
"Aku tahu kamu pasti ingin tetap bekerja, menjalani hari seperti biasa tapi maaf kalau aku punya pendapat yang lain," kata Arka menatapku tajam.
Arka sangat serius, selama ini belum pernah aku dan Arka seserius ini. Intonasinya tegas namun dan seolah ini perintah yang tidak bisa ditawar lagi. Terkesan sangat berwibawa, entah mengapa aku tidak berani membantahnya ataupun sekedar bertanya. Aku hanya diam menyimak.
"Besok kamu menghadap HRD, sebulan setelah menikah kamu resmi mengundurkan diri, biar perusahaan bisa segera mencari pengganti yang bisa kamu training mulai dari sekarang," kata Arka lagi.
"OK" kataku sambil mengangguk dan menuruti semua kata-kata Arka.
"OK, OK aja, nggak ada usul atau keberatan gitu?" tanya Arka kali ini nadanya kembali santai.
"Nggak, suatu saat kamu kan yang jadi kepala rumah tangga, jadi aku harus menurutimu," kataku lagi.
Iya, baru kali ini Arka membuat keputusan. Kalau aku menolak, aku khawatir dia akan membatalkan pernikahan ini. Sudah stop seorang Kasih untuk menjadi sosok egois dan keras kepala. Aku membereskan semua peralatan makan kami lalu mencucinya termasuk panci dan alat yang digunakan untuk memasak tadi.
"Mau dipeluk dari belakang nggak nih?" tanya Arka yang sudah berdiri di sampingku.
"Kamu itu ngapain? Aneh-aneh aja," kataku sambil menggeleng kepala
"Siapa tahu kamu pingin seperti di TV," kata Arka lagi dan berdiri sangat dekat denganku.
"Udah selesai, boleh aku istirahat sebentar?" kataku berusaha menghindarinya.
"Kamu menginap sini ya? Nggak apa-apa, kan kamar kita terpisah," kata Arka.
"Pulang dong, kan besok aku kerja. Seragamku kan di rumah," kata ku beralasan.
"Harusnya bisa minta tolong Rayi untuk bawain, tapi kalau kamu menolak ya nggak papa. Kamu istirahat aja, aku pergi dulu ya. Kurang lebih dua jam baru aku kembali terus anterin kami pulang," kata Arka.
...****************...
Sudah hampir jam sembilan malam saat aku tiba di rumah. Rayi segera menyusulku dengan wajah membawa tidak sabar. Sepertinya dia membawa kabar yang sangat penting dan harus disampaikan saat ini juga.
"Dari mana?" tanya Rayi.
"Dari rumah Arka," jawabku santai.
__ADS_1
"Yakin?" tanya Rayi seolah tidak percaya.
"Masak iya aku lupa? Baru aja kejadian," kataku merasa aneh dengan pernyataan Rayi.
"Kamu sama Arka terus?" tanyanya membuatku penasaran.
"Selesai makan Arka sempat pergi, aku ketiduran. Pas udah bangun dianterin pulang," kataku mencoba menjawab apa adanya.
Rayi lalu bercerita kalau tadi setelah lembut, dia tidak langsung pulang tapi makan malam bersama teman-teman satu departemen, ada yang ulang tahun. Dan di sana Rayi melihat Awan dan Arka. Rayi sempat mengirimkan foto candid dan terlihat jelas muka tegang di wajah keduanya. Aku terus memperhatikan dan memang kaos itu yang dipakai Arka saat pergi tadi.
Rayi sempat mendengar kalau Awan akan berusaha merebut kembali hatiku
"Awan di luar negeri kan, Ra?" tanyaku masih sedikit meragukan foto itu.
"Itu siapa? Jin yang menyerupai Awan?" tanya Rayi dengan nada judes.
Aku hanya diam, untuk apa mereka bertemu? Hanya Arka dan Awan yang tahu segalanya. Kenapa Arka tidak membicarakannya padaku sama sekali padahal aku terus bersamanya?
"Aku tanya Arka deh," kataku sambil mengambil ponsel dari dalam tasku.
"Atau aku telepon Awan," kataku memberi ide baru.
