
"Kalau nggak diizinin pasti maksa," gumamku lebih kepada diriku sendiri.
"Nggak kok, kalau nggak mau ya udah," kata Arka yang membuatku kaget karena agak lama kami terdiam ku kira Arka sudah tidur.
"Kenapa mesti meluk?" tanyaku sambil semakin erat berbungkus selimut.
"Kamu pernah dengar love language ?" tanya Arka dengan suaranya yang mampu meluluhkan hati.
"Apa tuh?" tanyaku yang benar-benar tidak tahu maksudnya.
Arka lalu menjelaskan kalau Love language itu cara kita menyampaikan perasaan cinta. Ada yang diomongin, ada yang lewat sentuhan, ada yang suka ngasih kado, ada yang suka menghabiskan waktu berdua dan ada yang lewat perhatian dan bantuan, lebih kepada melayani. Sepertinya menarik, dia mengetahui hal semacam ini. Terdengar sangat romantis.
"Kalau kamu jadinya yang mana?" tanyaku
"Aku suka sentuhan fisik, suka gandengan, suka peluk, suka cium, suka mengelus. Tapi nggak ada nafsu birahi, cuma rasanya senang aja kalau bisa ngungkapin itu lewat sentuhan." kata Arka "Ya udah, tidur yuk. Aku nggak suka bergadang, nggak baik buat kesehatan," lanjut Arka lagi dan suasana menjadi hening.
Aku malah tidak bisa tidur padahal kamarnya senyaman ini. Ku atur posisiku dan tidur terlentang karena pegel juga kalau harus miring terus tanpa bergerak. Aku ingin memastikan apa Arka sudah terlelap dan perlahan aku menoleh dan..
"Boomm!!!," ada suara berat mengagetkanku.
"Aaaahhhhhh....ibuuuuuuu!" teriakku sekencang-kencangnya.
Arka lalu dengan sigap membungkam mulutku dengan kedua tangannya sambil menahan tawa. Astaga, tega banget Arka mengagetkanku, ku kira tadi dia sudah tidur nyenyak. Aku berusaha mengatur napas dan menyusun kata untuk memarahinya. Namun belum selesai semuanya, terdengar suara ketukan dari luar.
"Kasih, ada apa nduk ?" tanya Bu Gendis di balik pintu dengan nada panik.
Arka lalu turun dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu, namun hanya ada celah sedikit untuk dia melongokkan kepalanya sambil tertawa cengengesan.
__ADS_1
"Maaf ma, tadi adik bercanda. Kasih cuma kaget aja," kata Arka dan dengan cepat menutup pintu.
Terdengar suara papa menggerutu dan langkah kaki meninggalkan pintu kamar. Arka lalu berjalan ke arahku dengan senyum puas. Mungkin karena dia merasa rencananya berjalan dengan baik dengan hasil yang memuaskan.
"Kamu kaget? Maaf deh, habisnya aku gabut, nggak bisa tidur," kata Arka kemudian duduk di sampingku.
"Kenapa nggak bisa tidur?" tanyaku sambil menatap wajahnya yang sebenarnya terlihat lelah dan mengantuk.
"Takut kalau aku nggak sadar meluk kamu terus besok pagi kamu ngambek, marah sama aku berhari-hari," kata Arka yang membuat hatiku tersentuh. Hanya karena itu dia sampai tidak bisa tidur, demi supaya aku nyaman.
"Kenapa marah? Kamu kan nggak sengaja," balasnya.
"Nggak aku kapok, pas aku nyolong nyium kamu di cucian mobil, suasananya malah jadi canggung, nggak enak sama sekali," kata Arka mengingatkanku peristiwa itu.
"Kamu nggak pakai selimut? Padahal kamar ini dingin banget," kataku heran.
Aku lalu memintanya untuk tidur, selimutnya ternyata besar dan ku bentangkan sehingga cukup untuk dipakai oleh kami berdua. Arka tidur terlentang dan aku memberanikan diri untuk tidur di atas dadanya. Perlahan bisa ku rasakan tangan Arka melingkar di tubuhku. Rasanya hangat, dan ku pejamkan mata berusaha menerima kenyataan kalau aku adalah istri Arka dan membiarkannya lelap sambil memelukku di dalam satu selimut yang sama.
...****************...
Matahari pagi yang menyilaukan masuk dari jendela yang sudah terbuka. Aroma parfum Arka tercium di hidungku. Aku terkaget kemudian buru-buru duduk. Mati aku! Bisa-bisanya aku dengan santai bangun siang saat mertuaku ada di rumah dan suamiku sudah rapi dan wangi siap berangkat kerja.
