
Paviliun ini memang tidak luas, hanya berukuran empat puluh meter persegi. Tapi ada dua kamar, satu kamar mandi,dapur kecil dan ruang tengah. Mungkin karena jarang ditempati sehingga seluruh paviliun sangat kotor. tapi bagian kamar tidur sudah sangat bersih, mungkin kemarin Arka yang sudah seharian membersihkannya. Hari ini kami membersihkan kamar yang akan dijadikan ruang jahitku dan kami akan memindahkan semua dari rumah induk ke sini.
"Kamu nggak apa-apa kan kita tinggal di sini?" tanya Arka merasa tidak enak padaku.
"Di sini juga bagus," kataku sambil tersenyum menandakan kalau aku tidak ada masalah dengan semua ini. "Mas Aditya itu orangnya seperti apa mas?" tanyaku penasaran juga.
"Ya, nanti kamu tahu sendirilah, penilaian itu kan tergantung orangnya masing-masing," kata Arka sambil melanjutkan kegiatannya seolah tidak berminat dengan pembicaraan kami.
Aku tidak meneruskan bertanya karena sepertinya Arka tidak nyaman jika membahas mengenai Aditya. Aku kemudian menyibukkan diri dengan membersihkan kamar tidur agar bisa segera kami tempati. Setelah selesai membereskan kamar, aku kemudian membersihkan dapur. Arka berjanji akan mengajakku berbelanja untuk kebutuhan perkakas dapur dan alat makan. Kami juga akan memasak sendiri karena kasihan Mbok Welas kalau harus melayani begitu banyak orang. Semua sudah bersih dan beres saat hari menjelang sore. Kami memindahkan beberapa pakaian kami agar malam ini kami sudah mulai bisa menginap di sini. Entah kenapa Arka terkesan sangat buru-buru, tapi aku malah merasa sangat nyaman di paviliun ini yang memang cocok untukku yang cenderung introvert dan kurang suka bertemu dengan banyak orang. Di rumah sederhana ini yang hanya ada aku dan Arka.
"Jadi papa itu teman main bapak waktu kecil?" aku menegaskan pada Arka saat kami mengobrol sambil melepas lelah di sofa ruang tengah
"Iya, kayak aku sama Rinto sekarang. Tiap kali aku ke desa, selalu ke mana-mana sama Rinto," kata Arka yang membiarkanku bersandar di bahunya.
"Oh, " jawabku singkat tanda mengerti
"Jadi someday, kalau anakku sama anak Rinto berlawan jenis, bisa tuh dijodohin," kata Arka yang membuatku langsung bangun.
"NGGAK!" seketika aku berteriak.
"Kenapa? apa menurutmu perjodohan itu buruk?" tanya Arka keheranan.
"Nggak gitu, mas. Kasihan aja anakku kalau jadi menantunya Rayi. Amit-amit, mertuanya cerewet, galak lagi," kataku sambil menghela napas panjang dan Arka menanggapinya dengan tertawa.
Kami kemudian membersihkan diri dan kembali ke rumah induk untuk makan malam. Ternyata Mbok Welas tidak tahu menahu mengenai rencana kedatangan Mas Aditya dan keluarganya serta kepindahan kami ke paviliun. Mbok Welas juga tampak keberatan saat Arka memintanya untuk tetap tinggal di rumah induk bersama mereka.
"Kenapa Mbok? Kok malah melamun?" tegur ku saat selesai mencuci piring.
__ADS_1
"Mbok pasti sepi, pulang dari desa nanti, Lopi kembali ke luar negeri terus kalian nggak serumah sama Si Mbok," katanya dengan mata menerawang.
Aku memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan karena sepertinya hal ini kurang menyenangkan. Aku bergegas menemui Arka yang sedang membuat daftar belanjaan untuk besok dan malam ini kami sudah tidur di paviliun. Aku juga mempersiapkan apa yang ingin aku bawa ke desa karena tiga hari lagi kami harus berangkat ke desa untuk acara pernikahan Rinto dan Rayi.
"Semangat banget yang mau mudik," ledek Arka sambil memelukku dari belakang.