"Janganlah, biar saja itu jadi rahasia para pria. Selama kami tidak di rugikan dan kamu baik-baik saja, sudah biarkan saja," kata Rayi lagi sangat bijak.
"Kalau begitu, ngapain kamu ceritain ke aku? Pakai difotoin segala lagi," kataku sambil menoyor kepala Rayi.
Aku lalu menceritakan pada Rayi tentang keputusan Arka supaya aku resign dan pindah ke entah berantah serta rencanaku untuk mengajukan surat pengunduran diri ke HRD besok. Walaupun itu masih beberapa bulan lagi, tapi waktu pasti berlalu dengan cepat. Aku harus segera menyelesaikan semuanya.
"Kamu nggak ketemu aku lagi dong?" kata-kata Rayi yang membuatku trenyuh.
"Gimana Ra? Atau kamu ikutan pindah aja," aku memberikan usul dengan semangat.
"Bocah gendeng, ya nggak mungkinlah aku mau ikut, ngapain coba?" kata Rayi sambil berdiri dan berlalu pergi.
Sedih juga rasanya, selama ini selalu ada Rayi yang setia menemaniku. Seperti apa ya hidupku nanti tanpa Rayi? Pasti sepi karena tidak akan ada lagi perdebatan karena hal sepele. Tidak akan ku dengar lagi celoteh Rayi yang selalu berisik namun asyik. Itulah kenapa ucapannya 'Selamat Menempuh Hidup Baru' karena semua akan benar-benar baru, hidup dengan orang baru, memulai kebiasaan baru dan meninggalkan semua di sini.
__ADS_1
Lamunanku buyar ketika ponsel berdering dan itu dari Awan. Aku akan mencari kesempatan yang tepat untuk bisa menanyakan tentang pertemuannya dengan Arka tadi.
"Ya, Wan," kataku saat menjawab telepon.
"Kamu masih mau menjawab teleponku?" pertanyaan Awan yang membuat aku heran.
"Ehm..kamu nggak kerja? Di sana kan siang," tanyaku mencoba memancing supaya Awan mengakui keberadaannya saat ini.
"Aku di kota ini dari kemarin," jawab Awan dan ternyata dia berkata jujur.
"Sudah pergi ke mana aja? ketemu siapa aja?" tanyaku lagi mencoba menggali informasi.
"Pinginnya ke tempatmu, ketemu sama kamu," kata Awan yang malah menggombal.
Aku hanya diam karena khawatir Awan akan berharap lagi padaku walaupun hatiku berteriak aku juga ingin bertemu dengannya.
"Tapi sekarang kamu di rumahnya Arka ya? Pawangmu susah di tembus," kata Awan dan terdengar dia menghela napas berat.
"Kok kamu tahu?" tanyaku mencoba menyembunyikan kebenaran kalau sebenarnya aku hanya mampir di sana.
Pasti yang dimaksud pawang itu adalah Arka. Namun Awan malah diam dan tidak seolah tidak mau membicarakan tentang itu. Dia malah bercerita tentang rasa kangennya dan keinginannya agar suatu saat nanti aku bisa kembali ke pelukannya. Dia sangat tahu bahwa tidak ada cinta di hatiku untuk Arka. Semua hanya formalitas agar orangtuaku bahagia.
"Kamu nggak kangen Arka? Kalian kan sering bersama. Kapan terakhir kali kalian bertemu?" seperti ada kesempatan saat m membahas Arka, ku ajukan pertanyaan itu.
"Sebenarnya baru saja aku bertemu Arka," jawab Awan dengan tegas.
"Ada urusan apa?" nadaku mulai panik karena apa yang diberitahu Rayi benar.
Aku hanya takut jika mereka bertengkar lagi. Aku juga mulai mempelajari bahwa Arka sangat pintar menyimpan rahasia. Dia bisa berbuat seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Ya, pawangmu itu ingin menguasai kamu," kata Awan dengan nada penuh kebencian.
"Nggak ada seperti itu," kataku mencoba membela Arka.
Kenapa Awan seolah enggan menyebut nama Arka? Sudah sebenci itu kah dia?
__ADS_1