
"Sesuai aplikasi ya, non," katanya lagi sambil tertawa.
Aku tidak langsung masuk, namun memeriksa plat nomer dan ternyata sesuai dengan yang ada di aplikasi. Aku lalu masuk masih dengan wajah penuh tanda tanya namun akhirnya aku tersadar dan senyum mengembang. Kenapa sih aku ini? Terlalu pusing atau bagaimana?
"Arka, kamu ngapain?" tanyaku sambil menutup pintu.
"Mengais rejeki non," katanya sambil tertawa dan aku juga ikut tertawa.
"Jam segini kok sudah pulang?" tanyanya lagi karena aku belum menjawabnya.
"Nggak enak badan, mau istirahat dulu sebentar," kataku mencoba menutupi yang sebenarnya.
"Nggak enak body atau nggak enak hati?" tanyanya dengan nada penuh candaan.
Kata-kata Arka itu membuat aku seperti maling yang tertangkap basah. Hanya ada dua pilihan, antara berkata jujur atau memikirkan kebohongan selanjutnya. Aku akhirnya tertawa, kenapa aku harus panik. Inikan hanya hal yang sepele dan aku juga mengenal Arka walau baru beberapa kali bertemu dengannya.
Saat kami tiba di rumah, aku mempersilahkan Arka untuk mampir namun dia menolak. Mau kejar setoran katanya. Sepertinya hidup Arka tanpa beban, terkesan santai, ceria dan selalu bercanda. Mungkin itu yang membuat Awan nyaman bersahabat dengannya.
"Baik-baik ya Kasih, aku berharap kamu bahagia selalu." kata Arka sambil melambaikan tangan berlalu pergi lalu meninggalkanku.
Kata-kata itu rasanya pernah ku dengar. Dan suara itu rasanya tidak asing di telingaku. Ah sudahlah, itu kan hanya kata-kata dan jelas saja aku tidak asing dengan suara Arka. Kami kan pernah mengobrol. Aku langsung menuju kamar dan lelap begitu saja.
...****************...
Terdengar suara bel pintu berbunyi. Awan berdiri di sana dengan senyumnya sedangkan aku menyambutnya dengan awut-awutan karena baru bangun tidur.
"Tadi Arka laporan katanya nganterin kamu pulang," kata Awan lalu duduk di sofa.
"Kok bisa sih di jadi driver online?" tanyaku sambil merebahkan kepala di dada Awan. Tempat ternyaman bagiku saat ini.
__ADS_1
"Dia itu orang aneh, kadang juga ketemu di lampu merah lagi ngamen." kata Awan sambil membelai rambutku.
"Hah? Sebenarnya dia itu kerjaan apa?"
"Kurang tahu, dia itu semaunya dia. Kalau ditanya katanya freelance .Kadang dia menghilang sekian lama, tiba-tiba muncul lagi," kata Awan sambil memandang langit-langit.
"Katanya kalian sahabatan kok kamu banyak nggak tahunya." aku mulai protes pada Awan.
"Bersahabat nggak perlu mandang siapa orangnya yang penting hubungi kita baik, saling mendukung, nggak saling merugikan. Nggak semua orang seberuntung kamu dan Rayi" kata Awan yang membuatku diam dan menyetujuinya.
Oh iya aku masih berhutang cerita dengan Rayi. Saat berdua seperti ini sejenak aku lupa kalau hubungan kami belum direstui bapak. Air mataku jatuh lagi, tidak bisa ku bayangkan jika aku menikah bukan dengan Awan. Aku tidak semudah itu menjalin hubungan dengan orang baru, walau hanya sekedar berteman apalagi untuk menikahi lelaki yang bahkan sampai saat ini aku tidak tahu hatinya. Mungkinkah ada lelaki lain yang mencintaiku setulus Awan?
Sadar air mataku jatuh dan membasahi dadanya, Awan mengangkat kepalaku dan menhapus air mata yang membasahi pipiku. Ku tatap ke dalam matanya, entah kata-kata apa yang harus ku ucapkan. Ada keretakan hati yang harus juga supaya tidak hancur dan berantakan. Awan kenapa semua yang ku anggap akan baik-baik saja nyatanya tidak bisa aku atasi. Hilang sudah akal sehatku, ku pejamkan mata dan ku tempelkan bibirku ke bibirnya dan ku lingkarkan tanganku dilehernya. Terasa tangannya merangkul pinggangku dan kami saling ******* bibir. Rasanya basah dan hangat napas kami saling berkejaran.
