
"Aku pasti bisa merebut kembali Kasih darimu, pengkhianat bajingan," kata Awan yang membuat pikiranku semakin kacau.
"Aku bukan barang yang bisa diperebutkan. Dengan siapa aku mau hidup semua adalah keputusanku," jawabku.
"Sayang, kita harus bicara lagi. Kita cari waktu yang tepat, aku janji nggak akan pakai emosi," kata Awan memohon padaku.
"Aku capek Wan," kataku dan aku merasakan ponsel diambil dari tanganku.
"Kalau capek istirahat aja yank, kamu juga perlu tidur, nggak baik bergadang," kata Arka sambil menonaktifkan ponselnya.
Arka tidak menanyakan apapun padaku namun melanjutkan tidurnya. Aku langsung merebahkan tubuhku di samping Arka dan meletakkan kepalaku di atas dadanya. Bisa ku rasakan hangat pelukannya mengurangi dinginnya hawa pegunungan ini. Sampai kapan Awan akan terus begini dan membuat hidupku tidak tenang. Tapi aku harus berusaha untuk tidur, Arka sangat menjaga kualitas tidurnya, jangan sampai keresahanku mengganggu tidurnya.
...****************...
"Kenapa semalam kamu yang mengangkat telepon Arka?" tanya Awan.
Pagi-pagi sekali Awan sudah menunggu kami di depan Villa, Arka mempersilahkan dia untuk masuk dan membuatkan secangkir kopi untuknya. Dia benar-benar gigih untuk meraih hatiku tapi aku terlanjur sebal dan malas untuk berurusan dengannya lagi. Dan dia sangat menganggu, harusnya aku masih tidur menikmati sejuknya hawa dan setelah itu, saat matahari mulai naik, aku baru akan bangun lalu pergi berjalan-jalan bersama Arka. Ah, tapi semua tinggal rencana yang gagal ku nikmati.
"Kenapa kamu diam?" tanya Awan dengan nada yang lembut tanpa emosi, tidak seperti sebelumnya.
"Karena pertanyaanmu tidak perlu dijawab," kataku tanpa memandangnya dan melihat ke luar jendela.
"Setiap pertanyaan pasti ada jawabnya yank," kata Arka sambil duduk di sampingku.
"Ya aneh aja, kan kita suami istri, wajar kan kalau aku membantu menjawab teleponmu? Semua milikmu juga milikku," Jawabku pada Arka.
"Semalam kalian tidur bareng?" tanya Awan dengan wajah kaget.
"Tuh kan Mas, maksudnya apa bertanya seperti itu?" kataku lagi sengaja dengan nada manja sambil gelendotan di lengan Arka.
Awan seperti bingung dan tidak bisa berkata-kata. Seolah tidak yakin dengan apa yang terjadi. Aku seperti mendapat celah untuk semakin meyakinkan Awan kalau sudah tidak ada celah lagi baginya untuk masuk di hidupku.
__ADS_1
"Kalau kamu cuma mau menanyakan tentang telepon semalam, aku rasa sudah terjawab. Kami masih ada banyak agenda yang ingin kami lakukan," kataku mantap sambil menatap tajam ke mata Awan.
"Iya ndan, selain ikut lelang, kami sekalian honeymoon, itulah kenapa Kasih ikut ke sini," kata Arka sangat santai seperti berbicara dengan sahabatnya.
Aku lalu berdiri dan begitu saja meninggalkan mereka berdua. Aku benar-benar malas lelah menghadapi masalah yang timbul karena mereka. Aku lalu meminta Pak Santo untuk menemaniku berkeliling.
"Anu Mbak? Apa nggak sebaiknya nungguin Mas Arka dulu?" saran Pak Santo yang membuatku manyun.
"Anu Pak Santo, Mas Arka baru ada tamu, saya udah bosen nungguin," kataku menirukan gaya bicara Pak Santo sambil tertawa.
Pak Santo yang awalnya ragu ikut tertawa lepas. Acara pertama Pak Santo mengajakku untuk berkuda. Meskipun awalnya sempat ragu dan takut jatuh, tapi lama kelamaan aku menikmati juga. Walau matahari mulai meninggi dan teriknya serasa membakar kulitku, aku sama sekali tidak peduli. Karena sudah selesai tiga putaran dan kuda juga harus istirahat, aku kemudian kembali ke tempat Pak Santo menunggu. Ternyata Arka sudah di sana sambil bercanda dengan beberapa orang yang mungkin baru saja dikenalinya.
"Ini istri ku yang lebih memilih pergi sama Pak Santo dan meninggalkanku merana sendirian di Villa," kata Awan sambil membantuku turun dari kuda dan diiringi tawa oleh bapak yang ada di sana.
"Mas tadi kan ada tamu, aku bosen nungguin," kataku sambil berpegangan pada pundak Arka.
Arka menurunkan ku tepat di depannya dan kami saling berhadap-hadapan. Di mengecup keningku dan kata-kata 'cie-cie..' keluar dari bapak-bapak yang melihatnya yang membuatku tersipu.
