
Aku hanya diam, air mataku berguguran deras sekali membanjiri pipiku. Ibu memelukku sambil membelai lembut rambutku. Pikiran kacau karena urusan lamaran mendadak belum selesai tiba-tiba dapat kabar aku sudah dijodohkan. Awan hanya tertunduk, mungkin dia merasa terhina walaupun bapak menolaknya secara halus. Dia hanya diam membatu seolah tidak percaya dengan semuanya.
"Bapak menuduhku yang tidak-tidak hanya karena Awan mendadak melamarku dan sekarang tanpa sepengetahuanku bapak merencanakan perjodohan, apa maksud semua ini, Pak?" tanyaku sambil terisak tidak terima.
"Kamu harus bisa mengerti keinginan orangtuamu, nduk," kata bapak dengan nada lembut namun kata-katanya terasa sangat menusuk.
"Bapak juga harusnya bisa mengerti perasaanku," kataku membangkang dengan Isak tangis yang semakin menjadi.
Ibu berusaha menenangkan aku dan mendamaikan dengan bapak supaya kami tidak saling debat. Ibu mengajakku ke dalam namun aku menolaknya. Bagaimana dengan Awan jika aku meninggalkan dia hanya berdua dengan bapak? Aku tahu hatinya juga pasti hancur mendengar kabar dari bapak.
"Aku balik ke kota saja sama Awan," kataku pada ibu dan berusaha mengusap air mataku saat tangisku mulai mereda.
"Kamu tinggal di sini dulu sebentar, nduk. Biar bapakmu bisa menjelaskan semuanya." kata ibu lembut menenangkan.
"Terus Awan?" tanyaku meminta penjelasan.
"Ya, nak Awan biar kembali dulu ke kota," kata ibu sambil memandang Awan yang dari tadi hanya tertunduk.
Aku menolak saran ibu dan bersikukuh tetap menemani Awan dan airmataku kembali mengalir. Semua sulit untuk aku terima. Lalu dengan siapa aku dijodohkan? Kenapa selama ini tidak pernah ada pembicaraan denganku? Atau ini hanya alasan bapak untuk menolak lamaran Awan?
"Kamu tetap di sini, menikah itu bukan hanya tentang aku dan kamu tapi juga harus menyatukan dua keluarga. Selama kita belum menikah, kamu masih milik orangtuamu, jangan sampai karena aku kamu jadi durhaka. Kalau jodoh kita pasti bisa bersatu," kata-kata Awan yang membuat ibu juga ikut menangis.
"Kita datang bersama dan kembali bersama," aku mulai ngeyel dan keras kepala.
"Kalau kamu seperti ini, kemungkinan bapak akan membenciku dan restu akan sulit kita dapatkan," kata Awan masih dengan senyum yang dipaksakan dan mencoba untuk tegar.
__ADS_1
Awan lalu pergi sendiri dan memintaku untuk tetap tinggal. Dia terus meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja. Dia berjanji untuk berjuang supaya bisa menikahiku. Menurut Awan, mungkin orangtuaku belum mengenalnya dengan baik sehingga berat bagi mereka untuk melepaskan anak mereka.
"Kita hanya butuh waktu, untuk meyakinkan semua," katanya sebelum dia pergi.
Kata-kata itu seolah menamparku dan menyadarkanku bahwa dari awal, aku juga masih kurang yakin untuk menikahi Awan secepat ini. Aku masih terus bergelut dengan batinku mengenai rencana pernikahan yang menurutku terlalu cepat dan saat menghadapi orangtuaku pun aku masih penuh keraguan.
Tanpa banyak bicara, aku lalu masuk ke kamar dan mengurung diri. Ku renungkan semua yang terjadi. Ku urutkan semua sejak awal aku menerima Awan menjadi kekasihku dan kemudian Awan menyatakan keinginannya untuk mempersuntingku menjadi istrinya. Sejak itu aku mulai resah dan sering susah tidur karena keinginannya bertentangan dengan mauku namun aku tidak punya cara untuk menolaknya. Mungkin inilah jalannya untuk menunda pernikahan itu sesuai dengan angan-anganku.
Ini bukan menunda, tapi membatalkan. Karena nyatanya rencana bapak sangat jauh dari angan-anganku. Bagaimana mungkin aku menikah dengan Awan jika pada akhirnya ayah ingin menikahkanku dengan lelaki pilihannya?
Terdengar lembut suara ibu memanggilku sambil mengetuk pintu kamarku dan meminta untuk bicara denganku. Tapi aku mengabaikannya, kepalaku rasanya terlalu penuh untuk bisa diisi dengan pembicaraan yang serius nantinya. Tentang masa depan yang akan aku jalani.
"Biarkan aku tenang dulu bu," kataku menolak permintaannya.
