sih nggak rekomen," tolak Chloe sambil bergaya melihat kuku-kukunya.
"Kita lihat dulu, nanti voting dengan yang lain, OK?" kata Agnes sangat bijak.
Untuk membungkam mulut Chloe, tentu saja aku mempresentasikan semua karya andalanku dan yang lain cocok dengan produk ku. Bisa sedikit congkak di depan Chloe tanpa banyak kata itu suatu kebanggan tersendiri. Lihatlah dia yang dari awal sudah meremehkan aku akhirnya harus akur dengan gengnya yang ternyata sangat suka dengan karyaku.
"Kamu tahu kan aku tunangannya Awan," kata Chloe saat semua sudah bubar dan hanya tinggal kami bertiga.
"Terus kenapa?" tanyaku acuh tak acuh.
"Biar kamu cukup tau diri saja," kata Chloe sinis.
"Saya sudah nggak ada urusan dengan Awan. Saya ini istri orang dan anak kami hampir dua," kataku tersulut emosi.
"Jagain suami mu, kok bisa suamimu ke mana-mana sama mommy," sesaat kata-kata Chloe serasa menamparku.
__ADS_1
Bahkan seorang Chloe pun tahu masalah ini. Aku harus bertindak apapun yang akan terjadi.