Kami lalu melanjutkan perjalanan kami ke area air terjun. Kami menuruni banyak anak tangga untuk sampai ke lokasi air terjun tersebut. Rasanya sudah lumayan lama menuruni anak tangga namun rasanya belum juga terlihat air terjun yang dimaksud. Belum lagi harus menghadapi beberapa monyet nakal yang mengambil makanan maupun. minuman yang dibawa oleh pengunjung. Namun rasa lelah terbayarkan saat kakiku menyentuh dinginnya air yang mengalir dan cipratan air dari air terjun. Aku duduk di bebatuan besar dan mencelupkan kakiku di dalam air.
"Udah nggak capek yank?" tanya Arka yang kemudian duduk di sampingku.
"Sejak kapan aku jadinya yank mu?" pertanyaan yang sudah ku pendam akhirnya ku utarakan.
"iya...yank, eyang putri," kata Arka sambil tersenyum-senyum nakal.
"Masak aku jadi nenekmu?" protesku sambil mencubit pinggangnya.
"Biar semua orang tahu kalau kamu kesayanganku, nggak ada lagi yang berani ganggu kamu," kata Arka sambil meringis kesakitan.
Aku hanya terdiam sambil memainkan air dengan jari-jari kakiku. Senang juga rasanya, walaupun berawal dari perjodohan, tapi Arka setulus ini menyayangiku. Aku juga sudah bisa mulai menerimanya dalam hidupku, Arka yang sabar, yang tidak emosian, yang selalu menyelesaikan semua dengan kepala dingin. Wajar kalau aku membandingkannya dengan Awan. Tapi, akhirnya tadi apa yang dilakukan Awan ya? Karena tiba-tiba Arka sudah menyusulku dan sejak itu dia tidak membahas apapun tentang Awan.
__ADS_1
"Terus, Awan tadi gimana mas?" tanyaku nekat karena kalau aku tidak bertanya, Arka pasti tidak akan bercerita.
"Dia masih tidak terima tapi dia sedikit mundur saat tahu kita tidur bersama," kata Arka dengan pandangan menerawang.
"Semoga dia nggak akan kembali," kataku sambil menundukkan kepala.
"Dia pasti akan kembali Kas, karena sejak dia mengenal cinta, yang dia tahu hanya kamu." kata Arka yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak.
"Kok kamu bicara seperti itu mas?" aku mulai protes dan tidak suka dengan kata-kata Arka.
"Inilah kenyataannya Kas, nggak apa-apa kalau kamu mau menghindarinya, tapi tolong jangan pernah membencinya," kata Awan sambil memohon padaku.
Aku tetap tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran Arka. Dia mengakui kalau dia mencintaiku, tapi kenapa dia mengizinkan ada cinta dari pria lain untukku. Dia seperti kehilangan akal sehat sepenuhnya. Seandainya aku meminta padanya agar aku kembali pada Awan, apa Arka akan membiarkanku melakukan hal itu?
"Mas aku ini istrimu, apa kamu nggak takut kalau aku berubah pikiran dan pergi dengan lelaki lain?" tanyaku.
"Aku sangat ingin bisa selalu bersamamu dan hanya ada aku, tapi kalau kamu tidak bahagia bersamaku aku bisa apa? Kebahagiaan itu tidak bisa didapatkan secara paksa," kata Arka sambil mempermainkan ujung rambutku.
Lagi-lagi kata-kata Arka membuatku luluh. Sungguh dalam, kenapa dia tidak terpikir untuk menuliskan kata-kata mutiaranya itu dan dibukukan, Siapa tahu bisa jadi best seller dan bukunya akan berdampingan dengan karya Kahlil Gibran atau Sapaedi Djoko Darmono di rak dalam sebuah toko buku.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. by Sapardi Djoko Damono" kataku sambil tersenyum.
"Ada ya itu?" tanya Arka sambil bertepuk tangan kagum.
"Mas nggak kenal penulis puisi itu?" tanyaku heran.
"Nggak suka soalnya, yang penting aku kenal Sayuti Melik," kata Arka sambil tertawa.
Arka lalu mengajakku kembali ke villa, dan astaga, aku harus menaiki banyak anak tangga. Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup, Kakiku sudah terasa sangat lemas dan berat untuk melangkah.
"Ayo jalan, kamu jangan minta gendong ya, bawa badan sendiri aja sudah setengah mati karena kita akan menaiki anak tangga yang banyak," kata Arka seolah bisa membaca pikiranku.
__ADS_1
Lalu kalau aku tidak menggerakkan kakiku, aku tidak akan bisa kembali ke Villa. Bayangan tempat tidur yang nyaman membakar semangatku. Bahkan Arka terlihat kelabakan mengikuti langkahku yang bersemangat dan kami sampai di pintu keluar yang artinya tidak ada lagi anak tangga yang harus ku injak. Tapi aku merasa seperti kehabisan napas dan duniaku menjadi gelap.