Sebenarnya sangat sakit menolak ibu seperti itu. Merajuk dan mengurung diri di kamar seperti anak ABG yang berpikiran labil sebenarnya bukanlah kebiasaanku hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara untuk menenangkan diri dan mencari penjelasan untuk semua yang terjadi. Saat ini ego menguasai diriku sehingga aku sadar diajak bicara seperti apapun pasti aku akan bersikukuh menolaknya. Alasan seperti apapun pasti akan ku tolak dan aku hanya akan memberontak.
Siang itu cuaca cerah dan udara sejuk harusnya sangat menyenangkan namun tidak dengan aku yang duduk bermuka masam di depan kedua orang tuaku. Aku tidak sanggup menatap mata keduanya karena merasa dikhianati.
"Kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya pacar," kata bapak seolah menumpahkan kesalahan padaku.
"Kita nggak ada niat pacaran, pak. Pinginnya langsung nikah, kan sudah cukup umur." kata ku beralasan dan menurutku itu masuk akal.
"Ya nggak gitu caranya, nduk. Harusnya kamu cerita dulu, minta pendapat baru bawa ke sini untuk melamar," kata bapak yang sebenarnya tidak salah sama sekali.
"Harusnya bapak juga cerita dulu, minta pendapatku baru menentukan perjodohan," kataku menyerang balik ucapan bapak.
__ADS_1
Bapak dan ibu hanya saling pandang. Mereka sudah kebal dengan sifat keras kepalaku. Aku juga kembali diam, aku sudah bertekad hanya bicara kalau bapak atau ibu berbicara. Ada rasa bersalah juga membantah mereka seperti itu, tapi aku ini bukan anak kecil dan aku berhak mengatur masa depanku.
"Bapak pikir belum saat yang tepat untuk memberitahumu," kata Bapak lagi menatapku penuh rasa sayang.
"Tapi bapak sudah menyetujui perjodohan itu kan?" tanyaku dengan nada pelan namun cukup menohok.
"Iya, tapi kan ini untuk kebaikanmu juga, nduk" menurutku itu kata-kata klise orang tua yang mau menang sendiri.
Ingin sekali ku teriakkan bahwa aku memang anak mereka, namun aku bukanlah sepenuhnya milik mereka yang bisa seenaknya mereka memutuskan sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaanku. Aku ini sudah dewasa, itu sepenuhnya hakku untuk menentukan apa yang terbaik buat ku dan apa yang harus aku lakukan. Ini hakku untuk memilih jalan kebahagiaanku sendiri.
"Setidaknya dengarkan dulu penjelasan bapak, nduk," kata ibu lembut merayuku.
Aku diam sambil menunduk, mataku mulai berembun dan tak dapat ku bendung air mata yang mengalir untuk kesekian kali. Astaga, kenapa jalan cintaku serumit ini.
Bapak lalu bercerita mengenai perjodohan yang sudah dibicarakan dengan pihak lelaki sejak tiga tahun yang lalu. Saat perekomian keluarga kami masih terpuruk, saat aku masih bersusah payah berjuang untuk selembar ijazah dan gelar sarjana yang aku impikan. Saat itu menurut mereka aku masih sangat muda untuk dilibatkan dan rencana ini. Tapi apakah mereka sadar dengan tanpa melibatkan aku, akan menimbulkan keadaan seperti sekarang ini? Mereka juga sudah bertemu dengan lelaki yang mereka sebut dengan 'calon mantu' itu sekitar setahun yang lalu. Lelaki yang menurut mereka berparas tampan, pintar, rendah hati dan mempunyai masa depan yang baik. Padahal Awan juga mempunyai semua kriteria itu, tapi mereka terlalu terburu-buru menolak Awan tanpa mau melihat apa yang disebut bibit,bebet dan bobot. Awan juga rasanya sangat memenuhi kriteria itu.
Mereka juga mengakui kalau mereka sudah memberi nomer telepon pada lelaki itu dan berharap dia sudah menghubungiku. Pikiranku menerawang mencoba mengingat-ingat siapa orang asing yang mencoba menghubungiku selama setahun terakhir ini, namun tidak juga kutemukan jawabnya.
"Mereka yang memintamu baik-baik, nduk", kata ibu sambil tersenyum. Mungkin dia berusaha meyakinkan kalau dia akan bahagia kalau aku menerima pinangan itu.
"Siapa mereka sampai bapak ibu mau menerima lamarannya?" tanyaku tanpa menatap wajah orangtuaku.
"Teman bapak yang sudah sangat baik hati menolong bapak," kata bapak menggebu-gebu.
"Jadi bapak mengorbankan dan menjual aku hanya untuk memenangkan kembali semua hak bapak?" kataku yang kemudian ku sesali namun tidak mungkin ku tarik lagi.
__ADS_1
"KASIH!" bentak bapak sambil melotot ke arahku.
Jantungku rasanya terhenti seketika tidak menyangka bapak akan bertindak seperti itu.