MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU

MENIKAHI SAHABAT KEKASIHKU
BAB 50


__ADS_3

Segera ku selesaikan mencuci piring dan langsung mengeringkan tangan. Segera aku menyalami Bu Gendis dan mencium tangannya. Arka juga mengulurkan tangan padaku dan bodohnya aku juga menyalaminya dan mencium tangannya dan Arka malah menertawakan ku.


"Adik, jangan usil sama Kasih," kata Bu Gendis sambil menjewer telinga Arka.


Mungkin karena Arka anak bungsu, dia terlihat sangat manja terhadap mamanya. Nada bicaranya juga terkesan manja dan Arka sering memeluk Bu Gendis.


Ternyata Bu Gendis mampir karena Pak Surya ada keperluan bisnis di kota ini sekalian ingin mengajakku mencari seragam untuk among tamu dan keluarga sekalian mencari keperluan lain untuk pernikahan.


"Arka nggak ikut ya, jenuh," kata Arka.


"Siapa yang nganterin?" tanya Bu Gendis.


"Arka anterin, nanti selesai belanja, mama telpon Arka jemput lagi," kata Arka lagi.


"Yang bawain belanjaannya nanti siapa?" tanya Bu Gendis lagi


"Nggak bisa nawar lagi ni, nyonya?" tanya Arka lagi sambil menghela nafas panjang yang dijawab dengan gelengan kepala.


"Adik keberatan?" tanya Bu Gendis lagi.


"Kalau belanja sama mama harus menerapkan dasa darma pramuka kelima, rela menolong dan tabah. Tabahnya itu lho ma, musti panjang sabar," kata Arka menggerutu.


Akhirnya kami bertiga berangkat. Sebelumnya kami mampir ke butik Keysha untuk fitting baju pengantin. Bu Gendis sangat suka dengan pilihan kami. Bu Gendis sempat meminta Arka untuk memakai model dodotan namun untuk kesekian kalinya Arka menolak dengan alasan tidak nyaman dan takut masuk angin.


Setelah dari butiknya Keysha, kami lanjut ke toko perhiasan Malvin untuk mengambil cincin. Malvin menyambut kami dengan ramah dan menunjukkan cincinnya padaku dan Arka. Aku sangat takjub karena hasilnya sama persis seperti yang aku bayangkan.


"Gimana, Kas? Apa ada yang masih kurang?" tanya Arka


"Ini sudah sangat bagus, Ka. Sesuai keinginanku," kataku sambil mataku terus menatap ke arah cincin yang indah itu.


"Ya udah, bungkus ya bosku." kata Arka pada Malvin.


Arka lalu melakukan transaksi pembayaran dan Malvin menyerahkan sebuah goodie bag. Sesaat sebelum pergi aku memeriksa lagi isi dalam goodie bag dan ada satu kotak berbentuk hati. Saat aku membukanya ternyata berisi gelang dengan huruf 'K' yang sempat aku pandang sangat lama saat itu.

__ADS_1


"Ka, Kitakan nggak beli ini," kataku berbisik pada Arka.


"Iya, kita nggak beli, tapi aku beliin buat kamu, sepertinya kamu menyukainya, Ada huruf K juga, cocok buat kamu" kata Arka sambil tersenyum.


"Ka, tapi..."


"Udah diterima aja, ayo kita lanjut acara masih padat merayap," kata Arka sambil berjalan mendahuluiku.


Tidak munafik, aku sangat senang menerimanya. Terbayang betapa cantiknya gelang itu di tanganku. Tapi mengingat harganya, rasanya pasti tanganku nggak akan kuat mengangkatnya. Ingin ku kembalikan tapi pasti Arka menolaknya.


"Kenapa seragamnya nggak persen di butiknya Keysha aja sih ma?" tanya Arka mulai protes lagi.


"Susah, kan buat banyak orang. Kita nanti beli bahan biar mereka ke tukang jahit sendiri," kata Bu Gendis.


"Sungguh merepotkan," kata Arka yang akhirnya mendapat jeweran dari Bu Gendis.


Kami tiba di pusat perbelanjaan yang khusus menjual kain bahan. Bu Gendis seperti kebanyakan wanita terlalu memilih dan sadis dalam menawar harga. Entah sudah berapa lama kami berkeliling namun Bu Gendis belum juga menunjukkan hasil yang memuaskan.


