
Aahva baru selesai minum susu dan sudah tidur nyenyak. Mbok Welas yang baru saja selesai menonton sinetron favoritnya juga sudah beranjak ke kamar. Tinggal aku sendirian di ruang keluarga dan jam yang berdetak menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku terus memantau ponselku siapa tahu ada pesan masuk dari Arka tapi belum ada kabar sama sekali setelah dia pamit. Sengaja aku tidak tidur walaupun mataku sudah terasa berat. Belum ada tanda-tanda Arka akan pulang dan membuat pikiranku semakin runyam. Kenapa saat aku merasa sudah bisa sepenuh hati menerima Arka hal ini seperti ini malah terjadi. Aku berpikir kalau semua akan baik-baik saja, tapi nyatanya malah rasa memiliki dan takut kehilangan Arka membuat batinku tersiksa. Mungkin ini yang dirasakan Arka saat aku masih terus memikirkan Awan di awal pernikahan kami. Apa Arka tidak memikirkan ku saat dia pergi dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku? Iya dan kenapa wanita lain itu harus wanita yang ku kenal dan selalu bersikap baik padaku? Mungkin saja ini karmaku. Walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak ada niat untuk mempermainkan perasaan Arka saat itu tapi mungkin Arka memendam luka dan dia sudah lelah dan saat aku sadar aku sudah terlambat. Dan apa yang kurasakan saat ini? Rasanya sangat lelah bukan hanya tubuh tapi juga pikiranku. Mungkin di luar sana banyak yang menghujat ku karena sudah menyia-nyiakan Arka, suami terhebat di dunia hanya karena tidak bisa lepas dari masa lalu dan kini tidak ada yang mengasihani ku saat aku menyesal dan merasakan luka yang sangat dalam.
Sesaat aku terlelap dengan air mata membasahi pipiku dan saat aku terbangun sudah hampir jam satu dini hari, aku berdiri dan menuju ke garasi. Mobil Arka belum tampak di sana, berarti Arka belum pulang, aku lalu mengambil ponselku dan mencoba meneleponnya tapi meskipun hubungannya tersambung tapi tidak ada yang menjawab panggilanku. Kecemasan mulai menyelimuti benakku dan dan sesekali aku ke luar rumah untuk melihat ke jalan kalau-kalau Arka sudah pulang
"Nggak tidur, Kas?" suara Rinto sukses mengagetkanku.
"Rinto?! Aku nungguin Arka, jam segini belum pulang. Kamu sendiri ngapain jam segini di luar?" tanyaku heran pada Rinto
"Ngisis, sumuk ACne rusak," kata Rinto sambil mengipas wajahnya dengan tangan.
Akhirnya Rinto menemaniku menunggu Arka di teras rumah. Dia malah bercerita tentang progres pembangunan Agrowisata di desa. Kemungkinan butuh waktu setahunan untuk bisa soft opening. Ternyata semua proses diserahkan ke Rinto dan Arka hanya memantau sambil menerima laporan, sama dengan yang aku lakukan pada Rayi dalam hal pengelolaan butik. Dia juga melakukan hal yang sama di beberapa perusahaan cabang. Arka hanya aktif di kantor pusat milik Pak Surya. Lalu ke mana dia selama ini sampai kerja harus lembur dan jarang pulang? Pertanyaan baru yang bermunculan membuat kepalaku terasa pusing dan pandanganku terasa gelap.
__ADS_1
...****************...
Aku terbangun di dalam kamar dan berselimut rapi serta segelas susu hangat dan roti lapis tampak di nakas. Arka duduk di ujung kasur dengan senyumnya. Dia tampak segar dan air menetes dari ujung rambut menandakan kalau dia baru selesai mandi. Dia kemudian membantuku untuk duduk dan berusaha menyuapiku roti lapis namun aku menolak dengan tetap menutup mulutku. Walau sebenarnya aku lapar tapi aku tetap bersikeras untuk tidak menerima kebaikan Arka.
"Ayo makan, kasihan kamu sama anak kita," Rayi Arka sambil tetap menyodorkan roti lapis itu untukku.
"Mas masih peduli?" tanyaku ketus.
"Ya pasti dong, kok kamu bisa ngomong seperti itu?" Arka berusaha menyakinkan aku.
"Aku kan udah pamit yank dan minta kamu tidur duluan. Kok kamu nggak nurut sama aku?" kata Arka masih dengan nada yang lembut dan wajah yang tidak pernah gagal mempesonaku.
__ADS_1
"Terserah mas aja," kataku sambil beranjak ke kamar mandi.
Saat air mulai mengguyur kepalaku, pertanyaan-pertanyaan kemarin mulai mengalir lagi di otakku. Rasanya seperti mau gila. Sebenarnya tadi adalah saat yang tepat, harusnya aku menerima roti lapisnya, lalu bicara baik-baik dan mengulik apa yang sebenarnya disembunyikan Arka dariku, tapi bodohnya aku terlalu dikendalikan oleh emosi yang baru aku sadari kalau itu sangat kekanak-kanakan. Orang dewasa harusnya menyelesaikan semua dengan kepala dingin bukan dengan ngambek dan berharap semua orang akan mengerti keinginanku. Kalau aku terus-menerus seperti ini aku yakin masalah yang sedang aku hadapi tidak akan pernah bisa selesai. Buru-buru aku menyelesaikan mandiku dan bergegas mencari Arka tapi yang ada di nakas hanya roti lapis dan segelas susu yang sudah tidak hangat lagi dan secarik kertas berisi tulisan Arka 'Aku pergi dulu yank, kamu baik-baik di rumah, jangan mogok makan dan istirahat teratur'. Aku duduk terkulai, untuk apa dia buru-buru pergi sepagi ini dan hanya meninggalkan pesan seperti ini?
Mbok Welas nongol di depan pintu dan mulai mengomel karena aku masih belum makan juga. Akhirnya aku paksakan melahap semua yang ada di nakas dan keluar untuk berjalan-jalan bersama Aahva karena hari masih pagi sekitar jam setengah tujuh. Ku ayunkan langkah kakiku menuju lapangan karena biasanya banyak warga beraktivitas di sana. Menyapa tetangga dan membaur dengan warga membuatku sejenak melupakan masalah yang sedang aku hadapi. Aku menyesali sikapku pagi ini, andai saja aku bisa bersikap dewasa pasti saat ini aku dan Arka sedang bertukar pikiran dan kemungkinan saja satu atau dua jam kemudian masalah kami sudah menemui titik terang.
Dari kejauhan tampak Rayi terus mengomeli Ade yang terus berlarian seakan tidak ingin berhenti. Aku mendekati mereka dan membiarkan Aahva berlarian bersama Ade yang membuat Rayi semakin meninggikan suara. Tapi pada akhirnya Rayi menyerah juga saat melihat kedua anak itu tertawa bahagia.
"Nanti aku ikut ke butik ya, bosan di rumah terus," kataku yang membuat Rayi sedikit melotot.
"Ra usah neko-neko," tolak Rayi
__ADS_1
"Aku ke sana mau kerja, bukan main bola. Di sana kan juga cuma duduk, kan di ruang kantorku ada sofa bed juga bisa buat rebahan, aktivitasnya nggak berbahaya kan?" aku mencoba meyakinkan Rayi.
Rayi hanya diam pertanda dia tidak bisa membantahku. Daripada aku di rumah dan larut dalam pikiran dan pertanyaan yang sampai saat ini belum ketemu titik terang, sebaiknya aku mencari kesibukan dan berharap malam ini Arka pulang lebih cepat sehingga kami bisa bicara berdua.