"Aku nggak tahu harus apa untuk mendapatkan restu dari orang tuaku," kataku setelah mengakhiri ciuman kami.
Lama aku terdiam, berbagai cara muncul di benakku. Bahkan dengan Awan yang sangat aku cintai saja, hatiku masih belum sepenuhnya siap untuk menikah, apalagi dengan dengan orang yang bahkan sampai saat ini tidak aku ketahui identitasnya. Pikiranku semakin kacau, aku lalu duduk dan mengacak-acak rambutku seperti biasa.
"Hamili saja aku, Wan. Supaya bapak mau menikahkan kita," kataku mulai dengan cara kotor.
"Nggak begitu caranya, sayang," kata Awan dengan nada yang sedikit terkejut.
"Aku buntu," kataku sambil menangis.
"Pikiranmu masih kacau, kamu tidak bisa berpikir jernih. Itu namanya emosi sesaat, hanya nafsu. Aku harus memintamu baik-baik dari orangtuamu." Kata Awan terdengar sangat bijak dan menenangkan.
Awan lalu mengajakku pergi, mencari angin segar supaya aku bisa tenang. Dia juga memintaku untuk menikmati acara kami hari ini dan untuk sementara tidak membicarakan mengenai masalah restu. Saat kepalaku sudah dingin, barulah kami membicarakan apa yang sebaiknya kami lakukan.
...****************...
__ADS_1
Rayi menyambutku dengan muka masam dan tangan dilipat di dada. Persis seperti anak kecil yang ngotot minta dibeliin es krim padahal ibu nya terus menolak bahkan memarahinya.
"Iso ora kamu ngasih kabar? Aku iki khawatir kamu kenapa-kenapa, Kasino!" kata Rayi geram melihat aku santai.
"Lho? Emang aku salah apa?" kataku berpura-pura polos.
"Tadi kamu izin pulang kata HRD nggak enak badan. Pas aku ke rumah kami nggak ada. HP mu juga nggak bisa dihubungi," kata Rayi dengan nada emosi.
Itulah kebiasaan burukku. Aku sering tidak peduli dengan ponselku sehingga kadang sulit untuk menghubungiku. Sesuai janjiku, aku lalu menceritakan yang terjadi di desa kepada Rayi, mengenai bagaimana bapak menolak lamaran Awan dan menjodohkan ku dengan lelaki pilihannya. Aku menceritakan pertengkaranku dengan bapak serta keinginanku untuk tidak menghubungi kedua orang tuaku untuk sementara waktu sebagai bentuk protesku atas keputusan mereka.
"Mau sampai kapan?" tanya Rayi pelan dengan nada bersimpati.
"Sampai aku pikiranku tenang. Kalau aku belum bisa tenang, takutnya aku dan bapak bertengkar lagi," kataku sambil memandang bintang yang entah mengapa tampak redup malam ini.
"Tapi kamu kebangeten Kas, bilang pakde menjualmu," kata Rayi penuh kekecewaan padaku.
"Makanya, kalau emosi dan kepala panas, harusnya diam saja," jawabku penuh penyesalan. Entah setan apa yang membuatku melontarkan kata-kata yang menyakitkan itu.
"Aku tadi malah minta dihamili Awan supaya bapak mau menikahkan ku," lanjutku sambil menghela napas panjang.
"Weladalaa...wis gendeng Kowe, Kas? Edan tenan," hanya itu yang keluar dari mulut Rayi dengan teriakan dan keterkejutannya. Spontan ku tutup mulutnya.
"Tapi Awan menolak, katanya dia harus memintaku baik-baik dari bapak. Terus dia ajak aku jalan-jalan," aku melanjutkan lagi ceritaku sambil melepaskan tangan ku dari Rayi
"Bejo Awan pikirannya masih waras." kata Rayi sambil menopang dagunya dan berpikir keras.
Bukannya memberi saran tentang apa yang harus aku lakukan supaya mendapat restu, Rayi malah memintaku untuk mencoba menyelidiki lelaki yang dijodohkan denganku namun tentu saja aku menolak. Untuk apa? Mengemis dan merayu padanya supaya membatalkan perjodohan ini?
Saat berusaha berpikir keras, ponsel Rayi berdering dan itu telepon dari bapak.
__ADS_1