"Capek nih, biasanya detik-detik terakhir menjelang toko tutup baru mama menentukan pilihan," Arka berbisik kepadaku.


"Kita kabur aja yuk," ajak Arka sudah tidak sabar.


"Adik jangan nakal ya," kataku sambil tertawa.


Bu Gendis kemudian memanggilku dan memintaku untuk membantunya memilih. Ada tiga pilihan warna kain brokat yang dijejer di depanku. Warna Salem, hijau mint dan kuning kunyit.


"Kesannya pucat ya Kas," kata Bu Gendis saat aku memilih warna hijau mint.


"Warnanya terlalu anak muda, nggak cocok untuk ibu-ibu yang sudah berumur," protes Bu Gendis saat pilihan ku jatuhkan ke warna salem.


"Yang ini terlalu ngejreng, nduk. Norak," tolak Bu Gendis saat hanya ada satu-satunya pilihan terakhir.


Arka tertawa lepas, pasti dia paham dengan situasiku saat ini. Huhh, nasib baik yang ku hadapi ini adalah Bu Gendis, calon mertua yang harus dihargai dan dihormati, coba saja kalau dia Rayi, pasti sudah ku kucir mulutnya dan pasti kamu akan berdebat hebat. Dan akhirnya pilihan jatuh pada warna merah marun yang dari awal tidak ada di dalam list.

__ADS_1


"Merah SD ini cocok untuk semua kalangan, nduk," kata Bu Gendis sambil melakukan pembayaran dan menunggu lainnya di packing.


"Yang dimaksud merah SD itu marun, Kas. Kan hampir sama dengan warna seragam SD. Itu warna favorit mama. Tapi kenapa nggak dari tadi langsung pilih warna itu demi efisiensi waktu ya?" bisik Arka sambil tertawa cekikikan.


Betul saja, seperti yang dikatakan Arka tadi, sesaat setelah kami selesai semua toko di pusat perbelanjaan ini tutup. Arka seolah sangat mengerti mamanya. Syukurlah Bu Gendis puas dengan semua yang sudah kami lalui hari ini.


"Kasih, kamu duduk di depan. Mama capek, awakku pegel-pegel. Mau tiduran slonjor di belakang," kata Bu Gendis dan aku turuti.


Benar saja, baru saja keluar dari area parkir, Bu Gendis sudah terlelap.


...****************...


"Kamu nginep sini aja nduk, temani mama. Kan ya ada dua kamar di sini, kamu tidurnya sama mama," bujuk Bu Gendis saat aku pamit pulang.


"Nggak, Bu. Saya pulang aja, mungkin lain kali." kataku.berusaha menolak dengan sopan.


"Weladalaa, kok nggak mau," kata Bu Gendis dengan nada kecewa.


"Udahlah mah, nanti kalau ternyata papa juga mau nginep di sini, terus papa tidur di mana?" kata Arka yang lumayan membantuku sehingga aku tidak perlu mencari alasan.


"Ya sama kamu to, dik," kata Bu Gendis yang jelas menolak alibi.


"Moh," jawab Arka tegas.


"Kamu itu aneh, nggak pernah mau tidur kalau ditemenin. Lha, piye kalau sudah menikah?" kata Bu Gendis dengan kedua tangan di pinggang.


"Ya itu beda ceritalah, ma. Udah Arka sama Kasih jalan dulu. Mama baik-baik di rumah ya. Paling sebentar lagi papa datang," kata Arka sambil menyalami Bu Gendis dan mencium tangannya. Aku juga melakukan hal yang sama.


Kami berdua masuk ke mobil dan Arka siap mengantarku pulang. Jujur tubuhku sudah sangat merindukan tempat tidur. Lelah rasanya seharian berkeliling. Berulang-ulang aku menguap dan mataku yang serasa mengandung lem sudah tidak bisa diajak kompromi. Terasa sangat berat seperti ada sepuluh gajah yang bergantung di pelupuk mata dan akhirnya aku terlelap.


"Kas, sudah sampai," sayup-sayup terdengar suara Arka membangunkan.


Aku membuka mata sambil kembali menguap. Namun rasa kantukku seketika hilang saat mataku berhenti pada sosok wanita yang tidak asing lagi sedang duduk di teras rumahku.

__ADS_1


"Ka, itukan mommy nya Awan. Mau apa ke sini?" tanyaku pada Arka lebih kepada diriku sendiri.


__ADS_2