"Kalau bangun jangan kaget gitu, bahaya." kata Arka sambil menyodorkan segelas air untukku.
"Ka, aduh, aku jadi nggak enak sama mama papa, sama kamu juga, jam segini baru bangun," kataku mulai panik
"Semalam katanya mau manggil mas, sekarang balik lagi manggil nama. Nih, diminum dulu," kata Arka sambil menempelkan gelas di bibirku sampai aku minum.
__ADS_1
"Kan masih Gladi bersih, wajar dong kalau salah panggil," kataku membela diri
"Mama papa udah pulang tadi pagi, kamu tidurnya nyenyak banget, rasanya nggak tega bangunin kamu," kata Arka sambil merapikan poniku.
Arka lalu memintaku untuk bersiap-siap untuk menemaninya ke kantor. Belajar dari pengalaman, aku memakai baju yang rapi dan pantas supaya tidak malu-maluin. Sarapan juga sudah tersedia di meja makan, sepiring nasi goreng sayur dan segelas jus jeruk. Katanya Arka yang menyiapkan semuanya. Aduh, istri macam apa aku ini, harusnya semua yang dilakukan oleh istri malah diselesaikan oleh Arka.
"Nggak ada namanya begituan di rumah ini, siapapun boleh mengerjakan apapun tanpa tebang pilih dan akan lebih seru lagi kalau bisa dikerjakan bareng," kata Arka sambil menatapku tersenyum.
Arka lalu mengucapkan terima kasih karena semalam aku mengizinkan dia tidur sambil memelukku sampai pagi. Rasanya agak aneh mendengarnya, seperti aku sudah melakukan sesuatu yang sangat luar biasa. Arka juga terlihat lebih sumringah dari biasanya membuat wajahnya semakin enak dipandang. Iya aku akui, rasanya jauh lebih nyaman saat tanpa ragu mempercayakan diri pada orang lain. Sejak menikah, semalam adalah tidurku yang paling berkualitas karena tanpa perasaan was-was dan tanpa beban. Tidurku sangat nyenyak.
Selesai sarapan kami lalu berangkat ke kantor. Supaya nantinya aku tidak bosan, Arka berjanji akan mengajariku beberapa pekerjaan supaya aku bisa membantu pekerjaannya.
"Jadi nanti kamu yang asistenku, aku maunya tiap saat sama kamu terus," kata Arka
"Terus aspri yang sekarang gimana?" tanyaku merasa tidak enak.
"Ya dia tetap kerja di situ, mungkin bisa jadi direktur karena dia sudah paham seluk beluk perusahaan. Dan kedepannya kita kan udah nggak di sini, jadi harus ada pemimpin perusahaan yang baru," kata Arka sangat bijak.
Kami mampir ke apartemen untuk mengambil baju Arka. Aku berniat membawa pulang beberapa setel pakaian kerjanya ke rumah tapi Arka menolak karena dia nyaman dengan rutinitas seperti ini dan rumah juga tidak cukup luas sehingga hanya akan membuat penuh sesak.
"Kenapa kamu nggak tinggal di sini aja?" tanyaku.
"Males kalau harus ke mana-mana naik lift, anggap aja sini rumah singgah biar nggak kejauhan dari kantor," kata Arka sambil berusaha memasang dasinya.
"Mau dibantuin pakai dasi? Biar kayak di film-film," kataku sambil mengambil dasi dari tangannya dan memakaikannya di leher Arka.
Sudah rapi dan kami berangkat ke kantor. Katanya jadwal hari ini ada meeting dengan investor yang ingin menawarkan kerjasama dan menawarkan investasi di perusahaan. Saat kami tiba di kantor, rekanan kerja yang dimaksud ternyata sudah menunggu di ruang meeting. Tentu saja kami bergegas ke sana. Awalnya aku ingin menunggu di ruang kerja Arka tapi Arka memintaku untuk ikut di acara meeting pagi ini.
__ADS_1
Saat membuka pintu, alangkah terkejutnya aku saat melihat ternyata rekanan kerja yang dimaksud adalah Chloe dan Sophie. Sebenarnya aku tidak ada masalah namun kenapa tatapan Chloe padaku seperti harimau kelaparan yang ingin menerkam mangsanya? Aku jadi ragu, apakah aku harus tetap di sini atau mencari alasan untuk pergi saja.