"Semangat dong, mas. Kan bestiku mau nikah," kataku kemudian berbalik badan dan berhadapan dengan Arka yang tangannya masih melingkar di pinggangku.
...****************...
"Bu, Kasih ke tempat Rayi aja ya," kataku memohon izin pada ibu.
"Ngawur, Rinto itu anak pakdemu, ya kamu harus ikut rombongan pihak lelaki," kata ibu mulai marah karena sudah heboh sejak kemarin, mungkin ibu lelah.
"Tapi Bu,Rayi itu kan... .... ....,"
"Udahlah yank, nantikan juga bisa ketemu Rayi," bisik Arka sambil.mengajakku keluar supaya tidak berdebat lagi dengan ibu.
"Iya mas, tapi kan aku pingin ngasih support ke Rayi. Dapat fasilitas backstage gitu," aku masih belum bisa terima dengan penolakan dari mereka.
Tapi akhirnya ya aku ikut rombongan pengantin pria sebagaimana seharusnya dan aku hanya bisa memandang Rayi dari deretan kursi tamu sambil sesekali mengacungkan jempol. Rayi terlihat sangat cantik dan terlihat sangat berseri-seri justru Rinto tampak malu-malu duduk bersanding dan dilihat sekian banyak orang. Tanpa sadar air mataku jatuh dengan senyum tersungging di bibir.
"Kamu kenapa yank?" tanya Arka dengan jemari mengusap air mataku.
"Terharu mas," jawabku sambil tersenyum padanya.
Bayangan hari pernikahanku dengan Arka bermain di pelupuk mata. Berapa aku bersanding tanpa ayah. Betapa beruntungnya Rayi yang didampingi orangtua yang lengkap di hari bahagianya
__ADS_1
...****************...
"Kita di sini dua tiga hari lagi ya mas, aku masih kangen sama ibu. Dari kemarin ibu sibuk terus, nggak ada waktu buat aku," rayuku saat kami sudah di rumah sepulang kondangan.
"Mau di sini terus juga nggak apa-apa," kata Arka.
"Kok gitu mas?" tanyaku heran.
"Yang penting kamu nyaman," kata Arka
"Walaupun mas bisa WFH, tapi kan sini jauh dari kantor," kataku memberi pertimbangan.
"Kan di rumah sekarang ada Mas Adit. Atau kita tinggal di Villa? Enak tuh, kamu bisa naik kuda tiap hari," usul Arka lagi.
Aku hanya diam, tidak banyak berkomentar. Kenapa seolah Arka tidak nyaman dengan kehadiran Aditya? Buruknya aku sebagai istri, tidak begitu memahami permasalahan apa yang sedang dialami oleh suamiku ini. Kalau Arka tidak mau terbuka dan bercerita padaku, aku akan menyelidikinya sendiri. Aku bergegas masuk ke rumah dan menemui Mbok Welas untuk menggali informasi. Tapi sayang, Mbok Welas dan Lovely sedang tidur pulas. Mungkin mereka lelah seharian berkeliling desa. Aku membujuk diriku sendiri, pelan-pelan aku pasti bis mendapatkan jawabannya.
Mungkin sebaiknya aku mandi saja kemudian tidur supaya badan sehat dan segar. Namun saat akan tidur, telepon Arka berdering dan itu dari Pak Surya aku menjawabnya karena Arka sudah lelap.
"Kamu ini mau nya apa? Sudah tau Adit hari ini datang tapi kok malah nggak ada siapa di rumah," semprot Pak Surya sebelum aku bisa mengucapkan hallo.
"Maaf pa, ini Kasih. Sekarang kami di desa. Sepupu Kasih menikah hari ini," kataku berusaha selembut mungkin karena emosi Pak Surya yang tidak stabil.
"Arka mana?" tanya Pak Surya
"Sudah tidur, pa." jawabku lagi dengan jantung berdetak kencang.
"Pasti tidak mau diganggu. Heran papa!" jawab Pak Surya yang kemudian mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Aku semakin penasaran dengan Mas Adit.